Home Banggai Kepulauan

Demi Beli Pulsa Untuk Belajar, Rela Jualan Bendera Merah Putih di Pelabuhan Salakan

46
Dua bocah SD, Ahmad dan Bayu menjajakan bendera merah putih di Pelabuhan Salakan. (Foto: Metrosulawesi/ Rifan Touk)

Bangkep, Metrosulawesi.id Momen perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke-75, tidak disia-siakan dua bocah dibangku Sekolah Dasar, di Banggai Kepulauan (Bangkep), Sulawesi Tengah, untuk mengais rezeki.

Ahmad dan Bayu,  rela menyita waktu istirahatnya dengan berjualan bendera merah putih di Pelabuhan Salakan, Minggu (9/8/2020). Menjajakan bendera tersebut dilakukan demi  membeli pulsa untuk belajar daring.

Dua siswa yang duduk di bangku SD di Kota Salakan ini, setiap pukul 12.00 Wita sudah berada di Pelabuhan Salakan untuk menjajakan bendera merah putih berbagai ukuran. Kedua siswa kelas lima dan empat SD ini, menawarkan jualannya hingga pukul 15.30 Wita sampai kapal bertolak dari Pelabuihan Salakan di Luwuk.

“Kalau kapal di pelabuhan ini sudah berangkat, terus dengar-dengar ada kapal ferri dari Luwuk, kami pun berpindah ke Pelabuhan Ferri untuk berjualan di situ. Kan kapal ferry biasanya datang nanti sudah sore sekali” Tutur Bayu  yang mengaku anak driver Bentor itu saat ditemui awak metrosulawesi.id di Kantor Pelabuhan Salakan.

Bendera-bendera itu kata Ahmad, adalah milik teman ayahnya yang sengaja dititip untuk dijual menjelang momentum peringatan hari kemerdekaan RI tahun ini. Karena itu, dengan alasan tidak mau merepotkan bapaknya yang bekerja sebagai tukang belah kayu, maka dirinya pun mengajak Bayu  untuk membantunya berjualan.

“Uang sewa yang kami terima dari jualan ini tergantung, kalau banyak yang laku, banyak juga kami dapat. Biasanya sampai Rp. 10.000 untuk dua orang. Lumayan daripada cuma tidur dan bermain? pokoknya, uang itu dipakai untuk jajan dan sebagian disimpan untuk tambah-tambah uang pulsa untuk belajar di handphone” ujar Bayu yang bercita-cita jadi pemain sepak bola profesional itu

Mirisnya kedua anak itu, tidak memiliki smartphone android yang bisa digunakan untuk mengakses materi pelajaran yang biasanya dikirim para guru via media sosial. Sehingga hampir setiap hari, keduanya harus mendatangi rumah temannya untuk menanyakan adanya materi pelajaran dari para guru.

Bayu dengan jujur mengatakan, sejauh ini para guru dalam seminggu sampai dua kali datang ke rumah, khusus buat siswa yang tidak memiliki android untuk memberikan materi atau memberikan tugas. Tapi kegiatan pembelajaran lebih banyak dilakukan dengan menggunakan Smartphone android

“Kami pernah sewa hape orang untuk kerjakan tugas, padahal cuma beberapa jam. Minta dibelikan hape sama orang tua, tidak ada uang. Makanya saya berdoa saja, semoga ada orang baik hati yang bisa belikan kami hape agar belajar bisa lancar”. harap Ahmad  yang berkeinginan untuk jadi chef profesional. Semoga.. (*)

Reporter: Rifan Touk

Ayo tulis komentar cerdas