Home Artikel / Opini

Proud To Be Together

15
MERAYAKAN HUT - Suasana perayaan HUT Ke-24 Bengkel Seni PITATE Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. (Foto: Istimewa)

Oleh: Muhd Nur Sangadji

KOMUNITAS unit kegiatan mahasiswa (UKM) Bengkel Seni PITATE Fakultas Pertanian Universitas Tadulako berulang tahun lagi. Ini yang ke 24 pada Juli 2020. Satu tahun lagi, genap seper empat abad. Malam tadi, mereka mengundang saya untuk beri sambutan. Pada anniversary yang ke 24 ini mereka mengusung tema menarik : “Proud to be togerher”. Bangga menjadi bersama. Atau, bangga dengan kebersamaan. Seperti yang sudah-sudah. Kali ini pun, saya berjanji mendedikasikan satu tulisan untuk mereka. Dan, inilah artikelnya.

Saya tidak tahu apa dasar berfikir mereka untuk mengusung tema itu. Tapi, memang setiap kali saya ada di acara Pitate, terasa benar kebersamaan itu hadir. Ada senior yang melahirkan institusi ini 24 tahun lalu, berbaur dalam nada bersama, bahkan dengan yunior termuda satu tahunan. Muhamad Anas dan Hidayat Tiangso, adalah senior itu. Beberapa yang lain juga hadir. Lembaga ini cukup rajin mereproduksi kader.

Selaku pembina, saya bilang kepada mereka dalam pidato sambutan singkat. Seni itu bukan cuma menyanyi dan menari. Seni itu juga literasi. Karena itu, dalam jalur edukasi kita, dia masuk dalam kategori fakultas sasatra. Di luar negeri jangkauannya menyatu atau menggandeng percabangan ilmu yang luas.


Saya ingat fakultas ku di Universite Jean Moulin, Lyon 3 Perancis. Dia bernama “Faculte de Lettre”. Arti harfiyahnya adalah Surat. Maknanya adalah sastra. Di dalamnya, berhimpun banyak jurusan yang saling berkait.
Di “Faculte de lettre” ini bergabung sedikitnya : jurusan seni, sastra, sejarah, filsafat dan geografi.

Sementara dalam geografi sendiri banyak pengetahuan bisa dipelajari. Antara lain : ilmu geologi, ekologi manusia, ilmu lingkungan, pengembangan wilayah, Sistem informasi geografis (SIG), sosiologi dan antropologi dll. Semuanya terpilah ke dalam geografi fisik dan geografi manusia (humain).

Kebalikan dengan kita yang rajin berlomba membikin fakultas kecil-kecil.
Dahulu, di kampus ku universitas Tadulako. Kami punya fakultas pertanian. Di dalamnya ada jurusan Budidaya Pertanian dan peternakan. Sekarang, fakultas Pertanian itu telah beranak dua. Satunya, fakultas peternakan dan perikanan. Satunya lagi, fakultas kehutanan.


“Togetherness” yang diusung anak-anak bengkel seni pitate ini pecah disini. Di Fakultasnya sendiri. Jadilah, masing masing urus diri sendiri. Padahal, bicara pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan adalah satu kesatuan sistem ekologis (ekosistem).

Hutan yang hilang, mengganggu siklus hidrologi. Lahan pertanian terancam kering karena infiltrasi air terhenti. Aliran air permukaan (run off) meningkat dalam satuan waktu. Volume air Sungai bertambah bersamaan dengan pendangkalan, sebab air juga membawa sedimen.

Luapan tak terhindarkan. Banjir sudah pasti. Dan, terumbu karang di laut tertimbun oleh proses sedimentasi. Ikan dan biota laut bisa punah. Hutan dan pertanian yang hilang pasti mematikan peternakan karena putusnya rantai makanannya.

Begitulah kerjanya alam dalam sistem. Pengabaian terhadap irama alam ini, telah terbukti memunculkan malapetaka di mana-mana. Sayang, kesadaran ini tidak kunjung bertahan lama dalam memori dan perilaku manusia.


Oleh karena itu, diujung sambutan, saya menekankan kembali. Bahwa, seniman dan budayawan dalam sejarah, dikenal tidak pernah menyerah membela hati nurani. Mereka memberi karya dan jiwanya untuk itu.

Sebab itu, di mana-mana kita temui seniman dan budayawan sebagai sosok pembela kebenaran. Menginspirasi dan terus memberi. Mereka sering ada dibelakang kaum lemah dan tertindas. Itu, lantaran mereka menjiwai relung kehidupan dan kemanusiaan. Wallahualam bi syawab. (muhdrezas@yahoo.com/Dosen Pertanian Untad)

Ayo tulis komentar cerdas