Home Palu

Membangun dari Pinggiran dan Pemberdayaan Ekonomi

45
Aristan. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)

  • Bila Jadi Wali Kota Palu, Apa Yang Dilakukan? (2)

Perhelatan politik lima tahunan di Kota Palu begitu menyita perhatian dan melahirkan banyak perspektif terutama dalam ‘membangun kembali’ kota hampir dua tahun lalu ‘disikat’ serangkaian bencana hebat, gempa bumi 7,4 SR, tsunami dan likuifaksi. Inilah yang menjadi tantangan bagi Aristan-Muh Wahyuddin, pasangan calon wali kota dan wakil wali kota yang diusung Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Berikut laporannya.

ARISTAN, Pria kelahiran Kayumalue, Kota Palu itu mengaku kemunculannya sebagai bakal calon bukanlah secara instan.

“Prosesnya lama, bukan tiba-tiba jadi calon walikota. Prosesnya panjang kurang lebih setahun yang lalu di sebuah diskusi pasca pemilu 2019. Saya jadi pembicara di diskusi tersebut yang diselenggarakan oleh aktifitas pro-demokrasi (Prodem) di Palu,” kata Aristan, beberapa waktu lalu.

Saat itu, kata Aristan, kesimpulan diskusi sederhana waktu itu yaitu hasil pemilu legislatif maupun pemilu presiden tidak akan membawa banyak perubahan bagi kalangan masyarakat bawah karena orientasi pembangunan yang elitis.

“Sehingga teman-teman prodem memikirkan terus apa yang akan dilakukan untuk menyikapi hasil pemilu itu. Tibalah pada kesimpulan bahwa ruang politik yang sedang terbuka ini boleh hanya dikuasai para elit-elit, kekuasaan oligarki tidak boleh dibiarkan tumbuh dan berkembang dan meninggalkan kaum miskin,” katanya.

Karenanya, teman-teman Prodem di Palu memikirkan perlu ‘mengintervensi’ ruang-ruang politik yang sedang terbuka, termasuk momentum pemilihan kepala daerah. Karena itu, konsolidasilah kekuatan saat itu. Tapi itu diskusi ke diskusi yang cukup panjang. Sampai pada kesimpulan prodem di Palu, bagaimana membangun komunikasi ke partai-partai politik untuk mengajukan aktivis menjadi bagian dari pemilihan kepala daerah.

“Saya salah satu yang direkomendasikan oleh teman-teman karena saya kebetulan sebagai ketua partai saat itu, sebagai pelaksana tugas di Nasdem. Rekomendasi datang kepada saya dan dibangunlah kerja konsolidasi untuk persiapan sampai pada kesimpulan partai. Waktu itu partai bingung juga. Partai khan bersifat terbuka, siapa saja bisa menjadi calon kepala daerah termasuk calon walikota,” katanya.

Partai juga mensyaratkan beberapa hal, terutama soal integritas dan soal peluang menang dalam bertarung yaitu popularitas dann elektabilitas.

Kemudian tantangan paling serius bagi kami waktu itu adalah meningkatkan popularitas dan elektabilitas karena sebagai new comer di politik elektoral, maka dibangunlah konsolidasi selama hampir setahun. Mulai dari pertemuan-pertemuan di hampir semua rukun tetangga (RT), membangun relawan-relawan berbasis kelurahan, memasang berbagai alat peraga, kampanye dan sosialisasi berupa spanduk dan sebagainya. Kemudian diukur menurut ukuran ilmiah. Ada tiga-empat kali survei. Terakhir bulan Juli kemarin. Dimulai dari survei tahun 2019 masih kecil sekali yaitu sekitar 3%. Kemudian kita ditantang untuk menaikkan dan sampai Februari naik di atas 10%.

Kemudian karena Covid-19, aktivitas politik terbatas. Kita survei lagi di Juli lalu dan sudah lebih mengerucut karena sudah kelihatan siapa saja kontestannya. Alhamdulillah kita di posisi pertama walaupun rangenya tidak terlalu jauh dengan yang lain. Survei dilakukan sudah dengan pasangan, Muh Wahyuddin (PKS), namun masih di bawah 35%. di survei itu menjelaskan bahwa kita bisa berkompetisi dalam pemilihan ini. Dan itu juga memberikan keyakinan kepada partai dan Wakil Ketua Umum DPP Nasdem H Amad Ali bilang, oke, bismillah kita lanjutkan.

Soal jatuhnya pasangan kepada Muh Wahyuddin (Ketua Umum DPW PKS Sulawesi Tengah) menurut Aristan, merupakan bagian dari dinamika politik. Kedua punya kesamaan pandang tentang Kota Palu ke depannya dengan teman-teman PKS, khususnya ustad Muh Wahyuddin.

Bagi kami sederhana melihat kota ini. Problem yang dialami oleh kita, apalagi pascabencana adalah tidak terurusnya dengan baik kaum pinggiran di Kota Palu dan itu akan menjadi fokus kami. Kita akan fokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat selain apa yang sudah dikerjakan oleh pemerintahan sekarang soal infrastruktur, pembangunan ekonomi dan lain-lain. Kami punya kesamaan pandang bahwa kita akan memprioritaskan soal pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam periode pemerintahan ini. Karena itu yang anggap belum diurusi dengan baik oleh pemerintah. Buktinya penyintas masih banyak, penanganan bencana sangat buruk, serta konflik-konflik yang terjadi. Itu adalah indikator-indikator pemerintah tidak mengurusi secara serius.

TENTANG ARISTAN
Nama: Aristan
Lahir: Kayumalue, Palu 2 April 1969.
Isteri: Rusmin Binti Nurdin Sabantina
Anak: Urib Arya Ruista & Hanif Gafur
Muthahhari
Pendidikan:
1. S1 Fakultas Pertanian Universitas Tadulako
2. SPP-SPMA Sidera
3. SMP Negeri Tawaeli
4. SD Inpres Kayumalue
Pengalaman Organisasi:
1. Plt Ketua DPW Nasdem Sulteng (2018-2019)
2. Ketua Harian DPW Nasdem Sulteng (2014-2017)
3. Ketua Persatuan Rakyat Miskin Sulteng (2004-2006)
4. Dewan Nasional WALHI (2002-2004)
5. Koordinator JATAM Sulawesi (2000)
6. Pengurus Yayasan Merah Putih (1999-2000)
7. Direktur Eksekutif Daerah WALHI Sulteng (1996-1999)
8. Pengurus Evergreen Indonesia (1993-1996)

Sembilan jalan perubahan sebagai jabaran dari visi sederhana yaitu menjadikan Palu sebagai Kota yang demokratis-religius. Pandangan kami, Palu tidak cukup untuk bagaimana menangani untuk menjadi kota berkeadilan bagi kaum pinggiran, maka Palu harus dibangun secara demokratis, artinya bagaimana mengurusi masyarakat dengan mendorong partisipasi masyarakat, keterbukaan pemerintah dan lain-lain. Tapi itu tidak cukup juga harus berlandaskan pada nilai-nilai religius. Karena itu,visi kita demokratis religius.

Problem terbesar di Kota Palu ini adalah membangun kota yang berkeadilan. Palu ini pernah tumbuh menjadi kota dengan pendapatan asli daerah yang tinggi dan pembangunan infrastruktur yang baik. Tetapi kemudian belakangan apa yang kelihatan mewah itu, ada aspek pendapatan daerah, perbaikan infrastruktur itu meninggalkan problem ketidakadilan yang serius. Kemiskinan yang disembunyikan di kota ini. Kaum miskin dan pinggiran banyak di kota ini, yang tidak memiliki pekerjaan yang tetap, kerja serabutan, tidak ada jaminan untuk mendapatkan pelayanan lebih. Hak-hak dasar saja tidak terlalu tertangani dengan baik.

Dalam Tujuh Unggulan Prioritas (7UP), Aristan menjabarkan yaitu stimulasi Rp1 miliar plus setiap kelurahan. Di dalamnya memperhatikan masyarakat yang tidak mampu dan rumah yang tidak layak huni. Program itu terus bergulir selama kepemimpinannya.

Kedua, perbaikan jalan utama, lorong, dalam dan lingkar kota. Dengan memperbaiki akses akan memudahkan pergerakan dan transportasi untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.

Berikutnya adalah pemenuhan kebutuhan air bersih sebagai kebutuhan utama dalam kehidupan. Tentunya ketersediaan air ini penting agar masyarakat Kota Palu terjamin ketersediaan dalam mengkonsumsi air bersih.

Kemudian, soal lapangan kerja. Pasangan ini menyebutkan menyiapkan lapangan kerja bagi 12.000 warga tanpa penghasilan. Dengan demikian akan membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ekonominya.

Aristan juga memprogramkan adanya stimulasi sebesar Rp 1 juta per bulan bagi tenaga kerja honorer daerah.

Selanjutnya, program pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga penyintas yang menjadi korban bencana, 28 September 2018 lalu.

Terakhir, yaitu semua layanan sehari-hari dengan menggunakan sistem aplikasi yang disebut Sistem Informasi Paripurna Terintegrasi (SIMPATI).

Menurut Aristan, kalau problem infrastruktur biasa saja. Pasca gempa memang banyak masalah yang berkaitan dengan banyak kerusakan sarana, prasarana itu mudah diselesaikan oleh pemerintah. Tapi yang sama sekali tidak diselesaikan pemerintah itu adalah mengurusi kaum pinggiran menjadi lebih berdaya. Yang ada selama ini khan program-program yang tidak memberikan kesejahteraan secara mandiri. Itu yang kami fokuskan sehingga masyarakat miskin bisa keluar dari kemiskinan dan lebih berdaya yang selama ini tidak diurusi secara serius oleh pemerintah.

“Kita yakin kalau kota ini bisa melibatkan partisipasi masyarakat secara lebih luas khususnya kaum pinggiran dibangun secara transparan berdasarkan pada nilai-nilai religiusitas, maka kota sebenarnya menjadi kota yang sejahtera, tumbuh berkeadilan,” katanya.

APBD Kota Palu memang tidak besar, tapi kalau dilakukan pengalokasian anggaran yang lebih tepat sebenarnya cukup untuk memperbaiki rumah tangga miskin dan perbaikan ekonomi ke depan. Kita dengan itu. Kita sudah analisis APBD. Kesimpulannya adalah, alokasi anggaran yang tidak tepat membuat APBD tidak efektif untuk memilah dan memulihkan kehidupan masyarakat kota.

SEMBILAN JALAN PERUBAHAN ARISTAN-WAHYUDDIN:
1. Stimulasi pembangunan prakarsa warga dengan dana satu miliar plus tiap kelurahan
2. Reformasi tata kelola pemerintahan untuk pelayanan publik berbasis teknologi informasi atau aplikasi
3. Pembangunan dan rehabilitasi perumahan layak huni bagi penyintas dan warga miskin
4. Pelayanan prima bidang kesehatan dan pendidikan murah, mudah dan merata
5. Membuka akses pekerjaan bagi warga usia produktif tanpa penghasilan, pengembangan investasi, permodalan, dan pemberdayaan UMKM
6. Memenugi standar minimal kelayakan hidup warga kota dengan pola mandiri dan kemitraan
7. Menciptakan suasana perkotaan yang religius, aman, nyaman, dan bersih (RAMAH)
8. Inovasi pelayanan publik berbasis IT dan partisipasi
9. Pengembangan kegiatan keagamaan, kepemudaan, perempuan dan anak.
TUJUH UNGGULAN PRIORITAS (7UP)
1. Stimulasi satu miliar plus setiap kelurahan
2. Perbaikan jalan utama, lorong, dalam dan lingkar kota
3. Pemenuhan kebutuhan air bersih
4. Lapangan kerja untuk 12.000 warga tanpa penghasilan
5. Rp1 juta per bulan bagi tenaga kerja honorer daerah
6. Pembangunan hunian tetap bagi warga penyintas
7. Semua layanan sehari dengan SIMPATI (Sistem Informasi Paripurna Terintegrasi) berbasis aplikasi informasi dan komunikasi.

Reporter: Pataruddin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas