Home Ekonomi

Suhardi, ‘Insinyur’ Kerajinan Alumunium Berusaha Bertahan di Tengah Covid-19

31
BUTUH MODAL - Suhardi, pengrajin usaha lemari alumunium ini sedang mengerjakan pesanan pelanggan. Usaha rintisannya dari nol ini membutuhkan dukungan permodalan agar tetap bisa bertahan di tengah situasi wabah Covid-19. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)

Laporan: Pataruddin

SEBUAH lapak kayu di Jalan Tanjung I, Kota Palu itu terlihat sepi saat disambangi. Hanya satu orang yang sedang memegang peralatan berupa bor sambil merangkai kerangka lemari alumunium pesanan pelanggan.

Di atas sebuah kayu sederhana itulah Suhardi, pemilik Ardi Alumunium mengerjakan satu demi satu batang alumunium hingga menjadi lemari dengan berbagai keperluan. Ada lemari pakaian, rak piring, dll.

Produksinya dibanderol dua sampai tiga juta. Ada yang dibeli langsung di tempat usahanya. Adapula yang dititip di toko-toko.

Suhardi mempekerjakan dua karyawan. Namun di hari Jumat ini rupanya karyawannya tidak masuk.

Suhardi bercerita, dia sudah menggeluti bidang kerajinan berbahan alumunium sejak 12 tahun lalu. Bahkan berkali-kali ganti ‘bos’. Kondisi itu membuatnya memahami betul ‘isi perut’ bisnis alumunium. Mulai dari jenis, ukuran, sampai harga. Bahkan dia juga menularkan pengetahuan dari pengalaman bertahun-tahun kepada orang-orang.

“Suatu ketika ada arsitek yang meminta saya untuk mengajarinya. Saya bilang, apa tidak salah. Saya ini hanya pendidikan sekplah dasar,” kata Suhardi.

Sang arsitek itu, kata Suhardi kini sudah berkembang usaha meubelnya.

Setelah malang melintang dan pindah-pindah bekerja, Suhardi mulai berpikir membuka usaha sendiri. Bermodalkan modal saat itu sebesar Rp3 juta, dia mulai merintis dan membuka lapak sendiri. Peralatan belum memadai, bahkan untuk siku saja menggunakan potongan alumunium berbentuk siku. Namun kegigihannya, Suhardi secara perlahan melengkapi peralatan seperti bor, mesin pemotong dll.

“Saya tidak menggunakan uang bank (kredit) karena tempat usaha hanya sewa sehingga tidak bisa mengajukan permohonan kredit,” kata Suhardi.

Pasca bencana, hampir dua tahun lalu, usaha Suhardi juga ikut hancur. Lemari pesanan yang ada sudah selesai maupun dalam pekerjaan semuanya rusak dan tidak dapat digunakan lagi. “Kaca-kaca pecah dan lemari sudah tidak bisa diperbaiki. Akhirnya harus dibuang,” kata Suhardi.

Dalam keadaan kesulitan, Suhardi berusaha mencari dukungan modal. Sayangnya, usahanya tidak bisa diajukan untuk mendapatkan bantuan.

Di tengah wabah Covid-19 saat ini, kembali usahanya terganggu. Pesanan menurun sehingga hanya bisa berusaha bertahan.

“Berusaha bertahan agar tetap bisa menjalankan usaha meski pelanggan terus turun,” kata Suhardi. (*)

Ayo tulis komentar cerdas