Home Donggala

RS Kabelota Krisis Anggaran

66
dr Syahriar. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)

  • dr Syariar: Kami Minta Rp30 Miliar, Yang Turun Rp1 Miliar

Donggala, Metrosulawesi.id – RS Kabelota Donggala mengalami krisis anggaran. Itulah sebabnya, hingga kini rumah sakit milik Pemda Donggala itu tidak mampu membayar insentif sejumlah dokter selama tujuh bulan.

“Kami tidak bisa menahan keluhan para dokter, karena memang ada desakan ekonomi yang mereka butuhkan. Itu benar insentif mereka, tujuh bulan belum dibayarkan,” kata Direktur RS Kabelota, dr Syahriar di RS kabelota, Kamis 10 September 2020.

Selama setahun ini kata Syahriar, pihaknya hanya mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp1 miliar.

“Dana Rp1 miliar itu mana cukup membiayai operasional RS Kabelota,” kata dr Syahriar.

Dikatakannya lagi dengan kekurangan dana oprasioanal, tak membuat RS Kabelota menjadi kolaps, RS Kabelota tetap beroperasi dan membiarkan pelayanan terhadap masyarakat Donggala.

“Saya tetap pertahankan RS Kabelota dengan terus memberikan pelayanan di tengah kekurangan. Kasihan masyarakat Donggala, jika harus berobat keluar. Berapa biaya yang harus dikeluarkan, jika harus berobat ke Palu,” sebutnya.

Mantan kepala Puskesmas Banawa ini menjelaskan dana Rp1 miliar yang dikelolanya hanya habis untuk membeli obat, itu pun masih tidak mencukupi. Olehnya ia berharap peran DPRD dan Tim TPAD memberikan porsi penganggaran yang cukup untuk biaya operasioanl RS Kabelota termasuk insentif dokter.

“Kita punya dokter Spesialis 16 orang. Kita harus siapkan Rp2 miliar selama setahun untuk insentif dokter yang gaji per bulannya mencapai Rp18 juta,” katanya.

Selain dokter spesialis, RS Kabelota juga punya 10 dokter umum. Besaran gajinya Rp7,5 juta per orang per bulan.

Belanja pegawai termasuk perawat tenaga honorer selama setahun bisa mencapai Rp6 miliar. Sementara untuk kebutuhan obat-obatan dalam setahun harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp7 miliar.

“Iya memang kita kekurangan dana. Normalnya itu anggaran RS Kabelota harusnya Rp20 miliar setahun. Kemarin, kami mengajukan Rp30 miliar, tetapi yang turun hanya Rp1 miliar. Kalau ditanya kenapa hanya Rp1 miliar saja, ya tanyakan pada rumput yang bergoyang,” tutupnya.

Seperti diberitakan media ini, Kamis 10 September 2020, sejumlah dokter curhat ke anggota DPRD Donggala, karena insentifnya belum dibayarkan.

Anggota Komisi I DPRD Donggala, Nurjanah yang dimintai keterangan usai melakukan kunjungan kerja di RS Kebelota mengatakan sangat prihatin dengan kondisi RS kebanggaan masyarakat Donggala.

“Para dokter curhat ke kami anggota DPRD, ya sebagai lembaga pemerintah yang mewakili rakyat kami wajib mendengar jeritan tersebut, dan para dokter mengaku belum menerima insentif selama tujuh bulan,” kata Nurjanah.

“Sebagai wanita saya ikut menangis ketika seorang dokter di hadapan kami menangis sambil berkata untuk membeli susu anaknya susah karena insentif belum dibayar,” kata Nurjanah.

Selain insentif dokter katanya, RS Kabelota juga dikabarkan tidak mampu memenuhi obat-obatan. Untuk memenuhi kebutuhan obat katanya, manajemen RS Kabilota masih berhutang.

Nurjanah mengatakan, anggaran operasional RS Kabelota awalnya Rp12 miliar tetapi kemudian hanya tersisa Rp1 miliar. Harusnya kata anggota Fraksi PKS ini, pemerintah melalui tim pengelola anggaran daerah (TAPD) harus memperhatikan anggaran RS Kabelota.

“Sebagai lembaga DPRD akan memperjuangkan anggaran Rp12 miliar untuk dikelola selama setahun. Kalau cuma Rp1 miliar tidak akan bisa membayar biaya operasional RS Kabelota,” jelasnya.

Informasi yang diperoleh Metrosulawesi, jumlah dokter yang bertugas di RS Kabelota ada sebanyak 10 orang. Di antaranya ada yang pernah bertugas dari luar daerah, kemudian bekerja di RS Kabelota. Di tempat tugas sebelumnya, insentif mereka dibayar sebesar Rp25 juta per bulan. Namun di Donggala, insentifnya Rp7,5 juta per bulan.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas