Home Inspirasi

Raja Wartabone Dalam Relasi Sosial-Politik Bugis, Suwawa dan di Lembah Sulawesi Tengah (2)

36
ILUSTRASI - Pejuang. (Foto: Ist)

Oleh: Muhlis Hadrawi

PALING tidak, ada lima hal  yang terkandung di dalam teks surat lontara tersebut: 1) pertama, surat berasal dari Raja Bone yang ditulis oleh Petta Pakkenynyarang seorang bangsawan dari Pasempe’ yang menjabat sebagai Tomarilaleng kerajaan Bone; 2) kedua, surat itu diberikan kepada seseorang yang bernama La Bunué yang akan berangkat ke Sulawesi Bagian Tengah. Nama La Bunue adalah kata dalam logat Bugis yang digunakan sebagai nama diri yang sebenarnya tidak lain adalah Wartabone sesuai yang tercatat di dalam surat tersebut; 3) ketiga, kedatangan La Bunue di Istana Bone adalah kunjungan dengan misi untuk memperoleh legitimasi politik dan kekuasaan dari Raja Bone; 4) keempat.  Kelima, surat itu mengukuhkan kedudukan politik dan kuasa La Bunue secara pribadi sebagai representasi dari Raja Bone, sehingga perlakuan yang diterima oleh La Bunue dari pihak siapa pun, baik atau buruknya, sama halnya dengan memperlakukan Raja Bone; 5) kelima, La Bunue memperoleh kewenangan politik secara penuh untuk memimpin Ampana, Tojo dan Bokang.

Berdasarkan catatan surat lontara yang diterima La Bunue di istana Bone pada tahun 1220 H adalah masa menjelang kepulangannya ke Sulawesi Tengah. Beliau tercatat sudah mendarat di Bone sejak tahun  1195 H atau 1781 M; jika mengonversi angka hijriah 1220 itu ke tahun Masehi berdasarkan metode Klinkert, maka diperoleh angka tahun 1803 Masehi. Berdasarkan angka tahun 1220 atau 1803 itu maka secara pasti surat yang berbubuhkan cap Raja Bone itu yang diberikan La Bunué ditulis oleh Arung Pasempe Petta Pakkenynyarangnge. Sesuai pada daftar struktur kerajaan Bone, La Tenri Tappu menduduki singgasana (amangkaukeng) Kerajaan Bone antara tahun 1775 sampai 1812 dengan menempatkan istananya di Rompegading.

Data yang tersurat di dalam surat itu yang berkenaan dengan identitas La Bunue memiliki relevansi data pada manuscript lainnya yaitu Lontara Bilang atau Catatan Harian La Tenritappu sendiri yang terdapat di dalam dokumentasi British Library dalam kode Add 12365. Di dalam Lontara Bilang atau Catatan Hariannya itu, Raja  Bone menuliskan bahwa  ‘Arung La Bunue atau Raja La Bunue tiba Makassar dari perjalan jauhnya menempuh lautan mendaratkan perahunya di pelabuhan Makassar. La Bunue  kemudian datang ke istana Bone Rompegading diantar oleh Syahbandar pelabuhan untuk menghadap langsung kepada La Tenri Tappu, Raja Bone.

(Senin 16 Maret 1781 M/ 20 Rabiul Awal 1195 H)

Sabennarae pate’i  Arung  La Bunue/ Sitai’ ulaweng nawawangangnga’/ uwerengngi Ca’ mukka’ ulappessangenna eppona riasengnge I Cabakka/ Nappasabbia’ boena Batara Tungke’ ripawerekkengenna ri to Mabbicarae atongengenna ri 110 reala’na/

( Syahbandar datang mengantar Arung  La Bunue/ Satu tail emas ia serahkan kepadaku / Aku beri Cap setelah Saya membebaskan cucunya bernama I Cabakka/ Paman Batara Tungke’ mempersaksikan kepadaku setelah Hakim memberinya 110 real /)

(Sumber: British Library, kod. Add BL 12356).

Peristiwan kedatangan La Bunue itu menurut catatannya bertepatan pada hari Senin tanggal 20 Rabiul Awal 1195 Hijriah. Di dalam surat tersebut mengungkapkan kalau Arung La Bunue datang mengadap kepada Raja Bone dengan membawa pula hadiah berupa emas 1 tail (tai’) kepada Raja Bone sebagai tanda pengabdiannya kepada Raja Bone. Kedatangan Arung La Bunue di istana Bone berdasarkan data Lontara Bilang dan surat tersebut, beliau bertempat tinggal di Rompegading selama kurang-lebih 22 tahun lamanya yaitu tahun 1195 H hingga 1220 H atau dalam konversi masehinya adalah 1781 hingga 1803 M. Sebagaimana yang tertera di dalam surat lontara yang menuliskan bahwa tahun 1220 H atau 1803 M kemudain beliau pun pamit untuk kembali ke negerinya di Sulawesi Tengah. Selama keberadaannya di Bone selama 22 tahun itu, La Bunue belajar risalah agama kepada Ahmad al-Saleh dan pada Kadi Bontoala dan Kadi Maros.

Surat itu mengungkapkan masa kembalinya La Bunue ke kampungnya pada tahun 1220 H sekaligus Ia memeroleh legalitas dari Raja Bone untuk menjadi penguasa Ampana, Tojo dan Bokang. Oleh sebab itulah masyarakat setempat di Ampana, Tojo dan Bokang kemudian memanggilnya dengan nama Arungpone yang artinya ‘raja Bone’.

Surat itu yang dibubuhi cap atau stempel resmi, secara simbolik menjadi legitimasi kuasa Raja Bone kepada La Bunue untuk memimpin kerajaan ke wilayah Sulawesi Tengah yang menjadi amanah Raja Bone kepadanya. Nama kerajaan yang diamanahinya seperti tertuang di dalam surat itu adalah Tojo, Ampana (Yampana) dan Bokang. Surat itu jelas memberikan kewenangan politik kepada La Bunue menjalankan tugas politik  dan pemerintahan sebagai wakil  baligau’ Raja Bone.

Kandungan surat itu, sesungguhnya sejalan dengan hal yang dikemukakan oleh Mumbu  (1984) bahwa, surat itu adalah tidak lain adalah sertifikat kekuasaan yang menjadi penanda hak berkuasa untuk La Bunue dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan sebagai wakil raja Bone. Kerajaan Bone yang disebutkan sebagai asal-muasalnya tidak lain adalah kerajaan Bugis paling berwibawa di Sulawesi Selatan sejak abad ke-17 setelah memenangi Perang Makassar 1667, memegang hegemoni politik Sulawesi Selatan hingga Indonesia memasuki masa kemerdekaan.

Wartabone Pemegang Tahta Kerajaan Suwawa

Kedudukan dan kewenangan politik La Bunue tersebut kemudian aspek yang melatar belakangi pemerian nama gelarannya menjadi Wartabone; kata ini tidak lain adalah asosiasi dari bunyi kata dasar dalam bahasa Bugis yaitu  ‘Arutta’( arung=raja dan ta’=kita) artinya ‘raja kita’. Pada sisi morfologi bahasa Bugis kata ‘Wartabone’ adalah kata turunan dari Arutta’  artinya ‘raja kita’ dan Bone merujuk sebuah toponimi kerajaan Bugis yang paling berwibawa setelah abad ke-17 yaitu Bone. Kedua kata itu  kemudian membentuk kombinasi bunyi menjadi Aruttabone kemudian menjadi wartabone  berarti “Raja kita Bone”.  Perkataan ‘Wartabone’ inilah yang kemudian melekat secara kekal dalam sapaan masyarakat  Gorontalo.

Variasi kata Wartabone yang dikenal dalam masyarakat Suwawa adalah kata “Arusbone” yang diidentikkan juga dari perkataan Bugis yang sama pola bahasanya yaitu arumpone yang terbentuk dari dua kata yaitu Arung (raja) dan Bone (Bone). Seperti yang telah dideskripsikan, kata Wartabone adalah nama gelar yang merujuk pada arti raja atau bangsawan Bone yang menjadi pemangku tahta kerajaan Suwawa. Jika merujuk pada surat Raja Bone seperti yang ditampilkan gambarnya pada halaman berikut ini, maka sosok Wartabone  yang disebutkan dalam surat itu tidak lain adalah La Bunue itu sendiri.  Seperti yang telah dijelaskan bahwa nama ini sesuai yang tercatat di dalam catatan harian (lontara Bilang) raja Bone ke-23 Ahmad al-Saleh yang didokumentasi pada British Library kode ADD 12354. Surat itu memberikan legalitas La Bunue di tiga wilayah kuasanya itu tidak lain bahwa segala ucapan dan tindakannya adalah representasi titah dan tindakan Raja Bone.

Catatan sejarah mengungkapkan bahwa Wartabone pernah memegang tahta pemerintahan di kerajaan Suwawa dalam dua periode yaitu tahun 1830 s.d 1849 M dan 1875 s.d 1880 M.  Wartabone sebagai tokoh penting di Kerajaan  Suwawa  Gorontalo di abad  XIX yang menentang bekerjasama dengan Belanda sekaligus menjadi tokoh yang  berhasil  mendamaikan persengketaan tiga kerajaan antara Bintauna, Bone Bolango, dan Suwawa mulai tahun 1781  sampai dengan 1830 (Haliadi dkk, 2016:175). Pertikaian tiga kerajaan tersebut berhasil diselesaikan pada tahun 1830 oleh Wartabone  yang berujung penyatukan ketiga kerajaan itu menjadi  sebuah ikatan bernama Bone. Penyatuan tiga kerajaan menjadi Bone  Suwawa bersatu sekaligus mendudukkan Wartabone sebagai pemimpinnya. Peranan  yang diemban oleh La Bunue atau Wartabone  menjadi penengah perdamaian tiga kerajaan tersebut berhasil tercapai atas dukungan politik dari  raja Bone, La Tenritappu (1775-1812 M) yang kemudian dilanjutkan oleh raja Bone berikutnya bernama La Mappasessu’ To Appatunru yang merupakan anak kandung  (ana’ mattola) dari La Tenritappu (1812 -1823 M).

Nama Wartabone di wilayah Suwawa, maupun  di Lembah Palu, pada masa kini menjadi penanda sebuah marga kekerabatan keturunan yang berakar dari raja Wartabone. Pada sisi yang sama cikal-bakal darahnya itu memiliki terkaitan dengan kebangsawanan Bugis Bone di Sulawesi Selatan. Nama Wartabone berkembang dan berakar dalam kerajaan Suwawa kemudian menjadi sumber silsilah marga keluarga besar dan meluas. Salah satu tokoh sejarah terpenting di Gorontalo di era kemerdekaan Indonesia bernama ‘Nani Wartabone’ merupakan salah satu keturunan yang berwibawa. Hingga hari ini, masyarakat masih mengenali marga Wartabone dan keturunannya sebagai rumpun keluarga yang menyebar di Gorontalo dan Palu terpaut dengan leluhur dari Bugis.

Wartabone: Sufi dan Aristrokrat Berwibawa

Salah satu kode yang terbaca pada pribadi La Bunue adalah sosok seorang bangsawan (Raja) sekaligus mendalami ilmu keagamaan. La Bunue dicatat sebagai bangsawan yang mendalami agama Islam dalam ajaran Khalwatiyah. Pendalaman ilmu agama itu diperolehnya berada di Rompegading,  Makassar kurang-lebih 22 tahun atau antara tahun 1781 – 1803. La Bunue memiliki hubungan yang dekat dengan Raja Bone La Tenritappu Ahmad al-Saleh (Raja Bone ke-23) . Kedekatan La Bunue dengan Raja Bone Ahmad al-Saleh itu sekaligus menekuni tarikat Islam secara bersama pada Kadhi Bontoala dan Kadhi Maros. Keduanya menekuni ajaran agama dalam tarikat Khalwatyah yang  nazabnya terafiliasi dari Syekh Yusuf.

Pribadi La Tenritappu Ahmad al-Saleh memang telah dikenal sebagai raja yang bersimpati dan total menekuni ajaran Khalwatiyah – di samping tarikat lainnya seperti Syattariah, Naqsabandia dengan belajar langsung kepada khalifah Khalwatiah Sayed Muhammad Zainuddin  yang menjabat sebagai Kadhi Maros dan Bontoala pada masa itu.  Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bruinessen (1999) bahwa, La Tenritappu Ahmad al-Saleh adalah aristokrat Bone yang menyelami ajaran tarikat Khalwatyah Yusuf. Ia pun menjadikan Khlawatyah sebagai hak isitimewa kalangan bangsawan dan sebaliknya beliau mencegah masyarakat umum menekuninya.

Hubungannya yang dekat dengan La Tenritappu Ahmad al-Saleh kemudian membentuk pribadi La Bunue ketika berada di Suwawa menyerupai sosok La Tenritappu  yakni sosok aristokrat sekaligus Sufi. Predikat ganda yang melekat pada diri La Bunue itu persis sama dengan  predikat yang melekat pada diri Ahmad al-Saleh ketika semasa hidupnya menjadi raja di Bone. Keberadaan La Bunue di Makassar kurang-lebih   22 tahun menjadi waktu yang sangat luas berguru dan bergaul bersama La Tenritappu.La Tenritappu Ahmad al-Saleh dikenali sebagai raja Bone yang memegang tampuk Amangkaukeng (Raja) pada tahun 1775-1812. La Tenritappu sekaligus disebut-sebut sebagai tokoh yang turut mengembangkan ajaran- tarikat Khalwatiah Samman versi Syekh Yusuf, sebuah kelompok Islam yang terbesar di Sulawesi Selatan  khususnya pada abad ke-18 dan 19.

Tarikat Khalwatiah adalah ajaran yang dikembangkan oleh Syekh Yusuf dan dilestarikan dan diteruskan oleh murid-muridnya. Nama tokoh yang meneruskan dan mengembangkan Khalwatiah di Sulawesi Selatan adalah Abul Fathi Abdul Bashir Tuang Rappang, kemudian dilanjutkan oleh  Abu Saad al-Fadil al-Khalwati, kemudian Abdul Majud Nuruddin Ibnu  Abdillah, kemudian  Sayed Abd. Gaffar Waliyuddin (Kadhi Bontoala tahun 1759), kemudian Sayed Muh. Zainuddin (Kadhi di Maros dan Bontoala), kemudian  Sayeh Abdul Kadir, dan  Sayed Abdul Rahman as-Sakaf (Kadhi  Maros). Ulasan Tudjimah (1997:10)mengenaiLa Tenritappu, serasi dengan data manuskrip tyang mengungkapkan sebagai sosok raja yang menaruh perhatian tinggi terhadap ajaran Yusuf terutama aliran Khalwatiah Samman. Itulah sebabnya pengembalian tulang Yusuf dari Stallenbosc Afrika Selatan pada 5 April tahun 1795 ke Lakiung, Gowa,  tidak terlepas dari peran Ahmad al-Salih sebagai Raja Bone yang memiliki kuasa tinggi dan luas di Sulawesi Selatan pada abad ke-18 itu.  La Bunue pun masih meyaksikan  peristiwa kedatangan  tulang Syek Yusuf dari Afrika Selatan karena  pada masa itu ia berada di Makassar.

Perkenalan Wartabone dengan Ahmad al-Salih cukup lama yakni sekitar selama 22  tahun tinggal di tanah Bugis. Itulah yang melatarbelakangi La Bunue membentuk kepribadian dan intelektualitasnya menyerupai tokoh panutannya yaitu raja Bone, La Tenritappu Ahmad al-Salih. Wartabone dikenali sebagai seorang bangsawan tinggi yang memegang tampuk kepemimpinan Kerajaan Suwawa, pada sisi yang sama beliau juga mendalami ilmu keagamaan dengan cirri kesufiannya sangat luat. Keberadaan Wartabone di Sulawesi Selatan masanya sebelum ia memegang tampuk kekuasaan di Suwawa. Wartabone menjadi raja Suwawa pada  tahun 1830-1849, kemudian melanjutkannya lagi kedua  kalinya pada tahun  1875-1880  meskipun dalam usianya  yang sudah senja (Haliadi, 2017:175).  Kuat dugaan dalam tahun 1880 La Bunue alias Wartabone menamatkan statusnya sebagai Raja Suwawa karena sudah mangkat.

Nama Wartabone dikenali dengan sebutan Arutta Bone atau Raja Arus Bone I. Diceritakan bahwa semasa Wartabone bertempat tinggal di Gorontalo.  Ia secara terang-terangan menentang Kolonial Belanda yang memonopoli tambang  emas di Maloti atau Pinogu. Wartabone dalam masa pemerintahannya tidak pernah  setuju dan tidak pernah memberikan peluang kepada Belanda untuk menancapkan pengaruhnya di wilayah kerajaan Suwawa. Tidak terkecuali dominasi ekonomi. Hal itu terjadi hingga masa pemerintahannya pada kali kedua, dimana pada tahun 1885 ia menolak kulturstelsel untuk penanaman kopi di Sinandaha dan Pinogu (Haliadi, 2017).

Wartabone adalah sebagai raja yang bersimpati dan mendalami Islam, sehingga beliau dikenali sebagai tokoh yang berkharisma dan penuh mistik. Berdasarkan tuturan lisan masyarakat di Suwawa menyimpan cerita mengenai makam Wartabone, bahwa tanah yang menjadi lokasi dimakamkannya beliau sebab adanya pesan yang diucapkan beliau sebelum meninggal. Konon beliau sedang menunggang kuda menjelajahi tanah Suwawa, tiba-tiba ia melihat cahaya berwarna putih di atas tanah yang menjulang hingga menembus langit.  Cahaya itulah yang kemudian menjadi penanda lokasi yang dipilihnya untuk dijadikan tempat  kuburannya kelak  setelah wafat.  Konsepsi yang berkenaan dengan cahaya putih senantiasa terkait dengan  simbol cahaya dalam paham tarikat Khatwatyah  Samman yang disebut dengan ‘Nur Muhammad’.  Symbol cahaya putih itu selaras dengan ajaran-ajaran di dalam risalah  yang ditulis La Tenritappu berjudul Tajang Patirong (Bugis) atau Nurul al-Hadi yang berarti  “ Cahaya Tuntunan’.

Sosok La Bunue alias raja Wartabone menunjukkan pribadi sebagai tokoh mistik dan kharismatik yang mirip pula dengan sosok tokoh Syekh Yusuf al-Makassari. Syekh Yusuf merupakan pokok sanad Khalwatiah yang berkembang di Sulawesi Selatan.  Ia dikenali  sebagai tokoh yang penuh kharisma dan dikelelilingi orang-orang mistik pula, sehingga menjadi sebab ia diberi penamaan Tuan Keramat atau Tuan yang berkaromah.  Drewes dalam sebuah karangannya berjudul Sech Joesoef Makassar (1926:87-88) menulis bahwa  makam Yusuf menjadi keramat, juga setelah tulang S. Yusuf  dibawa  ke Makassar oleh pengikutnya atas permohonan  Sultan Gowa 1795. Sampai sekarang makam itu tetap dikeramatkan oleh masyarakat.

Ajaran-ajaran Khalwatiah diamalkan dengan baik oleh Wartabone melalui khalifah Kahlwatyah bernama Sayed Muhammad Zainuddin alias Puang Lallo yang menjadi Kadhi Maros dan Bontoala, selain berguru langsung kepada La Tenritappu. Ciri Islam yang diamalkan oleh Wartabone  tidak lain adalah ajaran-ajaran Syekh Yusuf yang telah lama berkembang di Sulawesi Selatan. Dikenali bahwa ajaran-ajaran Yusuf yang menyebar melalui murid- muridnya, namun dalam perkembangannya lebih terkonsentrasi pada lingkungan bangsawan di istana-istana kerajaan, besar dan kecil. Murid-murid  Syekh Yusuf yang melanjutkan ajarannya di Sulawesi Selatan lebih didominasi oleh kalangan orang Bugis dan Makassar yang berperan penting dalam pengembangan dan pewarisannya secara berkelanjutan. Itulah sebabnya sehingga sosok La Tenritappu  menjadi patron kepribadian La Bunue sebagaimana raja-raja lokal lainnya di Sulawesi Selatan pada saat itu, yakni menyandingkan statusnya sebagai aristokrat sekaligus tampil sebagai tokoh agama kharismatik.  Status sebagai ahli tarikat seperti yang dialami oleh La Taneritappu, menjadi atribut yang menaikkan kharismatiknya sebagai raja Bone, kemudian menurunkannya kepada diri Wartabone sebagai aristokrat yang bewibawa di Suwawa sekaligus menjadi pengajur agama Islam.

Nama murid Syekh Yusuf yang terpenting adalah Abul Fathi Abdul Bashir Tuang Rappang  atau yang dikenal nama sapaan ‘Puang Rappang’ (Hamid, 2005). Beliau adalah murid langsung Syekh Yusuf dan tokoh Khalwatyah Sulawesi Selatan yang hidup sampai awal abad ke-18.  Puang Rappang menjadi perawi risalah-risalah Syekh Yusuf tidak terkecuali menyusun kitab Assikalaibineng (Hadrawi, 2017). Paling tidak, hingga pada abad XX kharismatik Syekh Yusuf masih sangat kuat pengaruhnya di Sulawesi Selatan oleh karena peranan generasi Khalwatyah yang menyambungkan ajaran-ajarannya. Karangan-karangan Stekh Yusuf al-Taj Abu Mahasin  yang  tercatat  dalam Handlist of Arabic Manuscripts in the Library of the University of Leiden and Other Collections in the Netherlands, compiled by P. Vorhoeve (1957) sebanyak 21 buah (Tudjimah, 1997:21).

Nama Puang Lallo dari kampung Garassi di Maros dan Puang Ngemba dari Tomarajennang – keduanya disebut keturunan Bugis – adalah penganjur tokoh yang turut mengembangkan ajaran Khalwatiah Samman di Sulawesi Selatan. Keduanya pun dikenal sebagai ulama yang berhasil mengembangkan ajaran-ajaran Syekh Yusuf di kalangan aristokratis Bugis dan Makassar. Beliau memiliki pengikut yang banyak dari kalangan bangsawan Bugis dan Makassar, maupun bangsawan lainnya dari pulau luar. (*)

Ayo tulis komentar cerdas