Home Inspirasi

Jejak Wartabone di Sulawesi Tengah

42
Haliadi Sadi. (Foto: Metrosulawesi/ Syamsu Rizal)

La  Iboerahima  Putra  Mahkota Raja Wartabone 

Oleh: Dr. Haliadi Sadi, M.Hum. (Dosen Sejarah Untad)

LA IBOERAHIMA  Wartabone sebagai seorang putra Mahkota Raja Wartabone merupakan seorang ulama agama Islam di Lembah Palu dan menjadi awal mula adanya marga Wartabone di Lembah Palu Sulawesi Tengah. Beliau selalu juga dipanggil dengan sebutan Madika Bone di Bone Tatura dan Kerajaan (Kebaligauan) Tatanga Palu dan juga dipanggil Talibu atau Teibu di Bone Suwawa Gorontalo. La Iboerahima Wartabone Putra Mahkota Raja Wartabone yang lahir pada paruh akhir abad ke-18 di Bone Suwawa Gorontalo. Beliau bersaudara 5 orang, masing-masing Adik perempuan bernama Hadidah anak kedua, ketiga bernama Nino, anak keempat bernama Nuku Wartabone atau Walao Pulu yang menurunkan Nani wartabone (Pahlawan Nasional),  dan adik kandung kelima perempuan bernama Mio.

Membahas tokoh ini berarti kita akan menjelaskan secara mendalam apa yang telah dikembangkan oleh La Iboerahima Wartabone di Pulau Una-Una dan di Bone Tatura Palu Sulawesi Tengah dan tentu saja pengembangan agama Islam. Demikian juga dari marga yang bernama Wartabone tentu tulisan ini akan menjelaskan secara lebih tegas keberadaan marga Wartabone yang berada di Palu Sulawesi Tengah dan bukan yang ada di Gorontalo (Harto Juwono, 2005). Namun, tentu saja sebagai marga (keluarga besar) atau big family berarti memiliki kaitan yang erat secara genealogi dengan marga Wartabone yang ada di Gorontalo. Lebih daripada itu dia lahir dan besar dalam Kawasan Teluk Tomini yang mempengaruhi sosio politik Gorontalo pada masanya.

Pendekatan agama Islam sebagai sebuah ideologi Islam adalah pendekatan dakwah yang menduniakan Islam dalam diri manusia. Sebelum pengembangan agama Islam secara ideologi biasanya diperkenalkan dulu dengan cara mitologis. Mitos mempunyai sifat irrasional sedangkan mitos juga berguna dan bermanfaat sebagai suatu konsensus. Pemikirannya diarahkan pada pemikiran reseptif artinya menerima segala sesuatu sebagai kodrat. Manusia tidak mungkin dan tidak perlu mengubahnya. Ia harus menerima apa adanya (Suparlan Suhartono, 2004: 40). Setelah Islam ideologi maka agama Islam dilihat sebagai sebuah hal yang rasional dan subyektif. Ideologi memiliki sifat rasional dan subyektif serta berguna untuk sebuah kepentingan. Dalam ideologi mementingkan metodologi yang diarahkan pada hal-hal yang normatif. Ideologi juga mengajarkan cara berpikir yang tertutup. Selepas Islam sebagai ideologi baru masuk kepada pengembangan Islam Ilmu Pengetahuan. Periode ilmu ditandai dengan sifat yang obyektif. Metodologi ilmu pengetahuan mementingkan yang faktual. Dalam ilmu diajarkan tentang cara berpikir yang terbuka.

***

Latar belakang La Iboerahima Wartabone lahir di daerah Suwawa Gorontalo hingga mengembangkan Agama Islam di Lembah Palu Sulawesi Tengah. Tulisan ini akan menguraikan perjalanan La Iboerahima Wartabone dari Suwawa Gorontalo Una-Una-Bugis-Palu. Beliau kemudian dikuburkan di Kampung Potoya Sigi Sulawesi Tengah. Dia seorang ulama Islam bukan sebagai seorang Putra Mahkota Kerajaan Suwawa di Gorontalo karena dia meninggalkan kerajaannya hanya untuk Agama Islam. Dia mengembangkan agama Islam secara ideologis supaya agama Islam tertanam dalam diri manusia penganutnya di Lembah Palu Sulawesi Tengah.

La Iboerahima Wartabone memiliki nama Ibrahim dan tambahan “La” di depan namanya diberikan oleh orang-orang Bugis kepada orang yang ditokohkan atau dituakan. Dia juga sering dijadikan sebagai seorang “Topanritta63 Bone di Negeri Suwawa pada masanya. La Iboerahima Wartabone adalah Putra Mahkota Raja Wartabone biasa juga dipanggil Teibu atau juga Talibu di Gorontalo memiliki empat orang adik. Beliau adalah anak tertua dari Raja Wartabone yang pernah bertakhta di Kerajaan Suwawa tahun 1830-1849 dan pada masa tahun 1875-1880.

La Iboerahima Wartabone memiliki anak di Lembah Palu bernama Ladjontjo hasil perkawinannya dengan Roneama seorang perempuan dari Watusampu dan menetap di Ujuna Palu. Dari Ladjontjo inilah sehingga keturunan La Iboerahima Wartabone berkembang di Lembah Palu hingga kini. Menurut silsillah bahwa isteri La Iboerahima Wartabone yang bernama Roneama memiliki saudara antara lain Kamalo, Lanau, Donitora, Pudu, Siriapa (P), Roneama (P) dan Latunau.

Kepergian La Iboerahima Wartabone dari Gorontalo untuk mengembangkan agama Islam adalah karena semakin berkuasa Kolonial Belanda di wilayah Gorontalo. Pada masa kekuasaan ayahnya Raja Wartabone yang juga dikenal dengan nama Aruutta Bone atau Raja Arus Bone I telah menolak Kolonial Belanda yang berkeinginan untuk mengolah emas di wilayah Moloti atau Pinogu sekarang ini pada tahun 1800. Kemudian pada masa pemerintahannya ayahnya yang kedua pada tahun 1875-1880 juga telah menolak pelaksanaan kulturstelsel tanaman Kopi di daerah Sinandaha atau juga daerah Pinogu Sekarang ini (Jus Nadjamuddin, 1975: 9). Oleh karena Kolonial Belanda selain menganeksasi Kerajaan lokal di Gorontalo juga memiliki agama Kristen sehingga dia memilih untuk pergi meninggalkan kekuasaan ayahnya untuk mengembangkan agama Islam.

Perantauan awal beliau ke Pulau Una-Una tidak jauh dari Gorontalo untuk membina surau hingga berdirinya masjid tertua di Pulau Una-Una pada tahun 1812. Alasan utama beliau ke Pulau Una- Una adalah karena banyak warga Gorontalo terutama rakyat dari Kerajaan Bone Suwawa yang bekerja di Pulau Una-Una menjadi pemanjat kelapa. Di Pulau Una-Una beliau berkenalan dengan orang-orang yang tinggal di Pulau Una-Una yang kebanyakan berasal dari Kaili Sulawesi Tengah dan juga orang Bugis yang berasal dari Sulawesi Selatan. Pulau Una-Una pada masa ini adalah sebuah pulau yang subur dan memiliki potensi kelapa dan kopra yang sangat banyak. Masjid tua yang bernama Masjid Jami Una-Una adalah masjid yang indah yang bahan-bahannya berasal dari Singapura dan dikabarkan tegelnya dari Perancis.

La Iboerahima Putra Mahkota Raja Wartabone menjadi imam pertama di Pulau Una-Una yakni di sebuah Mushallah yang dirintis pada tahun 1812 sebelum Masjid Jami Una-Una atau Pulau Ringgit dibangun pada tahun 1814. Imam selanjutnya H. Muh. Nur atau Tuan Kodi atau Pua Kali, kemudian oleh Imam La Rasa. Imam Nawawi Laharun adalah imam setelah Pua Kali dan dilanjutkan oleh imam Abdul Wahid Senrima untuk kemudian diteruskan oleh Usman sampai akhirnya dipegang oleh Badrin Bin Taher La Iboerahima di tahun 2015. Masjid tua Una-Una ini dibangun atas inisiatif masyarakat yang disponsori oleh Ibu De Bula seorang kaya di Pulau Una-Una. Masjid ini juga sangat didukung oleh Raja Tua yang bernama Abdurrahman Laudjeng Dg. Materru. Pimpinan Tukang masjid Jami Una Una bernama Adebullah dan dibangun secara gotong royong oleh masyarakat Una Una.

Kemudian beliau merantau ke tanah leluhurnya di tanah Bugis yakni di Kerajaan Bugis Bone. Jaringan ini yang menjadi bukti perjalanan kitab ilmu falak yang dikembangkan nantinya di Sulawesi Tengah. Dia ke Ampana semasa kekuasaan Raja Remelino (1816- 1836) selaku raja perempuan Kerajaan Tojo waktu itu dan menyeberang ke Bunta lalu ke Kota Luwuk dan Banggai semasa pemerintahan Raja Mumbu Tenebak atau Raja La Ota (1815-1831) untuk kemudian naik kapal ke tanah Bugis melalui Kendari hingga ke daerah Bone. Angkutan yang dilalui adalah angkutan perahu-perahu Bugis yang pada waktu itu mereka telah melakukan aktifitas perdagangan ke wilayah-wilayah pantai sepanjang teluk Tomini termasuk Gorontalo. Kapal-kapal Bugis Makassar pada waktu itu juga telah disewa oleh orang Cina untuk mengangkut barang dagangan yang diperdagangkan pada waktu itu. Beliau menumpangi perahu-perahu yang datang ke Banggai menuju Bone dan Makassar untuk mencari keluarganya sekaligus belajar agama Islam. La Iboerahima di Bone Sulawesi Selatan belajar mengenai agama Islam di Kerajaan Bone semasa Raja La Mappasessu To Appatunru (1812- 1823) di Kerajaan Bugis Bone juga sebagai seorang ulama. Setelah merasa cukup belajar agama Islam di Bone kemudian beliau ke Makassar lalu ke Bungku semasa Raja Peapua Dongke Kombe (1841- 1947), kemudian melanjutkan perjalanan ke Bunta dan Tojo Una- Una lalu ke Kerajaan Parigi pada masa pemerintahan Raja Magau Baka atau Sawali (1821-1855) untuk kemudian ke Batusuya dan Enu semasa ayahanda Pue La Sadindi atau Mangge Rante yang bernama Yandara di pantai Barat leher Pulau Sulawesi lalu kemudian berakhir di Bone Tatura Palu Sulawesi Tengah. Bone Tatura waktu itu menjadi bagian dari Kerajaan Tatanga dibawah pemerintahan Baligau Lasatumpugi (1821-1846), dan beliau meminta izin sama Baligau untuk mengembangkan Islam di Bone Tatura. Beliau akhirnya mengembangkan Agama Islam di Bone Tatura Lembah Palu Sulawesi Tengah. Pada tahun 1842 masa kedatangan La Iboerahima Wartabone raja di Palu bernama Yolu Lemba (1835-1850), sementara Raja di Tavaeli bernama Yangge Bodu atau Magau Punggu (1812-1900).

Akhirnya, dia menetap di Lembah Palu tepatnya di Kerajaan Bone Tatura sebagai bagian dari Kerajaan Tatanga atau Kebaligauan Tatanga. Beliau mendapatkan gambaran yang baik mengenai Lembah Palu adalah sewaktu beliau menetap di Pulau Una-Una dan bergaul dengan orang Kaili sehingga menuntun dirinya untuk ke tanah Kaili Palu Sulawesi Tengah. Selain itu, dia adalah berdarah Bugis dan karena daerah Bone Tatura adalah pemukiman selain masyarakat kaili juga kebanyakan bermukim orang-orang Bugis  Bone yang menjadi warga kebaligauan Tatanga. Kebaligauan Tatanga kalau ditelusuri secara lebih mendalam ternyata dibangun oleh bangsawan Bugis bersama orang-orang Kaili sehingga menjadi sebuah kerajaan di Lembah Palu Sulawesi Tengah.

La Iboerahima Wartabone menikah di Palu dengan seorang gadis bernama Roneama. Roneama adalah seorang gadis baik-baik dari suku Kaili Palu Sulawesi Tengah. Hasil perkawinannya dengan Roneama melahirkan lima orang anak masing masing: Ladjontjo, Jahia, Habasia, Susapalu, dan Sawasia. Kelima orang inilah yang menurunkan keturunan yang bermarga Wartabone di Palu Sulawesi Tengah karena berasal dari La Iboerahima Wartabone seorang putra Mahkota Raja Wartabone di Kerajaan Bone Suwawa Gorontalo.

Agama Islam dilihat sebagai sebuah ideologi untuk menyatu dengan diri manusia sekaligus agama Islam dapat bermanfaat kepada hidup dan kehidupan manusia. Pengislaman atau proses Islamisasi dilakukan secara tasawuf misalnya pemahaman atas Allah SWT. dan Rasulullah Muhammad SAW. Dihubungkan dengan hidup dan kehidupan manusia. Beliau menyatakan bahwa nafas hidup itulah Allah SWT. dan nur kehidupan dari nafas itulah Muhammad SAW. Untuk kepercayaan ini supaya menjadi ideologi maka pemahaman kepada Allah SWT. Dan Muhammad SAW. adalah dinyatakan bahwa hidup zat Allah adalah cahaya hidup yang ditafsir menjadi Allah Taala namanya Tuhan Hidup, zat Tuhan dan hidup adalah Satu. Sementara, Nyawa Nur Allah adalah cahaya nyawa yang ditafsir menjadi Muhammad Nur Allah Taala itu juga nyawa itu pula Muhammad berasal dari hidup. Akhirnya tubuh Nur Muhammad ditafsirkan sebagai Muhammad Nur Muhammad itu juga tubuh itu pula Adam AS. karena asalnya dari Nyawa.

Demikian juga bahwa pelaksanaan ajaran shalat lima waktu dihubungkam dengan tubuh manusia dan bahkan dihubungkan dengan keluarga. Duhur empat rakaat dikaitkan dengan hadapan, belakang, lambung kiri dan lambung kanan. Sementara itu ashar empat rakaat berkaitan dengan tangan kiri, tangan kanan, kaki kiri, dan kaki kanan. Kemudian, tiga rakaat untuk shalat magrib berkaitan dengan lobang hidung kiri, lobang hidung kanan, dan satu mulut. Empat rakaat shalat isya dikaitkan dengan mata kiri, mata kanan, telinga kiri, dan telinga kanan. Terakhir adalah dua rakaat subuh berkaitan dengan nafas atau pikiran dan roh atau ingatan. Lebih jauh lagi, zuhur disimbolkan dengan huruf “alif” pada kepala, ashar disimbolkan dengan huruf “lam” pada leher, magrib disimbolkan dengan huruf “ha” di dada, isya disimbolkan dengan “mim” pada pusat, dan subuh disimbolkan dengan “dal” pada kaki.

Selain itu, ada ajaran “kutika” yang dipegang secara turun temurun oleh

keluarga dan murid-murid La Iboerahima Wartabone. Naskah ini adalah pemahaman dan sekaligus pegangan terhadap hari baik dan buruk untuk menjalani hidup dan kehidupan di dunia supaya aman dan sejahtera dalam hidup. Ajaran ini mengajarkan bahwa hari-hari sama dengan pemahaman hijriyah dan masehi bahwa hari itu ada tujuh hari yakni jumat, sabtu, ahad, senin, selasa, rabu, dan kamis. Setiap hari dibahagi lima yakni pukul 6  hingga pukul 8, 8-11, 11-12, 12-3, 3-8 dan selebihnya untuk istirahat di rumah. Waktu-waktu ini disimbolkan kedalam empat macam yakni tambah = hidup, orang = mayat / mati, sama dengan = pulang pokok, kosong = kosong dan segi empat titik ditengah = berisi.

Menurut riwayat yang dapat dipercayai kebenarannya, beliau wafat di Desa Dolo Potoya Kabupaten Sigi pada 7 Desember 1897. Sejak beliau mengembangkan Agama Islam di Lembah Palu Sulawesi Tengah beliau tidak pernah pulang ke Bone Suwawa Gorontalo untuk mengunjungi sanak saudaranya di sana, namun beliau selalu mengunjungi masyarakat Gorontalo di Batu Suya. Beliau mengabdikan dirinya hanya untuk keluarga yang dibangun di Palu Sulawesi Tengah dan Agama Islam yang dikembangkannya. Selama ini tidak pernah diungkap bahwa ada proses Islamisasi yang dikembangkan oleh tokoh La Iboerahima Putra Mahkota Raja Wartabone di Palu Sulawesi Tengah.

***

Jaringan perdagangan formal yang dibangun oleh Kolonial Belanda di bahagian Timur Pulau Sulawesi sebagaimana yang dijelaskan oleh Doktor Edwar L. Poelinggomang yakni: Jaringan perdagangan yang tersambung waktu itu adalah Bone (Pelabuhan Bajoe dan Pallime) – Wajo – Luwu – Buton – Muna – Sulawesi Tenggara dan ekspor ke Singapura. Jaringan ini digunakan oleh perjalanan La Iboerahima Wartabone yakni dari Bone, Muna, Kendari, Bungku, Banggai, Ampana, Una-una hingga ke Gorontalo. Kemudian, dari Una-Una ke Parigi Moutong lalu memotong leher Sulawesi ke Batusuya, Enu, Tavaeli dan berakhir di Ujuna Palu Sulawesi Tengah.

La Iboerahima Wartabone adalah seorang anak pertama Raja Wartabone dari Gorontalo sebagai seorang putra mahkota yang meninggalkan Kerajaan Bone Suwawa karena intervensi dari Kolonial Belanda. Beliau memiliki keluarga di Gorontalo, Pulau-Una- Una dan Togean, dan juga Keluarga di Palu Sulawesi Tengah. di Gorontalo beliau menikah dengan Nahaya di Bone atau Suwawa dan di Sulawesi Tengah beliau menikah dengan Roneama di Ujuna Palu Sulawesi Tengah. Di Ujuna Sulawesi Tengah, beliau memiliki lima orang anak yakni Ladjontjo, Jahiya, Habasia, Susapalu, dan Sawasia. Sementara di Gorontalo beliau memiliki tiga orang anak yakni Buna, Tangahu, dan Mitu. Mereka inilah yang menurunkan keluarga La Iboerahima Wartabone sebagai keluarga yang menggunakan marga Wartabone di Gorontalo dan di Sulawesi Tengah.

La Iboerahima Wartabone seorang putra mahkota Raja Wartabone adalah seorang ulama pengemban Agama Islam di Palu Sulawesi Tengah pada pertengahan abad ke-19. Beliau adalah seorang ulama Islam yang mengembangkan agama Islam secara ideologis sehingga ajaran Islam dapat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya di dunia ini. Beliau adalah seorang ulama abad ke-19 yang dilupakan dan memiliki kuburan di pekuburan tua Potoya Buli, Kampung Potoya Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Ajaran Islam yang dikembangkan di Palu Sulawesi Tengah adalah ajaran Islam ideologis karena Agama Islam dikorelasikan dengan hidup dan kehidupan manusia penganutnya sehingga menjadi ideologi yang bersifat normatif.

Sumber: diambil dari buku karya Haliadi dkk, Raja Wartabone:Bangsawan Bone, Ulama, dan Raja Suwawa, Palu, 2019.

Ayo tulis komentar cerdas