Home Banggai

Uwi Banggai Bisa Mengikuti Jejak Ubi Cilembu

18
HANYA DI BANGGAI - Inilah Uwi Banggai, salah satu tanaman umbian yang hanya berkembang di Banggai. (Foto: Istimewa)
  • Ilham Potimbang, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum UNS Yogyakarta

Ubi (Uwi) Banggai (Dioscorea alata L) dalam bahasa Banggai biasa disebut “Baku” merupakan tanaman umbi-umbian dan tergolong tananam semusim (berumur pendek) dengan susunan utama terdiri dari batang, ubi, dan daun. Tanaman uwi Banggai tumbuh menjalar ke atas dengan menggunakan kayu penyangga dalam bahasa Banggai disebut “Boloi”.

Laporan: PURNOMO LAMALA, Banggai

ILHAM Potimbang, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) rupanya tertarik meneliti terkait Indikasi Geogarifis (IG) Uwi Banggai. Dia menjelaskan bahwa rendahnya hasil panen uwi banggai dipengaruhi oleh nilai historis kebiasaan dan budaya perlakuan masyarakat adat setempat.

“Budaya penanaman yang sifatnya turun temurun dengan menggunakan simbolisasi adat masyarakat Banggai, uwi banggai ini bisa tumbuh dan berkembang dengan baik,” ujarnya.

“Berbeda ketika uwi banggai ini ditanam di daerah lain tanpa mengikuti instrumen penanaman masyarakat adat baik dari kualitas serta nilai kandungan yang terdapat didalam setiap jenis uwi Banggai ini,” tambah Ilham.

Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) merupakan salah satu sentra produk ubi jalar. Tercatat ada 35 jenis varietas ubi jalar terdaftar di Kementrian Pertanian (Kemenpan) sebagai produk varietas tanaman milik kabupaten Bangkep. Dari tahun ketahun terus meningkat produktivitasnya hingga mencapai sekitar 697.48 ton.

Lebih lanjut, Ilham mengatakan, harus bisa belajar dari daerah lain seperti daerah Sumedang yang mampu menembus pasar internasional hanya dengan perlakuan dan pemberdayaan produk umbi-umbian yang dikenal dengan nama ubi Cilembu. Hal ini katanya, dipengaruhi oleh perlindungan Indikasi Geografis tersebut. Uwi Banggai harus bisa mengikuti jejak ubi Cilembu.

“Bagaimana tidak dulu harga ubi Cilembu di pasaran Rp2.500/kg setelah mendapat perlindungan Indikasi Geografis menjadi Rp250.000/kg. Saat ini tujuan ekspornya ke Negara Jepang dan Negara Lain di Eropa,” jelasnya.

Ilham Potimbang. (Foto: Istimewa)

Bangkep katanya, memiliki 35 jenis varietas uwi. Puluhan jenis uwi itu sejak zaman kerajaan sudah dijadikan makan pokok untuk menjamu para tamu kerajaan. Pertanyaannya kemudian, harus diapakan puluhan jenis uwi tersebut?

Menurut Ilham, karakteristik dan kualitas serta nilai budaya yang terkandung di dalam produk uwi Banggai sangat tinggi. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat adat petani setempat.

“Bukan malah mendatangkan uwi lain yang berasal dari negara lain untuk diproduksi di wilayah penghasil cadangan makanan pokok di Negara Indonesia ini,” sambungnya.

Ia mengajak semua masyarakat kelompok/paguyuban untuk mencintai dan mengelola produk lokal yang sangat erat dengan budaya.

“Mari kita kembangkan uwi Banggai menjadi uwi unggulan dengan memanfaatkan pasar global tanpa mengubah perlakuan kebiasaan masyarakat dan budaya adat setempat,” harapnya.

Atas dasar itu, Ilham mengaku tertarik menulis soal uwi banggai ke dalam desertasinya.

“Dalam desertasi saya yang dibantu oleh Promotor Prof. Dr. Supanto. SH., MH, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret berinisiatif untuk membentuk Kelompok Montulutusan Petani Indikasi Geografis Ubi Banggai yang disingkat dengan KMIG- Uwi Tomundo,” tutur Ilham.

Tujuannya, agar Ubi Banggai mendapat perlindungan Secara Indikasi Geografis dengan sistem dan mekanisme pemasaran yang telah dimuat dalam buku persyaratan perlindungan yang di buat olehnya

“Kita berharap dengan cara ini mampu menjaga melestarikan budaya setempat dengan meningkatkan nilai ekonomi maupun ketahanan pangan daerah dan Nasional,” pungkasnya.

Ayo tulis komentar cerdas