Home Inspirasi

Dari Aktivis Mahasiswa Hingga Komisioner

Sahran Raden. (Foto: Syamsu Rizal/ Metrosulawesi)

ELITE politik di Sulawesi Tengah hampir pasti mengenal wajahnya terutama mereka yang berkompetisi pada Pemilu Legislatif 2014. Sebab, kala itu pria ini adalah “wasit” pada ajang perebutan kursi jabatan politik di daerah, maupun di pusat. Bersama komisioner lainnya, Sahran Raden berdiri di antara para elite yang sedang bersaing.

Banyak pula yang akrab dengan Sahran Raden bukan nanti menjabat komisioner KPU Sulteng. Mereka adalah kawan-kawannya sesama aktivis mahasiswa pada akhir 1990-an. Memang, Sahran Raden adalah ketua umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Datokarama Palu (sekarang:IAIN Palu) tahun 1996-1997. Dia kemudian menjadi ketua umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Palu tahun 1997-1998.

Selain sebagai aktivis mahasiswa, ada pula yang mengenalnya justru sebatas seorang pendakwah dari masjid ke masjid. Karena itu di jalan-jalan, banyak orang yang menyapannya ustad karena seringnya berceramah di masjid-masjid. Yang pasti, Sahran Raden adalah dosen tetap di Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu sejak tahun 2001. Karena menjabat komisioner KPU Sulawesi Tengah, maka aturan mengharuskannya cuti sementara dari aktivitas dosen.

Beda lagi dengan istrinya Mardiana H Ismail, Sahran Raden tidak lebih dari seorang suami dan ayah bagi empat anaknya. Di mata keluarga, jabatan publik dan berbagai gelar akademiknya tidaklah lebih penting dari penghormatan sebagai kepala keluarga. Sebab, dia adalah nakhoda dalam rumah tangga mengarungi samudera kehidupan. Saban pagi, jika tidak sedang keluar kota, sang ayah akan mengantar anaknya ke sekolah. Dua anaknya masing-masing bersekolah di MTs Alkhairaat dan SD Alkhairaat di Palu. Sedangkan dua lainnya sudah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Pada waktu senggang, sang ayah akan berkumpul bersama keluarga atau pergi berlibur, menepi dari hiruk pikuk pekerjaan.

Sebagai pria muslim, dia menjadi pelindung bagi keluarganya, dan berupaya menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya. Nilai-nilai Islam dia tanamkan sebagai pondasi di lingkungan keluarganya. Dia memang sarjana agama yang diraihnya setelah menyelesaikan studi di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu tahun 1998. Maka tak heran jika dia pernah menduduki jabatan wakil Sekretaris Pengurus Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Palu sejak tahun 2008. Dia juga menjadi anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, tahun 2012-2017.

Tetapi dalam biodata diri, dia menyebut keahlian akademiknya adalah ilmu hukum. Dia memang punya dua gelar sajana. Selain sarjana agama, dia sarjana hukum yang didapatkan dari Universitas Muhammadiyah Palu tahun 2010. Meskipun tamat sarjana hukum di Muhamadiyah, tetapi Sahran Raden sejatinya dibesarkan di Nahdlatul Ulama (NU). Dia bahkan pernah menduduki jabatan Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulteng tahun 2010-2014. Juga sekretaris Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sulteng tahun 2013-2018.

Ilmu hukum yang diperoleh di Universitas Muhammadiyah itu kemudian diperdalam di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar dan meraih gelar magister hukum tahun 2004 dari kampus itu. Sahran Raden yang haus ilmu kemudian melajutkan pendidikan lagi pada Program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

“Sekarang sudah bebas kuliah, sedang mengajukan proposal disertasi. Rencana saya menulis tentang yang pertama Penegakan Hukum Pemilu dalam Penyelesaian Sengketa Administrasi Pemilu yang kedua Pemenuhan Hak Konstitusional Warga Negara dalam Pemilu di Sulawesi Tengah. Semoga ini bermanfaat. Amin,” ujarnya.

Reporter: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas