Home Politik

Muhammad J. Wartabone Sosialisasi Empat Pilar di Palolo

26
Anggota DPD-MPR RI perwakilan Sulawesi Tengah, Muhammad J. Wartabone, melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Lapangan Desa Bobo, Kecamatan Palolo, MInggu (12/07/2020). (Foto: Metrosulawesi/ Ariston Aporema Sorisi)

Sigi, Metrosulawesi.id – Anggota DPD-MPR RI perwakilan Sulawesi Tengah,  Dr. Muhammad J. Wartabone, S.Sos., SH., M.Hi, menggelar sosialisasi empat pilar kebangsaan yang mencakup Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Sosialisasi empat pilar diselenggarakan di lapangan Desa Bobo, Kecamatan Palolo, Ahad, 12 Juli 2020. Sosialisasi yang mengumpulkan orang banyak itu tetap menerapkan protokol kesehatan.

Dalam kesempatan itu, Muhammad J. Wartabone, sangat mengharapkan antar pemeluk agama harus saling menghormati khususnya yang ada di Wilayah Kabupaten Sigi.

Kata Buya==sapaan akrab Muhammad J. Wartabone, Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, serta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan empat pilar kebangsaan yang harus menjadi pedoman masyarakat.

“Nilai-nilai kebangsaan adalah nilai yang melekat pada diri setiap warga negara atau norma kebaikan yang terkandung dan menjadi ciri kepribadian bangsa Indonesia. Nilai-nilai itu bersumber dari Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika yang dicerminkan dari sikap dan perilaku setiap warga negara,” jelas Buya.

Lanjutnya, Pancasila bukan agama dan tidak bisa menggantikan agama. Pancasila bisa menjadi wahana implementasi nilai-nilai Islam, kemudian Pancasila dirumuskan oleh tokoh agama.

Agar supaya hidup bisa rukun, Buya  menyebutkan sebagian orang ingin mencoba menanamkan ideologi Pacasila. Namun, tidak diberikan pemahaman dan penguatan tentang agama, otomatis itu tidak akan mungkin bisa dilakukan.

“Contoh sila pertama bermakna bahwa bangsa dan warga negara Indonesia diberikan kebebasan untuk memilih kepercayaan yang diakui oleh Negara,” tuturnya.

“Saya begitu menjabat sebagai anggota DPD RI sangat merasakan bahwa ternyata nilai-nilai kepancasilaan ini menyambungkan perbedaan antara kita semua di Indonesia. Walaupun, suku, agama, dan warna kulit berbeda, tapi kita tetap satu dalam naungan NKRI,” ungkap Buya.

Kemudian kata dia, Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai undang-undang dan petunjuk bagi manusia untuk memperbaiki keadaan manusia. Dengan demikian, Tuhan menerangkan beberapa perintah dan beberapa larangan.

Selain dihadiri masyarakat Desa Bobo serta para tokoh masyarakat setempat, pada kesempatan itu, hadir pula Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sigi, Torki Ibrahim Turra yang juga memberikan sedikit sambutan  di acara sosialisasi tersebut. (*)

Reporter: Ariston Aporema Sorosi

Ayo tulis komentar cerdas