Home Senggang

Pada Sebuah Musim

29

MESKI tak tampak dalam mata, namun menakutkan mendengarnya. Diyakini ada, tapi juga diyakini tak ada. Ada yang mengaku melihatnya, ada juga yang meragukan mereka yang mengaku melihatnya. Begitulah kehadirannya di negeri antah berantah, pada sebuah musim. Seperti kehendak alam, kadang datang musim kemarau, kadang datang musim hujan. Adakah yang mengadakan musim? Itulah misteri.

Agar ada tokoh dalam cerita ini, aku menyebutnya saja Hantu, kira-kira begitu. Di suatu masa, entah tahun berapa, tepatnya sudah puluhan tahun, Hantu itu hidup nyaman dan berkuasa. Dia yang dipercaya mengatur pemerintahan di negeri itu. Pada awalnya disenangi oleh rakyat lantaran membawa konsep semesta keadilan untuk seluruh penghuni negeri. Konsep itu menuntun rakyat hidup dalam roh kegotong-royongan. Rakyat saling membantu. Tidak boleh ada yang kaya raya, sementara lainnya hidup dalam kemiskinan yang melarat. Sama rata sama rasa, begitulah visi yang mau diterapkan, mungkin. Meski tidak tertarik memikirkan pengembangan keyakinan keagamaan, namun tidak mengganggu jalannya keyakinan itu untuk mereka yang meyakininya. Namun kian hari kian memerlihatkan sebuah konsep pemerintahan yang mencemaskan rakyat. Misalnya, diberinya peluang mereka yang tidak memiliki keyakinan Ketuhanan untuk tumbuh bersama dengan mereka yang memiliki keyakinan Ketuhanan. Di sinilah Hantu itu dipertanyakan kehadirannya. Suara-suara protes pun mendengung di seantero negeri. Mendengar suara sumbang itu, bukannya meredup, Hantu itu makin menampakkan taringnya yang siap menerjang mereka yang tidak sehaluan.

Bentrokan tak terelakkan, saat itu. Barisan massa rakyat terpecah. Ibarat sungai bercabang dua masing-masing mengalirkan air dengan arah yang berbeda. Tak mungkin berjumpa, kapan pun. Darah dimana-mana. Persembunyian dimana-mana. Penculikan dimana-mana. Tentu tak mengherankan bagi mereka yang haus kekuasaan. Apa pun itu, arah perjuangan harus bergerak, meski arah itu belum tentu untuk kesejahteraan rakyat.

Pada akhirnya Hantu gentar. Melihat musuhnya yang lebih beringas dan siap mati dengan sebuah keyakinan kelak akan masuk surga, Hantu pun mundur.

Selesaikah? Tidak! Pembantaian manusia terus terjadi. Ibarat pohon tua telah ditumbangkan, namun itu tiduk cukup, siapa tahu kelak tunasnya tumbuh, maka gerakan pembersihan tunas-tunas dan akar-akar pun dilakukan. Betapa menakutkannya Hantu itu, jika memang benar ada. Tapi bukankah sifat Hantu, meski tidak ada, tetap ditakutkan, minimal bagi mereka yang masih berusia anak-anak.
*
SETELAH sekian puluh tahun, entah dari mana dan siapa yang memulai, tiba-tiba ada yang mendengungkan ke seantero bahwa musim telah berganti. Hantu itu telah bersiasat untuk tumbuh kembali, untuk berkuasa kembali, untuk menerapkan konsep semesta keadilannya kembali.

Musim yang tidak diharapkan lagi kedatangannya itu tiba-tiba menjadi pembicaraan. Menjadi isu indah dalam dialog-dialog, baik di forum seminar, maupun di warung-warung kopi. Entah bertujuan agar rakyat waspada akan datangnya Hantu di musim itu atau sengaja melahirkan kecemasan yang tak berujung. Tentu, jika benar memang ada musim itu.

Mereka lupa rakyat sudah cerdas. Propaganda tak lagi menpan membiuskan angan-angannya. (#)

Ayo tulis komentar cerdas