Home Banggai Kepulauan

DLH Bangkep Bakal Genjot Karst Bangkep Jadi Geopark Internasional

33
Kadis Lingkungan Hidup (DLH) Bangkep, Ferdy Salamat. (Foto: Metrosulawesi/ Rifan Touk)

Bangkep, Metrosulawesi.id – Secara geologis, seluruh daratan Banggai Kepulauan (Bangkep) tersusun dari proses pelapukan batu gamping (karst) yang menciptakan berbagai keunikan bentang alam. Potensi alam itu memungkinkan Bangkep menjadi kawasan Geopark Internasional jika dikelola secara baik.

Pernyataan itu disampaikan langsung Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangkep, Ferdy Salamat saat ditemui  Metrosulawesi.id di ruang kerjanya, Kamis (9/7/2020).

Dijelaskan, konsep Geopark merupakan kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi terkemuka, termasuk geologi, ekologi, dan budaya. Terpenting dari itu, menurut Ferdy, adalah peran penting masyarakat yang terlibat aktif dalam upaya perlindungan dan peningkatan fungsi kawasan itu.

“Ya, karena di dalam konsep geopark itu sendiri ada unsur ekologi dan budaya yang membuka ruang penuh bagi masyarakat di sekitar kawasan karst untuk mengembangkan perekonomian masyarakat dan kearifan lokal yang ada,” terang Ferdy.

Olehnya itu lanjut Ferdy, sejauh ini pihaknya telah menyelesaikan berbagai administrasi yang mensyaratkan dimulainya pengelolaan karst Bangkep. Mulai dari inisiasi Perda Karst Bangkep, proses pembentukan tim, inventarisasi karst, kajian akademik, sampai terkahir penyusunan Rencana Aksi Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karst Banggai Kepulauan

“Bahkan rencana aksi kita, sudah saya masukkan di kementrian lingkungan hidup. hasilnya pun cukup memuaskan. Sebab kementrian menilai, Bangkep menjadi daerah paling parpipurna dalam penyusunan rencana pengelolaan karst,” ujar Ferdy.

Padahal, imbuh Ferdy kawasan karst di daerah lain telah lebih dulu memperoleh predikat Geopark Internasional dari UNESCO. Misalnya, Gunung Sewu di Jogjakarta dan Karst Maros di Makassar. Namun perencanaan pengelolaan karst di daerah itu masih dinilai kurang.

Tidak hanya sampai di situ, alumni Universitas Gajah Mada itu juga memanfaatkan rekan-rekannya yang aktif dalam berbagai NGO Lingkungan untuk mendapatkan dukungan dalam terobosannya itu.

“Kemarin waktu seminar webinar tentang Karst, Presiden Karst Indonesia memberikan dukungan ke kita. Teman-teman di Lembaga Burung Indonesia juga meminta untuk terus berkordinasi jika ada hal-hal yang dibutuhkan terkait itu,” kata Ferdy

Terkait itu, Putra dari Mantan Wakil Bupati Bangkep, almarhum Ehud Salamat  itu, juga akan mulai membangun kerja sama dengan Dinas Pariwisata Bangkep. Sebab Penyelenggaraan kegiatan pariwisata Geopark secara berkelanjutan dimaknai sebagai kegiatan dan upaya penyeimbangan antara pembangunan ekonomi dengan usaha konservasi.

Dikatakan dua kawasan yang lebih awal  akan ditawarkan ke Dinas Pariwisata untuk di kelola jadi kawasan geopark sekaligus geowisata yakni Danau Tendetung dan kompleks Danau Lemelu-Alani.

“Kenapa harus Tendetung dan Kompleks Lemelu -Alani? Karena kita ketahui bahwa danau ini unik. Airnya bisa habis selama enam bulan demikian. Juga sebaliknya. Lebih unik lagi dalam ruang lingkup akademik geologi tidak ada yang namanya danau karst. Tapi ternyata di Bangkep ada” pungkas Ferdy. (*)

Reporter: Rifan Touk

Ayo tulis komentar cerdas