Home Artikel / Opini

Tjandra oh Tjandra…

25

DJOKO TJANDRA. Tidak gampang menjadi manusia Indonesia seperti Anda. Banyak manusia di negeri ini–sejak zaman Orde Lama hingga Orde Reformasi–yang memilih gaya hidup bagaikan rayap yang menggerogoti uang negara, seperti yang dituduhkan ke Anda, namun Anda lebih “unggul” dibandingkan rayap-rayap sebelumnya. Mereka pada umumnya bergerak dengan cara individualis untuk mencapai mimpi-mimpinya yang tak bermoral itu, sehingga bila mereka tertangkap oleh pihak petugas, biasanya tidak banyak yang terlibat, lantaran memang tidak banyak pihak yang dilibatkan. Berbeda dengan Anda. Begitu cerdasnya, seperti yang terungkap di media selama ini, Anda memanfaatkan atau memperalat oknum-oknum dari lembaga-lembaga resmi negara yang selama ini marwahnya berwibawa. Tidak mudah membelokkan hati seorang jaksa yang selama ini dikenal teguh dalam pendirian sebagai panggilan tugasnya, namun kecerdikan Anda membuat hati yang teguh itu dapat luluh di jalan yang tidak benar, seperti yang Anda kehendaki.

Berhentikah setelah mencoreng nama kejaksaan? Tidak! Lembaga yang memiliki senjata yang selama ini dikenal dapat menangkap seseorang yang melakukan perbuatan kejahatan seperti yang dituduhkan ke Anda, yakni Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, Anda pun berhasil menembus ketahanan lembaga yang super kuat itu. Menyaksikan skenario yang Anda mainkan, kita pun merasa sedang menonton film detektif. Coba bayangkan, bukan oknum-oknum polisi berpangkat rendahan yang Anda pakai sebagai alat untuk melancarkan siasat guna memudahkan mimpi-mimpinya, tetapi oknum berpangkat tinggi, sangat tinggi, super tinggi, bergelar JENDERAL.

Anda mampu memperalatnya. Hebatnya lagi, Anda tidak cukup menodai oknum seorang jenderal yang kini sudah tersangka, tetapi Anda cukupkan tiga jenderal, dua lainnya kini bestatus terperiksa. Merenungi siasat ini, akal sehat kita pun bertanya, betapa teganya Anda menjegal perjalanan kehidupan jenderal-jenderal itu.


LENGKAP sudah noda di negeri ini. Bila memang seorang Djoko Tjandra memilih jalan seperti itu untuk memperkaya dirinya, bagi saya, itu urusan pribadinya, biarkan dia mempertanggungjawabkannya ke negara dan kepada Tuhan-nya. Jika skenario ini benar, maka yang membuat saya prihatin adalah dengan mudahnya oknum jaksa kita, jaksa yang dikenal cerdas dan berwibawa itu, termakan “rayuan” untuk menempuh jalan berliku dan tidak benar. Ke mana pendidikan integritas yang telah dilalui dengan susah payah itu. Ke mana kode etik kejaksaan yang telah dihapal di luar kepala itu. Ke mana nilai-nilai keagamaan yang dianut itu. Semua hancur di hadapan seorang Djoko Tjandra.

Begitu juga dengan oknum jenderal-jenderal itu. Bila benar tuduhan yang berkembang di media akhir-akhir ini, betapa mudahnya diajak untuk dijadikan alat oleh seorang Djoko Tjandra, manusia yang tak berpangkat itu. Merenungi tragedi ini, saya geleng-geleng kepala sebagai pertanda sungguh tidak masuk akal seorang jenderal melakukannya. Sebagai rakyat biasa saya tidak mampu menemukan jawaban: mengapa Bapak Jenderal, sebuah pangkat yang membutuhkan proses panjang untuk meraihnya, dapat terpengaruh dengan pikiran-pikiran yang bertentangan dengan hati nuraninya. Ada apa, Pak Jenderal?

Melihat tingkah oknum jaksa dan oknum polisi berpangkat jenderal itu, saya tiba-tiba teringat sebuah nama, seorang jaksa, yang benar-benar memegang teguh integritasnya hingga akhir hayatnya, yakni Baharuddin Lopa. Juga seorang polisi, mantan Kapolri, yakni Jenderal Hoegeng Imam Santoso. Selama hidupnya yang sederhana itu terus dicintai oleh rakyat lantaran jujur, berani di jalan yang benar, berintegritas. Lalu kenapa oknum jaksa itu tak dapat menjadikan Baharuddin Lopa sebagai teladan dalam hidupnya. Begitu juga oknum jenderal itu, kenapa tak mampu menjadikan Jenderal Hoegeng Imam Santoso sebagai guru polisi yang ideal. Djoko Tjandra oh Djoko Tjandra…. (#)

Ayo tulis komentar cerdas