Home Inspirasi

Muhammad J. Wartabone: Seorang Legislator Nasionalis yang Berjiwa Santri

69
Muhammad J. Wartabone dalam suatu kesempatan. (Foto: Ist)

Oleh: Dr. Haliadi, M.Hum *)

PADA  tanggal 31 Agustus 2019, Penetapan anggota DPD RI terpilih ini telah dilakukan KPU di kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Sabtu pada tanggal 31 Agustus 2019 dan salah satu yang terpilih dari Sulawesi  Tengah adalah Muhammad J. Wartabone seorang mantan anggota DPRD Kota Palu selama tiga periode berturut-turut. Tokoh muda ini memiliki jejak langkah yang unik dalam dinamika politik Sulawesi Tengah maupun politik Indonesia. Kaitan tokoh muda anggota parlemen Kota Palu Muhammad J. Wartabone dengan famnya Wartabone yang digunakannya berasal muasal dari hubungannya dengan seorang ulama besar La Iboerahima seorang Putra Mahkota Raja Wartabone dari Gorontalo yang dianggap hilang dari Kerajaan Suwawa Gorontalo. Ulama tersebut, rupanya merantau untuk mengembangkan ajaran Islam dan beranak pinak di Palu Sulawesi Tengah hingga akhir hayatnya. Hal ini diketahui awal dari keterangan cicitnya sebelum meninggal yang bernama Jarudin. Jarudin yang menurut kebiasaan orang Palu pada umumnya memanggilnya dengan sebutan “Om Lopu Guru Mengaji” inilah yang menyimpan catatan asal-muasal keturunannya yang berasal mula dari seorang Raja Wartabone (biasa dipanggil di Suwawa Gorontalo: Raja Arus Bone) dari Kerajaan Suwawa Gorontalo.

Muhammah J. Wartabone yang kita kenal sekarang  ini adalah seorang cicit dari seorang ulama asal Suwawa Gorontalo La Iboerahima seorang Putra Mahkota Raja Wartabone. Tokoh ulama ini kemudian mengembangkan Agama Islam secara ideologis di Palu Sulawesi Tengah. Seorang cicit ulama yang bernama Muhammad J. Wartabone yang telah menduduki tiga periode DPRD Kota Palu. Dua tahun terakhir ini dia getol membangun Indonesia berzikir di Kota Palu. Muhammad J. Wartabone juga dipanggil Buya M.J.W. pada awalnya sesungguhnya tidak mau menulis susurgalur silsillah sebagai cikal bakal awal mula latar belakang keluarganya, namun karena penggunaan fam Wartabone sehingga beliau berkeinginan dan merasa bertanggung jawab untuk ditulis. Akhirnya beliau menyimpulkan untuk ditelusuri pelan-pelan serta menguak proses perjalanan fam Wartabone di Palu Sulawesi Tengah. Tulisan ini adalah hasil dari penelusuran itu sehingga diberi tajuk seorang Legislator Nasionalis yang Berjiwa Santri, sebagai seorang Tokoh Muda Kota Palu Sulawesi Tengah.

***

Muhammad Jarudin Wartabone lahir di Desa Salua, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, pada tanggal 28 Oktober 1975, Muhammad J. Wartabone merupakan putra dari pasangan Jarudin (Om Lopu Guru mengaji) dan Hajjah Lise S. Buu Sura yang menikah di Kulawi. Om Lopu Guru mengaji, ayahandanya lahir di  Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada malam Jumat pada tanggal 12 Desember 1925 dan wafat pada tanggal 8 Oktober 2009 di Petobo, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah diusianya yang ke 84 tahun dan dimakamkan di Lompio Bora Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi. Dengan demikian trah Muhammad J. Wartabone bin Jarudin  bin Lamacca bin Ladjontjo bin La Iboerahima bin Raja Wartabone yang mengindikasikan bahwa beliau adalah generasi ke-6 dari Raja Wartabone.

Ayahanda Muhammad J. wartabone bernama almarhum Jarudin yang biasanya dipanggil dengan nama “Om Lopu Guru Mengaji” ayahanda dari Muhammad J Wartabone memiliki cerita yang unik. Kisah perjalanan hidup sosok seorang guru ngaji yang bernama Jarudin (alm) diliputi juga dengan suasana hidup dan kehidupan secara keagamaan (religi). Pada tahun 1960 Bapak Jarudin (Om Lopu Guru mengaji) mendirikan sebuah Taman Pengajian di Kulawi pada tanggal 25 Maret 1960 sampai dengan tahun 1962. Juga di Daerah Tompi Bugis, Desa Salua, Desa Sidondo Kecamatan Sigi Biromaru 1979 hingga 1987, Desa Sioyong (989-1992), dan Desa Kayu Agung 1992- 1994.

***

Muhammad J. Wartabone mengikuti pendidikan Sekolah Dasar pertama kali di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Desa Tuwa Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Donggala dan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Inpres Desa Sidondo Dusun Rantekala Kecamatan Sigi Biromaru dan belajar pada Ustadz Abdun asal Pelawa Parigi Sulawesi Tengah (Murid Guru Tua al-Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua). Kemudian, melanjutkan pendidikannya secara formal di Madrasah Ibtidaiyah Alkhairaat di Kecamatan Kulawi, dibawah Asuhan Al-Ustad KH. Said Awad Abdun ulama keturunan Arab. Dari Kulawi, ia kemudian didaftarkan sebagai santri di Pondok Pesantren Alkhairaat Dolo, dibawah Asuhan Al- Ustad KH. Suaib Bandera Murid Guru Tua al-Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua). Melanjutkan dan menimba ilmu agama di Pesantren Daruttauhid, Malang, Jawa Timur, di bawah asuhan almarhum Syekh H. Abdullah bin Awad Abdun.

Muhammad J. Wartabone banyak mempelajari aspek spiritualitas Islam (baca: tasawuf) di sekitar pentingnya bersikap ikhlas, rendah hati (tawaduk), dan mengabdikan hidup semata karena Allah SWT. Di hari-hari berikutnya, semua pengalaman ketika menimba ilmu agama dari Palu hingga ke Jawa ini memberikan kesadaran kepada pribadi Muhammad  J. Wartabone tentang pentingnya pendidikan agama untuk membeningkan diri. Hal ini selaras dengan pepatah Jawa, “Banyu bening ngak bakal golek timbo (air bening tidak akan pernah mencari timba).”

Masa awal perjuangan setelah kembali dari pulau Jawa, Muhammad J. Wartabone aktif sebagai ramaja masjid (risma). Pada tahun 1998, ia menjadi Ketua Ramaja Masjid Jami’ Darussalam,  yaitu masjid besar yang berada di Kelurahan Tatura yang kerap disinggahi umat Islam di Kecamatan Palu Selatan, baik untuk melaksanakan ibadah atau untuk sekedar beristirahat. Kesibukan sebagai Remaja Masjid, Muhammad J. Wartabone mengikuti pendidikan S1 di dua Perguruan Tinggi, yakni: Pertama di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL Panca Bhakti Palu pada tahun 2000) mendalami ilmu administrasi negara dan politik. Kemudian yang kedua juga mengikuti Pendidikan Hukum Tata Negara di Universitas Muhammadiyah Palu pada tahun yang sama. Dari masjid ini, tali silaturahmi antara Muhammad J. Wartabone dengan warga sekitar Kota Palu terbangun dengan baik, hingga mengantarkannya berkenalan dan bergabung dengan sejumlah organisasi Islam lainnya di Kota Palu, seperti menjadi Sekretaris Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz Kota Palu (2001) dan Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) Sulawesi Tengah tahun 2002.

Ketika masih menjadi Risma Masjid Jami’ Darussalam, Muhammad berkenalan dengan bapak (alm.) Drs. H. Adjimin Ponulele. Dari beliau, Muhammad diantarkan masuk ke dunia politik melalui Partai Golkar. Aktifitas Muhammad J. Wartabone di Partai Golkar pun dimulai dari bawah, yakni sebagai kurir yang mengantarkan surat-surat partai. Dari sini, Muhammad J. Wartabone kemudian berkenalan dengan Drs. Lahade Romu yang pada saat itu menjabat sebagai Sekretaris Partai Golkar Kecamatan Palu Selatan (1998-2003).

Pada Musyawarah Partai Golkar tingkat Kecamatan Palu Selatan tahun 2001, H. Usman Tj. Lainti ditetapkan sebagai Ketua dengan Muhammad J. Wartabone sebagai Sekretaris Partai Golkar Kecamatan Palu Selatan. Kepercayaan ini membawa Muhammad J. Wartabone berkenalan serta membina tali silaturahmi dengan para decision maker Partai Golkar di Tingkat Kota dan Provinsi Sulawesi Tengah, seperti Prof. Drs. Aminuddin Ponulele, M.S., H. Baso Lamakarate, H. Rusdy Mastura, H. Suardin Suebo, S.E., H. A. Mulhanan Tombolototo, S.H. Berdasarkan ini, Muhammad J. Wartabone diberi kepercayaan oleh masyarakat Kecamatan Palu Selatan guna menjadi wakil mereka di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu untuk tiga periode sekaligus, yaitu di periode 2004-2009, 2009-2014, dan 2014-2019. Selain aktif di masjid, setelah selesai menempuh pendidikan di pesantren Daruttauhid Malang selama sembilan tahun, Muhammad J. Wartabone kembali ke Kota Palu di tahun 1998 dan mengabdikan diri berdasarkan pengetahuan agama yang ia miliki sebagai salah seorang guru di MTs SIS Aljufrie di Kelurahan Tatura Utara.

Rasa cinta tanah air tergugah pada tahun 2012-2018  sewaktu menjadi wakil Ketua Markas Komando Perjuangan Merah Putih Provinsi Sulawesi Tengah. Dua periode menjadi Ketua PDK Kosgoro Kota Palu (2008-2012) dan (2012-2016). Akhirnya menjadi Ketua Umum Markas Cabang Laskar Merah Putih Kota Palu (2012- 2016). Sedangkan untuk aktifitas di organisasi politik kepartaian, Muhammad J. Wartabone memiliki pengalaman sebagai: Ketua Pimpinan Kecamatan Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Palu Selatan (2002-2004), Ketua Pimpinan Partai Golkar Kecamatan Palu Selatan (2004-2009), Seksi Kerohanian Dewan Pengurus Daerah tingkat II (DPD II) Partai Golkar Kota Palu (2001-2003), Wakil Ketua AMPG Kota Palu (2004-2009), Wakil Ketua I DPD Partai Golkar Kota Palu (2009-2014), Ketua Lembaga Pengelolaan Kader (LPK) Partai Golkar Kota Palu (2009-2014). Pada periode ketiga menjadi Ketua Badan Kehormatan (BK) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu.

***

Tempaan demi tempaan pada tahun 2018 tepatnya hari Jumat, tanggal. 28 September 2018 terjadi gempa mendekati pukul 18.00 hampir magrib di Kota Palu Sulawesi Tengah. Pada waktu itu, Muhammad J. Wartabone pada pukul sekitar pukul 15.00 dari Kantor DPRD Kota Palu menjemput anak yang tertua Syech Madika Wartabone di SD Negeri 3 Palu, lalu kemudian menuju ke Kantor Yayasan Insan Cita Indonesia untuk rapat bersama tentang pelaksanaan zikir Akbar bersama Hj. Nilam Sari Lawira, Hj. Maimun Lawira, H. Nius Paruki, Andriansyah Mahid, dan Indra serta lainnya. Selesai rapat kemudian persiapan magrib terjadi gempa dahsyat Palu. Pada saat dua kali gempa telah mereda, beliau berusaha ke rumahnya di Petobo, namun tidak bisa lagi karena  jalan  mengalami merusakan akibat terjadinya likuifaksi yang menyebabkan kediamannya di Petobo Palu hilang. Rumah milik Muhammad J. Wartabone yang disebut rumah qubah ditelan bumi bersama rumah orang tuanya, sekolah Islamic Center dan pesantren yang dibangun dengan keringatnya luluh lantah bersamaan juga dengan gedung Majelis Ta’lim Indonesia berdzikir. Beliau terpisah dengan keluarga, nanti besoknya hari Sabtu baru bertemu dengan isteri, tapi anak perempuannya yang bernama Andi Ajwa Wartabone terpisah dari Uminya dan dinyatakan hilang hingga kini. Jiwa dan raga Muhammad J. Wartabone serasa lunglai dengan kejadian alam ini, semuanya beliau serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Inilah cobaan terbesar Sang legislator.

Semangat Beliau tidak berhenti karena gempa yang meluluhlantahkan Petobo kampung halaman Muhammad J. Wartabone, dan kembali bersemangat memacu insting politiknya pada pemilu  2018. Beliau  mencalonkan diri sebagai salah  satu dari 21 kandidat DPD Sulawesi Tengah. Bermodalkan semangat dan strategi politik bersama kelompok Ikatan Persaudaraan Perubahan Indonesia (IP2I) Muhammad J. Wartabone melalui tahapan pemilihan DPD RI. Pada tanggal 13 Mei 2019, hasil penetapan  Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulawesi Tengah Nomor 560/PL.01.8 KPT/72/PROV/V/2019 tertanggal 13 Mei 2019, beberapa nama calon legislatif (Caleg) berhasil lolos menjadi legislator baik ditingkat pusat maupun daerah. Muhammad J. Wartabone duduk sebagai urutan ke-4 utusan DPD RI dari daerah pemilihan Sulawesi Tengah. Keempat orang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI terpilih dari Sulawesi Tengah antara lain: 1. Luky Semen, 202.430 suara, 2. Abdul Rahman Taha, 182.389 suara, 3. Saleh Muhamad Aljufrie, 160.196 suara, dan  4. Muhammad  J Wartabone,  125.432 suara.  Sekarang ini Muhammad J. Wartabone telah menjadi anggota yang terhormat DPD RI periode 2019-2024 lembaran ini disebarkan di berbagai wilayah, antara lain: Wilayah Sulawesi Tengah, Makassar, Sidrap, Belawa, bahkan sampai ke Balikpapan. Buya Muhammad J. Wartabone menyebarkan selembaran ini selama kurang lebih 2 minggu pasca bencana Likuifaksi yang menimpa wilayah Petobo. Hal tersebut dilakukan dengan harapan beliau segera dipertemukan dengan putrinya yang bernama Andi Ajwa Wartabone.

Sumber: disarikan dari berbagai sumber.

*) Dosen Sejarah Untad

Ayo tulis komentar cerdas