Home Palu

Ansyar: Pembangunan SDN 1 Tatura Sesuai RAB

31
Gedung C SDN 1 Tatura Palu yang menuai kontroversi. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)

Palu, Metrosulawesi.id – Polemik pembangunan SDN 1 Tatura Kota Palu mendapat tanggapan dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu, Ansyar Sutiadi. Dugaan proyek fiktif dalam pembangunan itu menurut Ansyar tidak mendasar, karena pekerjaan pembangunan SDN 1 Tatura Palu sesuai dengan Rancana Anggaran Biaya (RAB).

Pada tahun 2018, Kemendikbud memberikan bantuan sosial kurang lebih Rp25 miliar untuk pemulihan sekolah di Kota Palu pasca gempa bumi, tsunami dan likuifaksi. Dari total bantuan itu, SDN 1 Tatura Palu mendapat alokasi Rp 1,5 miliar lebih untuk pembangunan tiga lokal dengan total ruangan sebanyak 18.

Menganggap pekerjaan SDN 1 Tatura Palu sudah sesuai dengan aturan, Ansyar Sutiadi merasa dilecehkan dan terhina atas pernyataan dari salah satu anggota DPRD Palu, Marselinus, yang menyebutkan bahwa pembangunan beberapa ruangan di SDN 1 Tatura Palu fiktif.

“Dokumen yang didapatkan anggota DPRD itu tidak di konfirmasi kepada pihak yang berkompeten atau berwenang untuk mengeluarkan statemen. Makanya saya bertanya apa motivasinya Marselinus itu,” imbuh Ansyar, dihadapan sejumlah wartawan di ruangan kerjanya, Kamis, 13 Agustus 2020.

Ansyar tidak paham alasan anggota dewan itu mengeluarkan statemen terkait pembangunan SDN 1 Tatura. Kalau untuk mencari popularitas, bukan seperti itu caranya. Apalagi data yang disampaikan Mercelinus tidak pernah dikonfirmasi kepada dinas pendidikan ataupun pihak terkait.

Di hadapan media, Ansyar memperlihatkan RAB pembangunan SDN 1 Palu. “Semua yang dikerjakan terkait pembangunan SDN 1 Tatura sesuai RAB,” tegasnya.

Sementara itu, mantan Kepala SDN 1 Tatura Palu, Usrin Mustafa saat mengajak media meninjau hasil pekerjaan pembangunan sekolah mengatakan, ruang kepala sekolah, kantor dan perpustakaan yang dituding fiktif adalah ruangan lama yang memang tidak masuk dalam RAB.

“Tiga ruangan itu dalam RAB masuk dalam pembangunan gedung C. Artinya saat perencanaan ruang kepala sekolah memang dipindahkan. Tetapi setelah pekerjaan selesai, sebagai kepala sekolah selaku pengelola merasa ada yang lebih penting menempati ruangan tersebut, sehingga saya memutuskan ruang kepala sekolah dan ruang guru menjadi ruangan pertemuan. Kepala sekolah kembali ke ruang kerja lamanya,” jelas Usrin.

Lanjutnya, kalau ruang kepala sekolah lama yang disandingkan dengan RAB memang tidak ketemu. Sebab ruangan lama itu tidak masuk dalam daftar yang dibangun. “Tidak ada pembangunan fiktif, seluruh yang ada dalam RAB kami kerjakan, hanya saja ada perubahan fungsi saat pekerjaan sudah selesai,” ujarnya.

Usrin juga menyayangkan sikap anggota dewan tanpa konfirmasi lalu mengeluarkan pernyataan. Padahal kalau anggota dewan meminta penjelasan, Usrin mengaku akan menjelaskan detil kepada wakil rakyat tersebut.

“Ruang kerja kepala sekolah yang lama memang tidak masuk dalam pekerjaan, karena rencananya ruangan itu akan dihancurkan. Saat itu saya meminta kepada dinas untuk meratakan ruangan lama, karena menghalangi pandang, sehingga cukup mengganggu. Belum sempat saya menyurat ke dinas, saya sudah dipindahkan menduduki posisi kepala UPTD Palu Barat,” tutur Usrin.

Reporter: Elwin Kandabu, Moh. Fadel

Ayo tulis komentar cerdas