Karya tulis Sahran Raden. (Foto: Syamsu Rizal/ Metrosulawesi)

SIAPA saja yang memotivasi Sahran Raden dalam menulis buku? Lantas apa rahasianya menulis di tengah kesibukan? Berikut wawancara selengkapnya.

Mengapa buku bertema politik hukum Anda sebut sebagai serial dakwah?

Politik hukum itu sebagai basis keilmuan terhadap cara dan teknik pembuatan hukum dalam bentuk undang undang dan peraturan lainnya. Hukum dibuat untuk kepentingan manusia. Maka dalam konteks ilmu politik hukum pembuat hukum hendaknya membuat sesuai dengan kepentingan dan ketertiban serta kesejahteraan manusia. Pembuat kebijakan perlu membuat hukum dalam bentuk peraturan harus lebih mementingkan tujuan hukum yaitu, kepastian, kemanfaatan dan keadilan. Hukum selanjutnya dibuat untuk mengatur pergaulan hidup manusia secara damai. Perdamaian antar manusia dipertahankan oleh hukum dengan melindungi kepentingan hukum seperti kehormatan, kemerdekaan jiwa, dan harta benda dari pihak yang merugikan.

Berapa jam yang Anda dihabiskan dalam sehari untuk menulis buku?

Saya menulis dalam satu hari kadang 2-5 jam. Kadang menulis di malam hari setelah pulang kantor. Menulis itu kadang tergantung mudah atau keinginan kita. Kadang inspirasi muncul ada dikamar mandi, boleh di jalan dan boleh dimana saja. Saya ketika inspirasi itu muncul ya harus segera ditulis. Kalau tidak, bisa hilang dari memori kita.

Anda sibuk sebagai komisioner KPU Sulteng, kapan Anda punya waktu untuk menulis buku?

Sebagai komisioner KPU atau sebagai penyelenggara pemilu tentu kesibukan mengurus dan mempersiapkan tahapan pemilu disiapkan dengan baik. Tugas sebagai penyelenggara pemilu tentu didahulukan dari yang lain. Saya menulis saat pulang kantor, setelah urusan di kantor selesai, di rumah saya menulis sampai malam hari. Kadang dilakukan saat setelah salat subuh atau menggunakan waktu di saat saat belum ada tahapan pemilu.

Dengan segala kesibukan itu, bagaimana Anda menjaga kesehatan?

Bagi saya kesehatan itu hal yang utama, kalau kita sakit tentu tidak bisa bekerja. Saya menjaga makan, rileks dalam berpikir. Minum vitamin dan madu dikonsumsi untuk menambah energi dalam bekerja.
Siapa saja yang memotivasi Anda dalam menulis buku?

Saya menulis karena dimotivasi oleh istri saya, Mardiana H Ismail serta anak-anak saya (empat orang). Mereka adalah energi positif dalam bekerja termasuk dalam menulis. Di luar keluarga ya teman-teman, kolega dan para senior saya yang terus mendoakan dan memotivasi untuk menulis.

Apa enaknya jadi penulis? Apakah penulis buku bisa menghasilkan banyak uang? Atau ada motivasi lain?

Bagi saya menulis itu dinikmati, jadi terasa nikmat apalagi kalau sudah jadi buku, bersyukur atas kesempatan diberi waktu oleh Allah, Tuhan yang maha kuasa untuk menulis. Ya bagi saya menulis buku bukan dari sisi keuntungan finansial, akan tetapi berbagi ilmu untuk suatu kebaikan. Kita dapat dikenang dalam sejarah, jika kita menulis buku. Buku sebagai karya kita untuk dikenang di masa depan. Peradaban-peradaban masyarakat maju di dunia, karena ditulis dalam buku.

Apakah yang Anda lakukan ketika mengalami kejenuhan?

Semua orang pasti mengalami kejenuhan, jika saya mengalaminya ya, saya bawa santai saja. Lebih rileks, menggunakan waktu untuk silaturrahim bersama teman dan kolega atau berkumpul bersama keluarga di rumah.

Apa saran Anda dalam meningkatkan minat baca dan minat tulis di Sulawesi Tengah?

Membaca adalah jendela peradaban dunia. Maka perlu peningkatan minat baca di Sulteng. Dengan membaca kita dapat meningkatkan sumber daya manusia kita. Untuk menumbuhkan minat baca di Sulteng maka semestinya pemerintah daerah mendorong lebih maksimal lagi dalam menumbuhkan dan meningkatkan budaya membaca masyarakat Sulteng. Mulai dari memperbanyak kegiatan membaca, baik di sekolah maupun di rumah, hingga pengadaan sarana dan prasarana seperti penyediaan buku-buku bacaan dan pelajaran, baik di perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah, maupun memperbanyak taman-taman bacaan masyarakat.

Reporter: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas