Home Inspirasi

Raja Wartabone Dalam Relasi Sosial-Politik Bugis, Suwawa dan di Lembah Sulawesi Tengah (3)

29
ILUSTRASI - Pejuang. (Foto: Ist)

Oleh: Muhlis Hadrawi

Catatan sejarah mengungkapkan, aliran Khalwatiah di Sulawesi Selatan pada awalnya hanya satu macam saja, yakni Khalwatiah yang diperkenalkan oleh Syekh Yusuf melalui murid-muridnya di Indonesia seperti di Banten dan Makassar. Syekh Rappang atau  dalam bahasa Bugis lazimnya disebut pula ‘Puang Rappang adalah tercatat sebagai murid sekaligus khalifah utama Yusuf Makassari di Sulawesi Selatan dan menjadi guru bagi bangsawan Bugis di Sulawesi Selatan; tidak terkecuali Ahmad al-Saleh juga menjadi mengambil jaringan nazab dari Syekh Rappang tersebut. Syekh Rappang disebut-sebut sangat dekat dengan Syekh Yusuf, bahkan menjadi murid terdekatnya. Memang dikenali bahwa Syekh Rapang  bertemu dengan Sykeh Yusuf di Makkah dan menjadi pengikut yang paling setia. Bahkan dia ikut pula bersama dengan Syekh Yusuf ke Banten pada tahun 1678. Setelah penangkapan Seykh Yusuf oleh pihak Belanda, barulah dia pulang ke Makassar dan menetap di Rappang. Puang Rappang atau Abdul Al-Bashir disebutkan meninggal pada tahun 1733. Dicatatkan oleh Ligtvoet (1880: 201), oleh karena kedekatannya dengan Syekh Yusuf, maka jenazahnya  dibawa dan dimakamkan di Gowa di samping  makam Syekh Yusuf di Lakiung.

Syaikh Yusuf Al-Makasari adalah orang yang pertama kali mengembangkan tarekat ini ke Indonesia pada tahun 1670 M.  Yusuf mengenali Khalwaiyah melalui guru bernama  Syaikh Abu Al-Albarakah Ayyub Bin Ahmad Bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi. Dari gurunya  itu pula  serta-merta Yusuf  mendapat sertifikat dan gelar nama  Taj  al-Khalwati sehingga namanya  yang lengkap Muhamad Yusuf Bin Abdullah Abu Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makasari yang berarti ‘Mahkota Tarekat Khalwatiah’. Dari waktu ke waktu kelompok  Khalwatiah mengalami perkembangan dimana pengikutnya terus mengalami peningkatan. Pada sisi yang sama, ajarannya menjelma menjadi thuruq atau kelompok tarikat di dalam masyarakat khususnya di Sulawesi Selatan  dengan aliran yang baru itu kemudian dikenal dengan Khalwatiah Samman.

Dalam perjalanan kehidupannya Yusuf Al-Makasari dicatatkan sempat belajar beberapa tarekat diantaranya tarekat Qadiriyah dan mendapatkan ijazah langsung dari Al-Raniri. Beliau kemudian belajar tarekat Naqsyabandiyah dari Muhamad Bin Abd Al-Baqi Al-Mizjaji Al-Naqsyabandi (w. 1074 H/1664 M). Al-Makassari juga sempat belajar kepada Syaikh Maulana Sayyid Ali Al-Zabidi dan dari gurunya ini diduga Al-Makassari mendapat ijazah Tarekat Ba’alawiyah, kemudian dari Mullah Ibrahim beliau mendapatkan ajaran tarekat Syattariyah. Terakhir Al-Makassari belajar kepada Syaikh Abu Al-Barakah Ayyub Bin Ahmad Bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi yang sekaligus memberikan gelaran  Yusuf dengan taj al-khalwati. Syekh Yusuf kemudian menerima ijazah tarekat khalwatiah dari gurunya tersebut.

Tudjimah (1987) mengungkapkan bahwa karya atau buah tangan Yusuf al-Makassari ditulisnya dalam bahasa Arab yang hampir seluruh karyanya membincangkan tasauf serta kaitannya dengan ilmu kalam. Tidak sedikit karya Yusuf  Al-Makassari merupakan refleksi dari karya sufi Al-Ghazali, Junaidi Al-Baghdadi, Ibnu Al-Arabi, Al-Jilli, Ibnu Atha’allah, dan gurunya yang lain. Hal itu terlihat pada konsep utama tasawuf Al-Makassari adalah pemurnian kepercayaan (aqidah) pada keesaan Tuhan. Ini merupakan usaha Yusuf al-Makassari mengutamakan konsep tauhid mengenai keesaan Tuhan dan mutlak dalam menjelasan transendensi Tuhan atas ciptaan-Nya. Konsepnya adalah seperti paham yang berpegang teguh pada transendensi Tuhan, percaya Tuhan sebagai segalanya (al-Ahattah) dan ada di mana-mana  (al-Ma’iyyah) atas ciptaan-nya. Menurut Yusuf al-Makassari “ungkapan” Tuhan dalam ciptaan-Nya bukanlah berarti kehadiran “fisik” Tuhan dalam diri mereka. Dengan konsep al-ahathah dan al-ma’iyah tuhan turun (tanazzul), sementara manusia naik (taraqqi), suatu proses spiritual yang membawa keduanya semakin dekat. Namun proses itu tidak akan mengambil bentuk dalam kesatuan akhir antara manusia dan Tuhan; sementara keduanya menjadi semakin dekat berhubungan dan pada akhirnya manusia tetap manusia dan Tuhan tetap Tuhan. Dengan demikian Yusuf al-Makassari kelihatan-nya menolak konsep wahdat al-wujud (kesatuan wujud) dan  al-hulul  (inkarnasi ilahi). Tuhan tidak dapat diperbandingkan dengan sesuatu apa pun (laisa ka mitslihi syai’).

Syeks Yusuf mengambil konsep wahdat al-syuhud (kesatuan kesadaran atau monisme fenomenologis). Dengan hati-hati beliaulah yang merenggangkan diri dengan dokrin wahdat al-wujud Ibnu-Arabi dan doktrin al-hulul Abu Manshur Al-Hallaj serta mengambil doktrin wahdat al-syuhud  yang dikembangkan Ahmad Al-Sirhindi dan Syah wali Allah. Ciri yang paling menonjol dari teologi Al-Makassari mengenai ke-Esa-an Tuhan adalah usahanya untuk mendamaikan sifat-sifat Tuhan yang tampaknya saling bertentangan. Tuhan, misalnya, mempunyai sifat yang pertama (al-awwal) dan yang terakhir (al-akhir), sifat-sifat yang lahir (al-zhahir) dan yang batin (al-batin), yang memberi petunjuk (al-hadi) tetapi juga yang membiarkan manusia tersesat (al-mudhil). Semua sifat-sifat ini tampaknya saling bertentangan. Ini harus dipahami sesuai dengan keesaan Tuhan sendiri. Jika menekankan yang satu dengan mengabaikan yang lain akan membawa kepada keyakinan dan amalan-malan yang salah.

Hakikat Tuhan adalah kesatuan dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan itu dan tak seorang pun memahami rahasianya, kecuali mereka yang telah diberi pengetahuan oleh Tuhan sendiri. Dalam teologinya, al-Makassari sangat patuh pula kepada doktrin Asy’ariyah. Dalam hubungannya dengan keyakinan yang sempurna pada keseluruhan rukun iman beliau mengimbau kaum muslimin untuk sepenuhnya menerima makna yang mendua dari beberapa ayat al-Qur’an (al-ayat al-mutsyabihat).

Al-Makassari membagi kaum beriman ke dalam empat kategori. Pertama, orang yang hanya mengucapkan syahadat (pernyataan iman) tanpa benar-benar beriman, dinamakan orang munafik. Kedua, orang yang mengucapkan syahadat dan menanamkannya dalam jiwa mereka dinamakan kaum beriman yang awam (al-mu’min al-awamm). Ketiga, orang yang beriman yang benar-benar menyadari implikasi lahir dan batin dari pernyataan keimanan dalam kehidupan mereka, dinamakan golongan elit (ahl-khawashsh). Keempat, adalah kategori tertinggi orang beriman yang keluar dari golongan ketiga dengan jalan memperbanyak syahadat mereka terkhusus dalam mengamalkan tasawuf agar semakin lebih dekat dengan Tuhan. Golongan ini kemudian khashsh al-khawashsh.

Adapun ajaran-ajaran dasar Tarekat Khalwatiyah adalah sebagi berikut:

  1. Yaqza : kesadaran akan dirinya sebagai makhluk yang hina di hadapan Allah SWT. Yang maha agung.
  2. Taubah : memohon ampunan atas segala dosa.
  3. Muhasabah : introspeksi diri.
  4. Inabah : berhasarat kembali kepada Allah.
  5. Tafakkur: merenung tentang kebesaran Allah.
  6. I’tisam : selalu bertindak sebagai khalifah Allah di bumi.
  7. Firar : lari dari kehidupan jahat dan keduniawian yang tidak berguna
  8. Riyadah : melatih diri dengan beramal sebanyak-banyaknya.
  9. Tasyakur: selalu bersyukur kepada Allah dengan mengabdi dan memuji-Nya.
  10. Sima’: mengonsentrasikan seluruh anggota tubuh dalam mengikuti perintah- perintah Allah terutama pendengaran.

Di Sulawesi Selatan,  Khalwatiayah Samman sebagaimana yang dikenali dari dalam catatan-catatan sejarah dikembangkan oleh Haji “Abd Razak Puang Palopo. Aliran ini muncul kemudian setelah kemunculan Khalwatiah Yusuf dan disinyalir  dengan mudah  diintegrasikan ke dalam jaringan Khalwatiah Yusuf yang sudah ada sebelumnya. Penghijrahan murid-murid Syekh Yusuf ke Makassar, seperti Yusuf Bogor yang kemudian menjadi bagian utama dalam sejarah penyebaran ajaran-ajaran Syekh Yusuf di Sulawesi Selatan. Sementara itu, pengembang ajaran Syekh Yusuf di Sulawesi Selatan pada awalnya, selain dilakukan oleh para muridnya, juga digiatkan oleh keturuannya sendiri, yaitu Muhammad Jalal. Penyebaran ajaran Syekh Yusuf dengan tasawuf Islam berdasarkan ajaran-ajaran Khalwatiah berkembang pesat di Sulawesi Selatan melalui murid-muridnya, salah satu basis pengembangannya adalah istana-istana kerajaan Bugis dan Makassar.

Kesufian La Bunue Wartabone  Terhubung Dalam Nazab Syekh Yusuf

La Tenritappu Ahmad al-Saleh menjadi bagian dari jaringan Khalwatiah yang berkembang di kalangan  aristokrat Bugis dan Makassar. Memanglah adalah seorang raja Bone yang menjadi pengagum besar  ajaran-ajaran Syekh Yusuf Taj Al-Khalwatiah; bahkan menjadi bagian penganut khalwatiyah. La Tenri Tappu sebagai raja Bone ke-23 kemudian memperkenalkan pula khalwatiyah kepada sesama bangsawan dan sahabat terdekatnya kalangan aristokrat, termasuk kepada La Bunue.  La Bunue  mendalami tarikat Khalwatyah versi  Syekh Yusuf al-Makassary semasa ia berkunjung ke istana Bone di Rompegading  antara tahun 1781 sampai 1803.

Catatan lontara menyebutkan bahwa La Bunue di samping belajar kepada Ahmad al-Saleh, ia belajar langsung kepada khalifah Khalwatiah  kharismatik yang bernama Puang Lallo atau Sayed Muhammad Zainuddin. Secara khusus, nama La Tenri Tappu Ahmad al-Saleh mendalami tasawuf dalam tarikat Khalwatiah yang kemudian kepakarannya ditandai dengan karya yang ditulisnya sendiri yang berjudul  Tajang Patiroang  atau  “Nurul al-Hadi”. Risalah Tajang Patiroang La Tenri Tappu tersebut membincangkan tasawuf dalam ajaran Khalwatiah  yang diikuti tuntunan zikir lengkap dengan wiridnya. Fakta La Tenri Tappu memberikan kesan bahwa pihak aristokrat Bugis di istana-istana, turut memegang peranan yang sangat penting dalam produksi pengetahuan dan literatur Islam di Sulawesi Selatan. Beberapa raja Bugis  lainnya juga tidak saja dikenal sekadar melaksanakan tugas kerajaan mengurus politik dan pemerintahan, namun  ia juga melahirkan karya risalah kesufiannya (Hadrawi, 2016:19-20).

Sebuah naskah lontara  yang berjudul ‘Tarekat Khalwatiah Muhammad Sammani’ milik Andi Seniman (diperoleh tahun 1997)  codeknya berasal dari  Kota Watampone menguraikan silsilah penganjur Tarikat Halwatiah Sammani. Teksnya memberikan pentunjuk nama guru penganjur tarikat Khalwatyah yang menjadi jalur nazab menimba ilmu agama La Bunue.  Urutan-urutan nama penganjur Tarikat Kahlwatiah terdeskripsikan dengan detail dari penganjur terakhir (yang dicatat) hingga nazab tertinggi yaitu Nabiullah Muhammad SAW.  Naskahnya memiliki kemiripan isi dengan beberapa naskah yang terdapat pada naskah dalam katalog naskah ANRI Sulsel. Adapun susunan penganjur Khalwatiah Yusuf tersajikan dalam terjemahannya  yang menyesuaikan dengan silsilah yang dirumuskan oleh Hamid (2005:223-224).

Tuhan Yang Maha MuliaMaha Besar
Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam
Sayyidina Aliy ibni Abi Thalib Karramallahu
Hasan Al-Basri
Quthub al-Gauts Habib al-Ajami
Quthub  Daud al-Thani
Abu al-Mahfufuz Ma’ruf al-Kahri
Khan Sirri as-Saqthi
Sayed al-Thaifa Junaid al-Bagdadi
Mamsyad ad-Daenuri
Abu Ahmad Aswad ad-Daenuri
Muhammad Ibnu Abdullah  as-Siddiqi
Wahyuddin  Umar Ibnu Abdullah as-Siddiqi
Abu Najid Ibnu Abdullah as-Siddiqi
Quthubuddin Muhammad al-Abhari
Ruknuddin al-Syayasyi
Mullah Syahabuddin Muhammad al-Tibrizi
Mullah Jamaluddin al-Tibrizi
Mullah al-Zahid al-Jaelani
Abu Abdullah Muhammad al-Syarwani
Maulana Affandi Umar al- Khawati
Maulana Sayed Yahya al-Syarwani
Maulana Affandi Subair bin Arrumi bin Umar ar-Rumi
Maulana Muh. Anshari Abdullah al-Qarni
Maula Uwais al-Qarni Tasani
Mulla Syamsuddin al-Rumi
Mulla Idrus al-Rumi
Abi Yusuf Ya’qub al-Antabi
Ahmad al-Rumi
Wali al-Halbi al-Ajani
Syihab Ahmad Ibnu Umar bin Ali
Abu Barakat Ayyub Ibnu Ahmad  al-Khalwati
Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makassari
Abul Fathi Abdul Bashir Tuang Rappang
Abu Saad al-Fadil al-Khalwati
Abdul Majud Nuruddin Ibnu  Abdillah
Sayed Abd. Gaffar Waliyuddin (Kadhi Bontoala)
Sayed Muh. Zainuddin (Kadhi Maros dan Bontoala) (tempat berguru La Bunue Raja Wartabone)
Sayeh Abdul Kadir
Sayed Abdul Rahman as-Sakaf (Kadhi  Maros)
Badiu as-Samawat
Sayed Abd. Rahim Ibnu Thalib Ali Ibnu al-Kadhi Sayed Abd. Rahman (Puang Lolo)
Sayed  K.H. Jamaluddin as-Sakaf (Puang Ramma)

Berdasarkan pada tabel silsilah Khalwatyah Yusuf tersebut dapat diidentifikasi bahwa La Bunue belajar langsung kepada  Sayed Muhuhammad Zainuddin yang dikenali sebagai  khalifah Sanad atau nazab Khalwatyah di Sulawesi Selatan. Bahkan diduga kuat lebih awal belajar kepada  nazab yang di atasnya lagi adalah Sayed Abd. Gaffar Waliyuddin yang menjabat sebagai Kadhi Bontoala lebih awal. Adapun nama Sayed Muhammad Zainuddin pada masa kehadiran La Bunue di Rompegading tahun 1781-1803 memegang jabatan sebagai Kadhi Maros dan Bontoala. Jika merunut nazab  penganjur Khalwatyah Yusuf, maka  terbaca bahwa Guru Sayed Muhammad Zainuddin adalah Syaeh Abdul Gaffar Waliyuddin yang menjadi Kadhi Bontoala. Sayed Muh. Zainuddin berguru kepada Abdul Majud Nuruddin Ibnu  Abdillah; Abdul Majud Nuruddin Ibnu  Abdillah berguru kepada Abu Saad al-Fadil al-Khalwati; Abu Saad al-Fadil al-Khalwati berguru kepada Abul Fathi Abdul Bashir Tuang Rappang; Abul Fathi Abdul Bashir Tuang Rappang berguru kepada Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makassary.  Sementara itu menurut silsilahnya dan sejalan dengan Hamid (2005), Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makassary berguru langsung kepada penganjur khalwatyah ketika menunaikan haji di Makkah bernama Abu Barakat Ayyub Ibnu Ahmad  al-Khalwaty.

Hingga di sini dapat tarik kesimpulan bahwa jaringan keagamaan  yang didalami oleh La Bunue Wartabone semasa ia tinggal di Makassar sebagai tanah menuntut ilmunya adalah bersumber dari jaringan Khalwatyah Yusuf. Hal itu didukung oleh data sanad yang tersusun rapih dan jelas hingga ke Nabi Muhammad SAW. Jaringan keagamaan Khalwatyah yang dikembangkan Syek Yusuf di Makassar, membentuk solidaritas kelompok keagamaan yang sangat kuat dan jaringannya meluas kepada masyarakat umum pada versi Khalwatyah Samman dengan tipe tarikat yang lebih egaliter. Sesuai dengan data yang tercantum pada silsilah penganjur Khalwatyah Yusuf terbaca nama penganjur yang terakhir adalah bernama Susunan Sanad yang dimaksudkan tersusun dengan rapih tahap per tahap  dari puncaknya yaitu  Rasulullah SAW yang turun hingga penganjurnya yang terakhir  Sayed  K.H. Jamaluddin as-Sakaf  atau yang lebih dikenal dalam sapaan Bugisnya ‘Puang Ramma’.

Terbaca pula pada tabel di atas bahwa La Tenritappu bersama-sama La Bunue Wartabone menjadi pribadi penganut Khawatiyah sebagaimana ciri yang dikembangkan Syekh Yusuf Al-Makassari (1626-1699) yang berkembang di Sulawesi Selatan. Adapun Tarekat Khalwatiah Syekh Yusuf muncul sejak abad ke-17 dibawa ke Sulawesi Selatan dan dikembangkan oleh  Syekh Rappang atau Abdul Bashir Tuang Rappang.  Setelah Tuang Rappang meninggal dunia, pewarisan khalifah penganjur Khalwatyah Yusuf diteruskan lagi oleh Abu Saad al-Fadil al-Khalwati. Kepewarisan generasi ke generasi penganjur Kahlwatyah Yusuf tetap berlanjut secara tertib hingga memasuki abad ke-20.

Personaliti  Wartabone  Terwariskan Kepada  La Iboerahima

Sosok Raja Bone La Tenritappu secara pribadi tampil sebagai tokoh aristokrat sekaligus agamawan yang mendalami tarikat Khalwatiyah Samman, kemudian diikuti oleh sahabat dan murid-muidnya yang pada umumnya berlatar belakang bangsawan (Ubaedillah, 2017). Sosok yang sama juga diperankan oleh La Bunue alias Wartabone. Personaliti La Bunue alias Wartabone semasa hidupnya dikenali sebagai raja Suwawa, pada sisi yang sama ia tampil sebagai tokoh agama yang mendalami Islam melalui jalan tarikat. Pengaruh Wartabone meluas ke pelbagai wilayah, mulai dari Suwawa hingga merambahi wilayah Sulawesi Tengah melalui putranya bernama La Iboerahima.

Meskipun tidak banyak hal yang dapat dikorek mengenai sosok Wartabone, namun hal lebih pasti dikenali adalah Wartabone tampil sebagai seorang aristokrat sekaligus sufi. Personaliti itu rupanya diwariskan  kepada anak sulungnya bernama La Iboerahima. La Iboerahima adalah putra mahkota kerajaan Suwawa (Gorontalo) mewarisi ketokohan ayahandanya terutama sebagai seorang sufi. La Iboerahima dikenali sebagai tokoh  penganjur agama Islam di Lembah Palu pada pertengahan abad ke-19 Beliau memiliki wibawa yang kuat dan meneguhkan harga dirinya (siri’) sehingga ia menunjukkannya dengan menolak  bekerjasama dengan Belanda dalam bentuk apapun.

Oleh karena diintervensi politik Belanda yang tidak dapat ia bendung lagi, sehingga beliau  memilih  meninggalkan tahtanya di kerajaan Suwawa dan memilih berhijrah ke Suawesi Tengah.  Sulawesi tengah kemudian wilayah pengabdiannya yang terpenting dengan mewarisi kuasa ayahandanya di Ampana, Tojo dan Bokang. Tiga daerah ini sememangnya telah dilegitimasi secara politik oleh Raja Bone La Tenritappu  kepada ayahandanya, Wartabone,  sebagai pemegang kuasa.  Sesuai dengan sistem konvensihukum Bugis yang disebut ‘wari’ maka kepewarisan kuasa pada tiga toponimi Sulawesi Tengah yaitu Ampana, Tojo, dan Bokang  dari wartabone kepada La Iboerahima adalah yang semestinya. Itulah sebabnya sehingga ketika beliau berhijrah ke tanah Sulawesi tengah La Iboerahima mewarisi kuasa di Ampana, Tojo, dan Bokang. Beliau pun  kemudian dikenali sebagai pendiri masjid di pulau Unauna sebagai tanda peran dan tempat menjalankan tugas-tugas keulamaannya.

Haliadi (2016) mengungkapkan bahwa  La Iboerahima memiliki seorang istri di Suwawa Gorontalo bernama Nahaya. Dari istrinya itulah ia kemudian menurunkan anak-cucu bermarga Wartabone di Gorontalo.  Beliaulah yang menjaga dan mewarisi penyatukan tiga kerajaan di Gorontalo yaitu Suwawa, Bone Bolango dan Bintauna yang kemudian melebur menjadi nama baru ‘Bone Suwawa’. Ketika berada di rantau Palu, La Iboerahima melanjutkan kehidupannya dan ia kawin lagi dengan perempuan di Ujuna Palu dengan seorang gadis bernama Roneama. Dari istrinya Roneama inilah, ia kemudian melahirkan keturunan bermarga Wartabone di Sulawesi Tengah yang semakin lama semakin meluas jejaring kekerabatannya.  

Di dalam silsilah seperti yang diuraikan Haliadi (2016) menunjukkan bahwa La Iboerahima memiliki dua orang istri lagi, yaitu seorang perempuan cantik dari  Togean, dan seorang lagi perempuan manis dari Una-Una. Membaca La Iboerahima dalam pelbagai sepak terjangnya di kawasan Lembah Palu kemudian dapat disimpulkan kalau beliau memanglah mennjadi tokoh yang sangat penting dalam pertumbuhan  politik kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah. Namun hal  yang lebih penting diketahui tentang beliau adalah dirinya memiliki keterkaitan darah dan politik dengan  bangsawan  tinggi di lingkungan kerajaan Bugis  Bone di Sulawesi Selatan  (Haliadi, 2016:213).

Penutup

Satu hal yang perlu dicatat dari warisan politik Wartabone hingga La Iboerahima adalah, beliau dan anak cucunya berhasil mengembangkan hegemoni hingga ke Sulawesi Tengah dengan dukungan politik dari kerajan Bugis Bone dari Sulawesi Selatan. Kerajaan yang perlu dicatat di antaranya adalah Bolano dan Moutong. Kerajaan Bolano pada paruh akhir abad XIX hingga memasuki XX yang pada masanya bertepatan dengan era pendudukan Kolonial Belanda di Sulawesi Tengah. Situasi Bolano pada masa itu serta-merta mengalami kemunduran politik. Namun, fenomena lain yang terlihat adalah kemunculan kerajaan baru seperti Moutong  yang kemudian justru mengalami perkembangan pesat. Moutong dalam perjalanannya kemudian di era dicatatkan sebagai sebuah kerajaan yang lagi-lagi mendapatkan  legitimasi politik dari kerajaan Bone.

Dalam perspektif politik, hal lain yang lebih penting lagi dicatat adalah sebuah bendera kerajaan Moutong  yaitu bernama “Samparaja” yang memiliki panji-panji yang terkait dengan simbol dari kerajaan Bugis Bone. Nama Samparaja ini tidak lain adalah penamaan  yang disalin dari nama bendera perang yang paling disegani dalam kerajaan Bone yang bernama Samparajae. Di dalam kerajaan Bone, bendera Samparajae itu merupakan panji induk pasukan Bone yang hanya dikerahkan oleh kerajaan Bone untuk  menghadapi musuh berat.  Pada sisi yang sama,perkembangan sosial kerajaan Moutong dari masa ke masa pun tidak terlepas  keberadaan orang-orang Bugis dan Mandar sebagai bagian dari pemukim-pemukim setempat. (*)

Ayo tulis komentar cerdas