Home Hukum & Kriminal

Pelaku Bayar Setengah, Korban Ancam Berteriak

22
ILUSTRASI - PSK di eks lokalisasi. (Foto: Ist)

  • Motif Pelaku Pembunuhan PSK di ‘Tondo Kiri’

Palu, Metrosulawesi.id Pembunuhan pekerja seks komersial (PSK) di salah satu café di eks lokalisasi Tondo, Palu Timur, Kota Palu, Agustus 2020 lalu akhirnya terkuak. .

Pelaku nekat melakukan pembunuhan karena takut korban,  berinisial RK alias RE(34), warga asal Kabupaten Blitar, Jawa Timur, akan berteriak memanggil majikannya serta rekan-rekan seprofesinya.

Pelaku berinisial PAS(30), warga Jalan Talua Konci, Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, diringkus petugas saat barada di Jalan Labuan Beru, Kecamatan Palu Utara, Minggu (13/9/2020). Petugas terpaksa melumpuhkan pelaku dengan timah panas lantaran mencoba melawan dan kabur.

Lantas apa motif pelaku membuhuh wanita penghibur yang bekerja di Café 99 yang berada di areal yang ikenal degan sebutan ‘Tondo Kiri’.

Kepada petugas penyidik di Reskrim Polres Palu, pelaku PAS, mengaku takut lantaran korban yang melayaninya berkencan akan berteriak memanggil orang.

‘’Saya takut pak. Dia mau berteriak dan mengatakan saya tidak mau bayar,’’ ujar PAS  saat menjalani pemeriksaan.

Dijelaskan PAS, dirinya mendatangi eks lokalisasi ‘Tondo Kiri’ seorang diri. Keinginannya semata-mata untuk mlampiaskan nafsunya dengan PSK yag bekerja di café 99. PAS memesan jasa salah satu wanita penghibur yang bekerja di café tersebut.

Pilihannya jatuh pada RK. Sebelum masuk kamar, kedua masih ngobrol di ruang tengah sembari bertransaksi.  Setelah deal, keduanya pun masuk kamar.

‘’Kami sepakat, sekali main dengan 250 ribu. Karena mau larut  malam, dia (korban,red) langsung mengajak masuk kamar,’’ jelas PAS.

Saat akan berhubungan, PAS heran melihat korban tidak menanggalkan semua pakaiannya. PAS meminta korban agar membuka semua pakaiannya. Permintaan tersangka ditolak korban. Korban bersedia memenuhi keinginan pelaku, jika ada ketambahan bayaran dari kesepakatan awal.

Lantaran sudah tidak tahan lagi, pelaku menyetujui keinginan korban dengan menambah lagi setengah bayaran yang sudah disepakati.

‘’Dia minta tambah setengah pak. Jadi sepakatnya 500 ribu. Kami pun berhubungan badan,’’ urai PAS.

Usai berhubungan, PAS hanya menyerahkan uang sebesar Rp. 250.000. Karuan saja Korban protes dan meminta tembahan sesuai kesepakatan. Keduanya pun berdebat. Korban marah dan mengancam berteriak jika tidak diberikan kekurangan bayaran.

Takut korban berteriak memanggil orang. Pelaku pun kalut dan langsung mencekik korban. Korban sempat melawan berusaha melepaskan tangan pelaku di leher. Eelaku semakin gelap mata dan semakin mencekik korban hingga korban lemas dan tidak sadarkan diri.

‘’Dia tidak bergerak, dan saya periksa nafasnya tidak ada. Saya jadi takut pak,’’ ungkap PAS.

Tak ingin ketahuan penghuni café, pelaku pun bergegas kabur. Bahkan, sebelum mennggalkan kamar, pelaku sempat mengambil handphone milik korban,

Handphone milik korban inilah, menjadi salah satu petunjuk tim Ops Reskrim Polres Palu, mengungkap keberadaan pelaku.

Akibat perbuatannya, pelaku bakal dijerat dengan pasal 338 sub 365 (3) dan 351 (3), dengan ancaman ancaman 15 tahun penjara. (*)

Reporter: Djunaedi

Ayo tulis komentar cerdas