Home Artikel / Opini

Polsek Ciracas Pada Sebuah Subuh

13

DI SUBUH itu ada bara yang dibawa emosi yang membara. Polsek Ciracas yang terletak di Jakarta Timur, itu adalah sebuah nama tiba-tiba mencuat ke permukaan sebagai korban pembakaran.

Kemudian, esoknya, kita pun tahu puluhan orang yang membawa emosi yang membara yang membakar – menghanguskan kantor polisi itu dalam waktu sekejap, ternyata mereka saudara-saudara terbaik kita yang bergelar prajurit. Ya, prajurit kesatria yang memlih larut dengan emosinya yang tak tertahankan.

Cerita malapetaka Ciracas adalah cerita noda yang sudah berulang di negeri ini. Seakan bara Ciracas menjadi kesaksian sejarah untuk meniti sejarah selanjutnya. Entah sudah kesekian kalinya peristiwa memiriskan hati itu menjadi tontonan yang mencemaskan bagi masyarakat yang membanggakan kedua profesi itu. Ada saja persoalan, baik serius maupun sepele, yang membuat anak bangsa–oknum prajurit dan oknum polisi–tiba-tiba bersitegang, bahkan beradu fisik. Tidak sedikit melahirkan korban luka parah hingga kematian. Sebuah kematian yang sia-sia, lantaran kedua belah pihak bukan musuh yang lahir untuk saling menyerang atau untuk saling mengalahkan. Mereka harus bersatu padu dalam menjalankan tugas yang berbeda, demi stabilitas, demi jalannya roda kemajuan bangsa. Mereka penjaga terdepan keamanan – keutuhan bangsa dan pelindung – pengayom masyarakat.

Biasanya setelah peristiwa, para petinggi lembaga negara ini bertemu. Mengesankan kalau mereka tetap saling menghargai. Bersatu menjalankan tugas. Tak ada masalah di antara mereka. Para anggota–baik prajurit maupun polisi–khususnya lapisan bawah juga dipertemukan. Saling cipika-cipiki. Saling rangkul-merangkul. Kerja bakti bersama. Makan bersama sambil bercanda. Bernyanyi bersama. Ketawa-ketawa bersama. Pokoknya damai deh…

Jika memang semua itu lahir dari nurani yang ikhlas. Lahir dari kesadaran yang bertanggung jawab. Lahir dari kedamaian yang merindu. Mengapa melapetaka atau konflik di antara oknum-oknum yang dipersenjatai oleh negara itu terus berulang? Ada apa di antara mereka? Apa maunya mereka? Kapan semua ini berakhir? Pertanyaan dan harapan dari masyakat yang menyaksikan hubungan yang kadang tak harmonis itu, pemerintah yang berkuasa perlu menjawabnya dan mencarikan solusi, agar tidak menjadi bara dalam sekam, agar tidak saling menyimpan dendam.

Saya mendengar dan membaca berita, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa melontarkan nada gagah kepada para penyerang Polsek Ciracas: jika terbukti terlibat, tidak cukup hukuman pidana, tetapi pemecatan dari dinas militer, menunggunya. Kira-kira begitu.

Jalan keluarkah? Tentu Sang Jenderal lebih paham! Rakyat hanya berharap: bara Ciracas, sebuah kesaksian, yang diharap tak berulang kembali. (#)

Ayo tulis komentar cerdas