dr Husaema. (Foto: Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Dinas Kesehatan Kota Palu langsung menurunkan enam puskesmas untuk menangani “keracunan” makanan yang terjadi pada pengungsi di Kelurahan Tipo dan Kelurahan Kabonena, Kecamatan Ulujadi, Sabtu, 19 Januari 2019.

“Makanan itu ada yang dibagi jam 8 pagi dan ada yang dibagi jam 11 siang. Pengungsi yang makan makanan tersebut di dua waktu itu, aman. Tapi ada makanan yang dibagi setelah jam 11 itulah yang menyebabkan pengungsi muntaber,” kata Kepala Dinas Kesehatan, dr. Husaema melalui ponselnya, Minggu, 20 Januari 2018.

“Ada suami istri yang mendapatkan makanan itu, istrinya makan makanan itu pagi hari, namun suaminya makan makanan itu siang. Suaminya yang kena muntaber. Jadi mungkin makanan ini basi. Jadi tidak ada racun dalam makanan itu. Kalau kita analisa, kemungkinan besar makanan itu di masak malam, dibungkus subuh, kemudian dibagikan. Kalau lewat 5-6 jam makanan itu dibungkus, maka akan basi, ada kumannya. Terbukti waktu kami periksa salah satu korban likositnya mencapai 20.000, berarti ada infeksi dalam tubuhnya,” katanya.

Kata dia, dirinya langsung memimpin perawatan para pengungsi yang keracunan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU. Anutapura Palu.

“Saya pimpin bersama tiga dokter. Lalu saya kerahkan enam puskesmas, tiga ke Tipo dan tiga ke Kabonena. Masing-masing petuga puskesmas itu membawa tim, satu dokter, satu perawat, satu bidan dan alat perlengkapan infus,” katanya.

dr. Husaema mengungkapkan dari 42 korban keracunan yang dirawat, tinggal 19 yang menjalani rawat inap.

“Jadi ada 17 orang menjalani rawat inap di RS Anutapura dan RS Alkhairaat tinggal dua orang korban yang menjalani rawat inap dari enam orang sebelumnya yang opname. Yang dirawat di RS Anutapura terdiri dari anak-anak sembilan orang dan delapan orang dewasa. Yang telah pulang delapan orang anak-anak dan 10 orang dewasa,” katanya.

Untuk mengantisipasi agar hal seperti ini tak terulang lagi, dr. Husaema menyarankan memaksimalkan fungsi koordinator lapangan (korlap) kawasan pengungsian.

“Kan di setiap pengungsian itu sudah dibentuk korlap oleh Walikota Palu. Jadi setiap bantuan apapun yang masuk ke posko pengungsian itu, harus melalui korlap. Dan perlu juga dilakukan pelatihan para korlap ini,” katanya.

“Dan korlap ini melihat dari niat baiknya orang untuk membantu para pengungsi, dan kita tidak boleh menafikan hal ini. Cuma kalau makanan yang diberikan kepada para pengungsi itu seperti kasus kemarin, pasti kami akan kewalahan,” katanya.

dr. Husaema mengaku bersyukur atas upaya maksimal dari para dokter, perawat dan petugas kesehatan lainnya yang telah maksimal melakukan penanganan cepat terhadap masalah keracunan ini.

“Alhamdulillah kami sangat bersyukur, kasus keracunan makanan ini tertangani maksimal. Yang jelas kami menurunkan enam ambulance untuk menangani kasus ini,” katanya.

Reporter: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas