Home Inspirasi

Raja Wartabone Sebagai Ulama

19
Ilustrasi. (Foto: Ist)

Dr. Syamsuri, M.Si.*)

RAJA  Wartabone mengemban tugas keulamaan dan tugas sebagai seorang raja. Sebagai ulama, dalam perjalanan sejarah, terwariskan kepada putranya La Iboerahima Wartabone, yang kemudian mengemban tugas penyebaran Islam ideologis di Bone Tatura Kerajaan Tatanga (kini berada di Provinsi Sulawesi Tengah). Penyebaran Islam ideologis dikenal sebagai gerakan akidah memerangi orang kafir yang dilekatkan kepada penjajah. Kebetulan pada waktu itu, Belanda menjajah Nusantara, sehingga menjadi sasaran perlawanan Islam ideologis. Hal ini kemudian, berlanjut secara heroik dan historis, lahirnya Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama 22 Oktober 1945, yang mewajibkan umat Islam untuk melawan orang kafir.

Paduka Raja Suwawa, Arutta Bone memperoleh gelar Sufiatuddin Iskandar Muhammad Wartabone Illahu.  Pada gelar ini terlihat bahwa dia seorang sufi yang mendalami ad-din (agama Islam) yang meneladani karakter raja dalam Al-Qur’an yaitu Iskandar Zulkarnain. Gelar Muhammad bersumber dari hadis, al-‘ulama warasatul anbiya (ulama adalah pewaris para nabi). Karakter kesatriaan sebagai raja, kemudian terwariskan pada keturunannya yang berada di Provinsi Gorontalo, khusus di Kabupaten Bone Bolango.

Raja Bone ke-23 La Tenri Tappu Sultan Ahmad Saleh (1812) mengirim La Bunnue, untuk menyelesaikan perselisihaan tiga kerajaan di kawasan utara Sulawesi. Tiga kerajaan itu adalah Kerajaan Suwawa, Kerajaan Bone, dan Kerajaan Bintauna. Keberhasilan mendamaikan tiga kerajaan, lalu terjadi penyatuan ketiga kerajaan menjadi Kerajaan Bone Suwawa. La Bunnue  diangkat menjadi Raja Bone Suwawa pada tahun 1849 M. Sehubungan dengan perjalanan La Bunnue dari Kerajaan Bone, lalu masyarakat Bone Suwawa menyebut Wa’ Arung ta Bone, kemudian lebih populer menjadi Wartabone.

Kepemimpinan Raja Wartabone mendapatkan sambutan baik dari rakyat Kerajaan Bone Suwawa, sehingga dua kali naik takhta. Sebuah peribahasa mengatakan, “mempertahankan lebih berat dari pada merebut” atau “memelihara lebih berat dari pada membangun”. Menjalankan pemerintahan di Kerajaan Bone Bolango merupakan amanah rakyat yang di pertanggung jawabkan kepada Allah SWT. Raja Wartabone mendasarkan asas-asas pemerintahan berdasarkan petunjuk Sang Pencipta, karena hanya Dialah yang mampu menundukan manusia untuk taat dan patuh pada pemimpinya.

Jejak pemerintahan Wartabone menggabungkan nilai-nilai duniawi dan ukhrawi. Ajaran tasawuf, syariat, dan adat menjadi satu kesatuan dalam kehidupan masyarakat Kerajaan Bone Suwawa. Hubungan antar rakyat dan hubungan rakyat dengan pemimpinnya, tercipta suasana harmonis. Ajaran tasawuf melahirkan tata krama yang santun dalam paduan akhlak sehingga mampu memahami dan menghormati orang lain, walaupun berbeda agama dan ajaran internal agama. Ajaran syariat memberikan petunjuk secara detail dan terperinci, hubungan manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan Sang Pencipta. Sedangkan adat lahir dari akumulasi ajaran tasawuf dan pelaksanaan petunjuk syariat. Dalam bahasa Gorontalo disebutkan, “Adati hula-hulaa to saraa, saraa hula-hulaa to Kur’an”. Artinya, “Adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah.”

***

Wartabone, pernah mengikuti ajaran Tarikat Khalwatiah di Rompegading, kurang lebih 22 tahun atau antara tahun 1781–1803. Tarikat Khalwatiah adalah ajaran yang dikembangkan oleh Syekh Yusuf dan dilestarikan dan diteruskan oleh murid-muridnya. Abu Hamid dalam bukunya Syekh Yusuf; Seorang Ulama, Sufi, dan Pejuang, menerangkan tentang ajaran-ajaran Khalwati sebagai berikut (Abu Hamid, 2005:158)

Cara-cara hidup utama yang ditekankan oleh Syekh Yusuf dalam pengajarannya kepada murid-muridnya ialah kesucian batin dari segala perbuatan maksiat dengan segala bentuknya. Dorongan berbuat maksiat dipengaruhi oleh kecenderungan mengikuti keinginan bahwa nafsu duniawi semata-mata, yaitu keinginan memperoleh kemewahan dan kenikmatan dunia. Hawa nafsu itulah yang menjadi sebab utama dari segala perilaku yang buruk. Tahap pertama yang harus ditempuh seorang murid (salik-suluk) adalah mengosongkan diri dari sikap dan perilaku yang menunjukkan kemewahan duniawi. Semua hawa nafsu harus di batasi dan dikendalikan untuk mencapai kesucian batin.

Dalam hal cara-cara menyucikan batin itu, para sufi berbeda pendapat. Perbedaan itu disebabkan oleh sistem tarekat yang dianut dan bobot pengetahuan yang dimiliki oleh para syekh tarekat dari suatu aliran tertentu. Sebagian sufi mengajarkan rasa benci terhadap dunia dan matematika gejolak hawa nafsu, karena dianggapnya dunia ini merupakan racun bagi pencapaian cita-cita dan dinding pembatas bagi perjalanan menuju Tuhan. Semua hawa nafsu yang mendorong citra dan perilaku bangga serta kenikmatan dunia harus dimatikan untuk sampai pada kenikmatan yang hakiki. Golongan sufi yang termasuk aliran ini cukup tajam dan tegas dalam membedakan kehidupan duniawi dan ukhrawi, sehingga mereka disebut golongan ekstrem.

Ajaran Syekh Yusuf mengenai proses awal penyucian batin menempuh cara-cara moderat. Kehidupan di dunia ini bukanlah harus ditinggalkan dan hawa nafsu harus dimatikan sama sekali, melainkan hidup ini harus dimanfaatkan guna menuju Tuhan. Gejolak hawa nafsu harus dikuasai melalui tata tertib hidup, disiplin diri, dan penguasaan diri atas dasar orientasi ketuhanan yang senantiasa melingkupi kehidupan manusia. Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh hawa nafsu selalu diperiksa dan dijaga agar tidak mengganggu keseimbangan pemikiran dan perasaan. Dengan kata lain, hawa nafsu tidak sampai menguasai hati atau membungkusnya dari daya-daya spiritual yang trasendental. Dianjurkan supaya hidup selalu waspada, menempatkan segala sesuatu menurut apa adanya, tidak membenci dunia dan tidak pula dijadikan sebagai jembatan kemewahan yang menampilkan kebanggaan material. Hidup ini bukan hanya untuk menciptakan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi, melainkan kehidupan ini harus dikandungi cita-cita dan tujuan hidup menuju pencapaian anugerah Tuhan.

Ajaran tarekat Khalwatiyah yang diterima Raja Wartabone, berhasil berasimilasi dengan ajaran tarekat Nur Muhammad, yang tampaknya menjadi tren tarekat di nusantara pada awal abad ke-19. Kedudukan Raja Wartabone sebagai ulama sangat kuat membawa pengaruh transformatif bagi masyarakat Suwawa. Pengaruh kekuasaan Raja Bone ke 23 La Tenritappu Sultan Ahmad al-Saleh yang juga membawa ajaran Nur Muhammad, mewarnai  pengamalan keagamaan masyarakat pada umumnya. Perkembangan pengamalan tasawuf dalam kondisi masyarakat Gorontalo yang mengalami dinamika kehidupan sosial, terutama ketika Kerajaan Suwawa masuk dalam konfederasi Limo Lo Pohala (lima kerajaan bersatu).

Ada dua naskah “Nur Muhammad” yang bertuliskan Aksara Pegon (Arab Melayu) dalam bahasa Gorontalo. Masing-masing dimiliki oleh Heri Pasi dan Eliana Hippi. Kedua naskah “Nur Muhammad” tersebut tidak banyak perbedaan. Secara garis besar, naskah-naskah itu dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup.

Bagian pertama didahului dengan muqaddimah, berupa hamdalah, shalawat, dan basmalah. Terdapat di dalamnya lantunan pujian dan syukur kepada Allah atas pertolongan-Nya sehingga “pembacaan Nur Muhammad” dapat dilaksanakan. Karena itu, harus diawali dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim, dan diakhiri dengan salawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Bagian kedua berisi tentang proses kejadian dan penciptaan Nur Muhammad. Sebelum kejadian alam raya ini, mula pertama menciptakan Nur Muhammad. Nur Muhammad kemudian sujud syukur karena telah diciptakan. Dalam sujud, Allah mewajibkan Nur Muhammad pada empat hal, yaitu shalat, puasa, zakat, dan haji serta menganugerahinya tujuh lapisan langit, tujuh lapisan bumi, dan tujuh lapisan lautan (ilmu, latif, sabar, pikir, akal, rahmat, dan cahaya).

Kemudian dari Nur Muhammad, Allah menjadikan dirinya. Dari diri Muhammad dijadikan 124.000 nabi. Diri Muhammad kemudian mengeluarkan 5 (lima) butiran air, yang kemudian menjadi 13 (tiga belas) rasul. Dari anggota badan terwujud  beberapa ciptaan. Dari mata, keluar 5 (lima) butir air, yang kemudian menjadi Malaikat Israfil dan Izrail, Lauh Mahfuz, Qalam dan Kursi. Dari hidung, keluar 7 (tujuh) butir air yang menjadi 7 (tujuh) tingkatan surga. Dari kedua bahu, keluar 2 (dua) butir air yang menjadi matahari dan bulan. Dari tangan, keluar 8 (delapan) butir air, yang kemudian mejadi tanah, air, angin, api dan sidratul muntaha, shirath, kayu Thubi, dan tongkat Musa Alaihi Salam.

***

Yang disebut dengan ciptaan pertama, dinamakan anasir, yaitu ada empat unsur penting. Begitu pentingnya, sehingga unsur- unsur itu membanggakan diri, kecuali tanah. Api dengan panasnya, angin dengan hembusannya, dan air karena dipakai memasak. Tetapi Nur Muhammad menasehati bahwa kelebihan itu tidak perlu dibanggakan. Bahkan sebaliknya, itu menyedihkan. Sebab dengan keistimemewaan, justru memperbudak mereka. Kemudian ketiga unsur tadi sadar dan merasa hina. Sementara Nur Muhammad dalam pandangan mereka, mulia. Tetapi Nur Muhammad menyanggah, seraya berkata; yang mulia hanya Allah.

Akhirnya, setelah mengucapkan astagfirullah,  keempat unsur tadi menyatakan masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Keempat unsur tadi merupakan unsur-unsur yang terdapat dalam penciptaan manusia. Dalam diri manusia adalah unsur tanah, ada unsur api, ada unsur angin, dan ada unsur air. Pemahaman terhadap ajaran Nur Muhammad menunjukkan bahwa kepasrahan tauhid keempat itu memastikan ketundukan tauhid manusia terhadap Allah SWT.

Bagian ketiga, diakhiri dengan motivasi berupa ganjaran pahala bagi mereka yang mendengarkan, menyimpan, menceritakan, membaca, dan menyebarkannya. Mendengarkan diberi berkah dari kitab suci yang empat; Taurat, Injl, Zabur, dan Al- Qur’an. Menyimpan naskah akan dijaga tiga malaikat; Jibril, Mikail, dan Israfil; serta mendapatkan pahala ibadah haji. Mencertitakan pahalanya seperti tawaf tujuh kaili. Membaca ganjarannya sama dengan syahidnya seseorang sebanyak tujuh kali. Dan menyebarkannya akan dimuliakan oleh manusia.

Dalam struktur pemerintahaan Kerajaan Suwawa, terdapat jabatan Qadhi, sebagai pemangku kekuasaan di bidang keagamaan. Posisi Qadhi untuk membangun sumber daya manusia, baik secara lahir maupun secara batin. Kekuasaan Qadhi memastikan posisi rakyat kerajaan untuk menjalankan ajaran agama Islam, sehingga pemenuhan hak-hak asasi manusia, dapat terlaksana. Wewenang kekuasaan Qadhi meliputi wilayah fiqh, pendidikan, dan dakwah.

*) Dosen IAN Palu

Ayo tulis komentar cerdas