Home Inspirasi

Biografi Muhammad J. Wartabone (3)

41
Muhammad J. Wartabone.

MUHAMMAD  J. Wartabone adalah senator yang mewakili masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah pada Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia untuk masa bakti 2019-2024. Masyarakat provinsi tersebut memberikan amanah kepadanya setelah Muhammad J. Wartabone menyelesaikan tiga periode masa baktinya sebagai Anggota pada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu.

Selama masa baktinya mewakili masyarakat di Kota Palu, seperti yang sudah umum terjadi, cukup banyak intrik politik yang menguji keistikamahannya menjalankan amanat rakyat. Berangam intrik-intrik telah menguji keistikamahan hingga membentuk mentalitas komitmen dalam bidang sosial dan politik dari seorang Muhammad J. Wartabone yang berlatar belakang santri.

Sebagai pribadi yang pernah menimba ilmu pengetahuan agama Islam di pondok pesantren, Muhammad J. Wartabone menghadapi intrik-intrik politik dengan pemahaman bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah swt., senantiasa menitipkan hikmah di balik setiap ujian yang menimpa hamba-Nya. Salah satu di antara sekian banyak hikmah yang dipelajarinya adalah terbinanya kembali jalinan silaturahim antara Muhammad J. Wartabone dengan segenap keluarga besar Raja Wartabone di Gorontalo tanpa melupakan tanah kelahirannya di Kabupaten Sigi serta kewajibannya untuk mengabdikan diri bagi masyarakat di Provinsi Sulawesi Tengah. Berikut lanjutan  tentang perjalanan anak santri menjadi senator di menuju DPD RI untuk masa bakti 2019-2024.

Muhammad J. Wartabone: Dari Ruang Kelas sebagai Guru dan Dosen

Bagian yang juga perlu untuk digarisbawahi pada masa awal pembentukan karir Muhammad J. Wartabone di Kota Palu adalah aktifitasnya sebagai guru. Sejak tahun 1998 hingga 2002, selain menjadi risma, Muhammad J. Wartabone telah diberikan kepercayaan sebagai guru di Madrasah Tsanawiyah (MTs) SIS Aljufrie di Kelurahan Tatura Utara. Di madrasah ini, ia mengajar mata pelajaran Bahasa Arab dan Fikih.

Pada tahun 2000, sambil mengajar di MTs SIS Aljufrie, Muhammad J. Wartabone diminta untuk terlibat sebagai salah seorang pengasuh di Pesantren IQRA, Kota Palu. Di sini, membimbing para santri selama empat tahun (2000-2004) sembari mengajar di dua sekolah lainnya, yaitu di Sekolah Menengah Kejuruan dan STM Bina Potensi, Kota Palu.

Muhammad J. Wartabone tampak menikmati perannya sebagai guru dan sulit dipisahkan dari aktifitas transfer pengetahuan. Terbukti, meski telah disibukkan dengan beragam aktifitas rutin sebagai Anggota DPRD Kota Palu, ia masih menyempatkan diri untuk berbagi pengetahuan dengan mengajar pada almamaternya, Stisipol Panca Bhakti. Di kampus ini, Muhammad J. Wartabone pernah dipercaya sebagai dosen pengampu mata kuliah HAM dan Pembangunan.

Pengalaman berinteraksi di ruang kelas dengan siswa dan mahasiswa merupakan pengalaman yang berharga bagi Muhammad J. Wartabone. Meski pada awalnya hanya memahami aktifitas pendidik sebagai bagian dari ajaran Nabi Muhammad saw., dalam perkembangannya, Muhammad J. Wartabone menyadari bahwa aktifitas mengajar ikut menjadi bekal tersendiri baginya, yaitu kemampuan dalam menyampaikan gagasan, baik secara lisan maupun tulisan, kepada beragam kelompok masyarakat.

Pengalaman sebagai guru dan dosen juga memberikan wawasan tersendiri pada diri Muhammad J. Wartabone bahwa pendidikan merupakan faktor penentu utama dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia, khususnya di Provinsi Sulawesi Tengah. Pengetahuannya tentang ajaran Islam yang tidak membeda-bedakan antara pendidikan agama dan pendidikan non agama atau dimesi duniawi dan ukhwari turut berkontribusi hingga Muhammad J. Wartabone memiliki kesadaran tentang makna dari dimensi-dimensi pendidikan. Dalam konteks ini, ia berpandangan bahwa pendidikan agama dan non agama pada dasarnya tidak terpisahkan, melainkan bersifat komplementer atau saling melengkapi.

Allah swt., telah menganugerahkan kepada manusia nalar dan kitab suci secara bersamaan. Kedua anugerah ini hanya dapat dipelihara melalui keseimbangan antara pendidikan agama serta pendidikan umum yang berbasis pada temuan-temuan sains serta teori-teori sosial dan humaniora. Dalam perkembangannya, seperti yang akan terbaca nanti, prinsip saling melengkapi ini pula yang menjadi dasar bagi visi politik Muhammad J. Wartabone.

Muhammad   J.   Wartabone:   Legislator   dengan   Segudang Pengalaman Organisasi

Semua bentuk pengabdian kepada masyarakat, dalam pemahaman Muhammad J. Wartabone, tidak cukup bila hanya didasarkan pada pengetahuan yang didapatkan dari ruang kelas. Pengetahuan juga perlu dilengkapi dengan pengalaman dalam mengelola potensi sumber daya manusia, di mana hal ini dapat dipelajari melalui keterlibatan di dalam organisasi. Oleh sebab itu, sejak masih tercatat sebagai mahasiswa, Muhammad J. Wartabone telah aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, antara lain sebagai Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Stisipol Panca Bhakti Palu; Ketua Departemen Pengkajian Islam, Pengurus Cabang HMI Kota Palu; Sekretaris Umum Badan  Eksekutif  Mahasiswa  Stisipol  Panca  Bhakti  Palu (2002); Ketua Bidang Politik dan Ekonomi Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara (HIMAN) Stisipol Panca Bhakti Palu; Presiden Mahasiswa/Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Stisipol Panca Bhakti Palu (2003); Ketua Presidium Kongres Mahasiswa seIndonesia (KOMI) yang diselenggarakan di Yogyakarta (2002); dan Kooridnator Presidium Forum Komunikasi Mahasiswa Indonesia (FKMI) Kota Palu (2002).

Selain terlibat di berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan di atas, Muhammad J. Wartabone juga aktif di sejumlah organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan di Kota Palu, antara lain Ketua Cabang Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) Kecamatan Palu Selatan (2003); Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Angkatan Muda Islam Indonesia (AMII) Kota Palu (2004); Wakil Sekretaris dan Humas Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI) Propinsi Sulawesi Tengah; Ketua Forum Silaturahmi dan Komunikasi Anak Bangsa (FISIDKAB) Kota Palu; Wakil Ketua Komisi Bela Negara (2005-2009); Wakil Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Palu (2005-2008); Wakil Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Propinsi Sulawesi Tengah (2007-2010 & 2011-2013); Asisten Administrasi Komisariat Daerah (KOMDA) Alkhairaat Kota Palu (2008-2013); Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kota Palu (2008-2013); Ketua Ikatan Alumni Alkhairaat Kota Palu (2008-2012); Wakil Ketua Markas Komando Perjuangan Merah Putih Propinsi Sulawesi Tengah (2012-2018); Ketua PDK Kosgoro Kota Palu (2008-2012) dan (2012-2016); Ketua Umum Markas Cabang Laskar Merah Putih Kota Palu (2012-2016); Ketua Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Propinsi Sulawesi Tengah (2013-2018); Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Indonesia Berdzikir (2008-saat ini); dan Pengawas Yayasan Insan Cita Indonesia Pusat Sulawesi Tengah (2017-saat ini).

Muhammad  J.  Wartabone:  dari  Bencana  Likuifaksi  Menuju Senayan di Jakarta

Muhammad J Wartabone bersama keluarga.

Jumat, 28 September 2018, menjelang magrib, Muhammad J. Wartabone selesai melaksanakan rapat pelaksanaan zikir akbar bersama Hj. Nilam Sari Lawira, Hj. Maimun Lawira, H. Nius Paruki, Andriansyah Mahid, serta sejumlah peserta lain di Kantor Yayasan Insan Cita Indonesia. Ketika sedang bersiap melaksanakan salat magrib, gempa bumi berkekuatan 7,4 skala richter mengguncang Provinsi Sulawesi Tengah. Sadar akan kekuatan gempa yang sangat dahsyat itu, bersama anak pertamanya (Syech Madika Wartabone) dan keponakannya (Aditya Wartabone), Muhammad J. Wartabone bergegas pulang ke rumahnya di Kelurahan Petobo, Kota Palu.

Ketika tiba di lokasi rumahnya, Muhammad J. Wartabone tersadar bahwa gempa bumi yang sebelumnya ia rasakan bukan bencana biasa. Ia kesulitan untuk sampai di lokasi rumahnya, karena akses menuju lokasi terputus oleh timbunan lumpur dari bencana likuifaksi. Kelurahan Petobo merupakan lokasi likuifaksi dengan kondisi terparah di Kota Palu.

Dalam kondisi tidak adanya akses jalan dan malam yang gelap gulita akibat listrik yang ikut padam, dengan susah payah, Muhammad J. Wartabone berjalan kaki menuju kediamannya. Ia tidak menyangka bahwa rumahnya, rumah kedua orang tuanya, bangunan sekolah Islamic Center, beserta pesantren yang sedang ia rintis ikut hancur dan tak lagi berbentuk.

Malam itu, tidak satupun anggota keluarganya yang ia temukan di lokasi. Muhammad J. Wartabone baru menemukan dengan anggota keluarganya, istri dan anak-anaknya, pada keesokan harinya, Sabtu, 29 September 2019. Saat itulah ia diberi tahu bahwa salah seorang anaknya, Andi Ajwa Wartabone, hilang pada saat becana. Keluarganya mengkisahkan bagaimana kronologi hilangnya Andi Ajwa Wartabone.

Andi Ajwa Wartabone yang pada saat itu berusia 7 tahun sedang berada di rumah bersama ibunya, kedua adiknya (Sutan Maher Muhammad Wartabone [6 tahun] dan Andi Balvir Al Fatani Wartabone [3 tahun]), dan seorang anak berusia 15 tahun, bernama Elan, yang ikut tinggal di rumah mereka.

Ketika gempa bumi terjadi, istri Muhammad J. Wartabone, Nur Rahmi Hikma Djalali, segera menyelamatkan diri dengan membawa serta ketiga anaknya dan Elan. Melihat kondisi tanah yang mereka lalui terbelah-belah dan lumpur likuifaksi sedang mengalir, mereka melarikan diri ke arah barat untuk menyelamatkan diri. Seketika, tanah di sekitar mereka berdiri ikut terbelah. Bersama Elan, Andi Ajwa Wartabone lantas terpisah dari ibu dan kedua adiknya.

Dalam keterpisahan tersebut, istri Muhammad J. Wartabone terus berzikir dan memanjatkan doa agar terselamatkan dari musibah. Atas izin Allah swt., istri Muhammad J. Wartabone beserta kedua anaknya tiba-tiba berada di atas atap bangunan yang telah runtuh namun tidak ikut tersapu oleh lumpur likuifaksi. Tanpa disangka, dalam pelarian untuk menyelamatkan diri itu, salah seorang anaknya, Sutan Maher Muhammad Wartabone, membawa ponsel di dalam genggamannya. Dengan ponsel itulah ia menghubungi ayahnya, Muhammad J. Wartabone, dan mengabarkan bahwa mereka terselamatkan dari bencana.

Istri dan kedua anak Muhammad J. Wartabone tetap bertahan di lokasi mereka hingga pagi tiba. Bersama masyarakat yang ikut selamat dari becana gempa bumi dan likuifaksi di Kelurahan Petobo, mereka lantas berjalan ke arah selatan menyusuri timbunan lumpur dan rumah-rumah yang telah luluh-lantak, hingga tiba di Jalan Karanja Lembah, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Di lokasi inilah Muhammad J. Wartabone bertemu dengan istri dan anak-anaknya yang selamat dari bencana.

Dari Jalan Karanja Lembah, Muhammad J. Wartabone melanjutkan pencarian untuk menemukan anaknya, Andi Ajwa Watabone, dan ibundanya, Hajjah Lise S. Buu Sura. Dalam pencarian ini, ibunda Muhammad J. Wartabone berhasil diselamatkan dari dalam rumah yang hancur dan terseret aliran lumpur likuifaksi oleh lima orang warga Kelurahan Petobo, antara lain H. Haerul Bukhari, H. Mude Kalla, H. Nurdin, Heriyanto, dan Muhammad Fadil. Mereka lalu mengantarkan Hajjah Lise S. Buu Sura ke Puskesmas Bulili sebelum diantarkan ke pengungsian korban gempa yang terletak di Jalan Dewi Sartika, Kota Palu. Setelah menemukan ibundanya, adik-adik, dan anggota keluarganya, Muhammad J. Wartabone mengumpulkan mereka beserta istri dan anak-anaknya untuk tinggal bersama-sama di salah satu tenda darurat di lokasi pengungsian yang berada di Desa Loru, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi.

Dua hari berselang sejak pertemuannya dengan istri, anak-anak, dan ibundanya, pada Hari Senin, Muhammad J. Wartabone menemukan Elan. Akan tetapi, ia tidak lagi bersama dengan Andi Ajwa Wartabone. Berdasarkan keterangan dan kesaksian dari tujuh orang warga yang tinggal di pengungsian Ngata Baru, Andi Ajwa Wartabone berhasil diselamatkan oleh seorang bapak. Namun, sayang, ketujuh saksi tersebut tidak sempat menanyakan nomor kontak bapak tersebut.

Pencarian Andi Ajwa Wartabone terus dilakukan. Selain membagi-bagikan selebaran tentang anak hilang dan mencari di lokasi-lokasi pengusian di Sulawesi Tengah, pencarian diperluas hingga ke lokasi pengungsian koban gempa yang berada di Belawa, Sidrap, Makassar, dan di Kota Balikpapan. Tentu saja Muhammad J. Wartabone tidak sendiri di dalam pencarian ini. Ia mengakui, banyak pihak di luar keluarganya yang juga ikut terlibat. Untuk itu, ia tidak lupa mengucapkan terima kasih.

Dari sekian banyak pihak yang terlibat, salah seorang yang turut berperan penting di dalam pencarian ini adalah Dokter TNI Angkatan Udara, dr. Dwi Arie Chandra S. Dokter inilah yang memerintahkan Letnan Saiful untuk menemani Muhammad J. Wartabone melakukan pencarian Andi Ajwa Wartabone di pengungsian di Kota Balikpapan. Di sini, Muhammad J. Wartabone juga ditemani oleh sepupunya yang juga cucu dari Pahlawan Nasional RI, Nani Wartabone, yaitu Mohammad Akbar Wartabone.

Selebaran pencarian Andi Ajwa Wartabone sebagai bagian dari ikhtiar ayahnya, Muhammad J. Wartabone, pasca bencana alam di Sulawesi Tengah, tahun 2018.

Terkait Andi Ajwa Wartabone yang hingga saat ini belum ditemukan, Muhammad J. Wartabone beserta keluarganya masih menyakini bahwa nyawa buah hatinya ikut terselamatkan dari bencana dahsyat pada tahun 2018. Sembari tetap memelihara keyakinan akan kekuasaan Allah swt. yang melampaui kekuasaan apapun di muka bumi ini, Muhammad J. Wartabone senantiasa berupaya untuk menemukan hikmah di balik berat cobaan becana alam di Provinsi Sulawesi Tengah yang harus ia hadapi. Muhammad J. Wartabone meyakini bahwa Allah swt. tidak pernah membebankan ujian kepada hamba-Nya yang melampaui batas kemampuan hamba tersebut. Nas Alquran yang termaktub di dalam Surat al-Baqarah ayat ke-286 senantiasa dijadikan pegangan oleh Muhammad J. Wartabone setiap kali dihadapkan pada ujian yang, boleh jadi, bagi orang lain dipandang telah melampaui batas kewajaran. Oleh sebab ayat itulah, Muhammad J. Wartabone tidak pernah berputus asa dan berhenti memohon Kasih Sayang dan Keridaan Allah swt. Agar senantiasa menyertai langkahnya.

Dalam segala keterbatasan dan ujian berat yang belum usai pasca bencana alam di Pronvisi Sulawesi Tengah, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Muhammad J. Wartabone memantapkan hatinya untuk terus memperjuangkan kemaslahatan bagi masyarakat. Pada perhelatan Pemilihan Umum 2019, ia memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai salah seorang kandidat Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mewakili masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah.

Keputusan Muhammad J. Wartabone untuk ikut dalam kompetisi politik di skala nasional merupakan lompatan yang tidak lazim, mengingat karir politiknya sebelum itu terbatas pada skala Kota/Kabupaten. Meski demikian, dalam pandangan Muhammad J. Wartabone, selama niat untuk kebaikan dibarengi dengan fokus dan kerja keras yang tersusun secara sistematis, Allah swt. Tentu akan melihat serta menciptakan sebab-sebab yang mendorong   bagi terwujudnya niat baik tersebut. Di sini, sebagai pribadi yang senantiasa menjaga karakter santri dalam jiwanya, Muhammad J. Wartabone jelas tidak sedang berhipotesis tanpa dalil, karena pandangannya di atas, pada dasarnya, merupakan pemahaman yang didasarkan pada ungkapan Imam ‘Ali Karrama Allah Wajhah yang pernah menyatakan bahwa kebenaran yang tidak diperjuangkan secara sistematis akan kalah dengan kebatilan yang sistematis (al-haqq bila nizham yaghlibuhu al-bathil bi nizham).

Berbekal keyakinan di atas berikut strategi politik yang ia susun bersama Ikatan Persaudaraan Perubahan Indonesia (IP2I), Muhammad J. Wartabone berhasil mendapatkan 125.432 suara sebagai wujud kepercayaan  dan amanah dari masyarakat di Provinsi Sulawesi Tengah untuk berjuang di Pusat Pemerintahan RI.

Dr. Muhammad J. Wartabone, S.Sos., S.H., M.H.I., secara resmi ditetapkan sebagai salah seorang dari lima anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI terpilih dari Provinsi Sulawesi tengah untuk periode 2019-2024 berdasarkan Surat Keputusan (SK) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulawesi Tengah Nomor 560/PL/01/8 KPT/72/PROV/V/2019,

Muhammad J. Wartabone: Santri yang Mengabdi Demi Umat dan Bangsa

Tumbuh dari keluarga religius dan pengalaman menempuh pendidikan di dua pesantren terkemuka di Indonesia sudah tentu memberikan warna tersendiri di dalam kehidupan dan alam pikiran Muhammad J. Wartabone. Hal yang sama juga berlaku dengan pengalaman yang ia dapatkan dari jenjang perguruan tinggi, organisasisi sosial-religius, dan kepartaian. Semua pengalaman ini, pada akhirnya, membentuk visi, misi, dan gagasan politik Muhammad J. Wartabone.

Ada dua hal yang senantiasa menjadi perhatian utama dari Muhammad J. Wartabone, yaitu dimensi keumatan dan kebangsaan. Kedua dimensi ini memiliki sumber rujukan yang berbeda. Bila dimensi keumatan didasarkan pada ajaran-ajaran agama, maka dimensi kebangsaan didasarkan pada doktrin nasionalisme.

Dari sumber-sumber bacaan serta pengalamannya berinteraksi, baik sosial maupun politik, Muhammad J. Wartabone menemukan bahwa agama dan nasionalisme tidak selalu berjalan seiring di dalam ritme yang sama. Seringkali, bahkan, ia menemukan kelompok- kelompok masyarakat yang meletakkan keduanya di dalam posisi yang saling berlawanan. Padahal, catatan sejarah telah menunjukkan bahwa nilai-nilai religius merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sadar akan fakta sejarah di atas, dan didukung oleh perspektif kaidah yurisprudensi peninggalan ulama salaf yang mengedepankan pencarian titik temu dari dua hal yang terkesan berlawanan (al-jam’u wa al-tawfiq), Muhammad J. Wartabone berpandangan bahwa keselarasan antara nilai-nilai di dalam dimensi keumatan dan kebangsaan merupakan satu visi politik dan pemerintahan yang harus senantiasa ia perjuangkan.

Muhammad J. Wartabone memberikan ceramah.

Berbekal  wawasan  sejarah  tentang  misi kenabian Muhammad saw., Muhammad J. Wartabone menyadari bahwa cakupan umat tidak terbatas pada kelompok masyarakat Muslim semata. Dalam konteks ini, Kota Madinah di masa kepemimpinan Nabi Muhammas saw. merupakan kota yang dihuni oleh masyarakat yang majemuk, yang berasal dari beragam dan suku. Oleh karena itulah, tidak mengherankan bila para ahli di bidang sosial dan kemasyarakatan memuji kondisi Madinah pada masa tersebut sekaligus menetapkan kota ini sebagai contoh ideal bagi bentuk masyarakat berperadaban, yaitu masyarakat sejahtera dengan sistem dan hukum yang dirumuskan berdasarkan kesepakatan bersama serta saling menghargai perbedaan yang ada.

Khusus  terkait  wilayah yang  ia wakili, Muhammad J. Wartabone lantas meramu gagasan civil society masyarakat Kota Madinah dan menurunkannya ke dalam konsep Serambi Haramain sebagai julukan baru bagi tanah kelahirannya, Provinsi Sulawesi Tengah. Gagasan Serambi Haramain merupakan  sintesis  dari dua  provinsi  di Indonesia yang  sudah lebih dulu dijuluki dengan Serambi Mekah (Aceh) dan Serambi Madinah (Gorontalo).

Guna mendukung gagasan di atas, selama menjabat sebagai anggota DPRD Kota Palu, Muhammad J. Wartabone aktif dalam mendorong penelitian-penelitian tentang sejarah Islam di Provinsi Sulawesi Tengah dengan melibatkan  para  pakar  dari  Universitas  Tadulako  Palu,  Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, dan Universitas Hasanuddin Makassar. Selain berhasil menyajikan narasi baru, salah satu hasil utama dari penelitian  tersebut adalah  ditemukannya petunjuk bahwa Islam telah sampai dan menyebar di Sulawesi Tengah sejak abad kedua Hijriah. Kesimpulan ini diambil berdasarkan temuan makam Imam Sya’ban bertarikh 705 M. yang terletak di Kabupaten Banggai Kepulauan, Lolantang, Pulau Peling, Sulawesi Tengah. Sejalan dengan fakta ini, dalam pandangan Muhammad J. Wartabone, tidak berlebihan bila Provinsi Sulawesi Tengah menasbihkan wilayahnya sebagai Serambi Haramain.

Haramain atau al-Haramayn merupakan sebutan lain bagi dua kota, yaitu Kota Mekah dan Madinah. Bagi Muhammad J. Wartabone, kedua kota ini tidak dapat dipisahkan mengingat, selain merepresentasikan wilayah, Haramain sejatinya merupakan garis waktu yang mensimbolkan perjalanan dari keterbelakangan sosial menuju kondisi masyarakat berperadaban di bawah pemerintahan yang amanah. Provinsi Sulawesi Tengah sebagai Serambi Haramain niscaya dipahami dalam pengertian ini.

Muhammad J. Wartabone: Legislator Nasional yang Kembali ke Desa

Sejak bertugas secara resmi sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Muhammad J. Wartabone duduk sebagai wakil Provinsi Sulawesi Tengah pada Komite IV dengan mitra kerja dari lingkup eksekutif yang terdiri dari Kementerian Keuangan RI, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI, Kementerian PPN/BAPPENAS, Badan Pemeriksa Keuangan RI, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawasan dan Pembangunan (BPKP), Lembaga Penjaminan Simpanan, dan Badan Kepegawaian Daerah.

Selain bermitra dengan kementerian-kementerian dan lembaga-lembaga di atas, bersama para anggota di Komite IV lainnya, Muhammad J. Wartabone ditugaskan untuk mengawasi Pelaksanaan Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta Pelaksanaan Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, khususnya terkait dengan keuangan desa.

Dari tiga fungsi utama DPD RI, yaitu fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran, dalam pandangan Muhammad J. Wartabone, fungsi pengawasan merupakan fungsi yang paling penting. Sebagai perwakilan daerah yang memahami dengan baik alur manajemen, yang dimulai dari perencananaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan, ia menyadari bahwa tidak sedikit kebijakan negara yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat, yang telah dilegislasi dan diberikan anggaran, belum mampu memberikan hasil maksimal bagi masyarakat yang dituju karena fungsi kontrol yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Muhammad J. Wartabone memandang bahwa keberadaannya di Komite IV, yang diberi tugas untuk mengawasi implementasi UU No. 20 Tahun 2008 bagi pelaku usaha mikro, kecil, menengah, serta UU No. 6 Tahun 2014 merupakan suatu tantangan tersendiri. Ia menyadari bahwa tugas tersebut tidak ringan, mengingat kaitannya dengan kelompok masyarakat menengah ke bawah serta yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan pronvinsi.

Muhammad J Wartabone, Anggota Komite IV DPD RI.

Latar belakang pribadinya sebagai legislator yang lahir dan tumbuh di desa serta memulai karir politik dari level paling bawah telah membentuk Muhammad J. Wartabone untuk memahami permasalahan masyarakat pedesaan serta problem perekonomian masyarakat menengah ke bawah. Oleh sebab itu, sejumlah agenda dalam kapasitas serta kewajibannya sebagai anggota DPD RI telah ia susun, salah satunya adalah dengan aktif mengawasi penyaluran serta penggunaan dana desa.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, Provinsi Sulawesi Tengah memiliki 1842 desa. Khusus pada 2020, Pemerintah Pusat telah menganggarkan 1,6 triliun untuk keseluruhan desa di provinsi ini. Muhammad J. Wartabone memiliki tugas untuk memastikan bahwa dana yang telah disediakan tersebut dapat tersalurkan dan termanfaatkan sesuai dengan program-program pengembangan yang ada pada setiap desa. Dengan anggaran desa yang rata-rata hampir 1 miliar, Muhammad J. Wartabone berharap agar dana yang telah disediakan dapat digunakan untuk program-program yang dapat mendorong pengembangan ekonomi masyarakat kecil dan menengah yang ada di desa-desa di Provinsi Sulawesi Tengah.

Dari interaksinya dengan masyarakat desa di provinsi yang diwakilinya, Muhammad J. Wartabone percaya bahwa setiap desa di Sulawesi Tengah pada dasarnya memiliki kekhasan potensi yang dapat dikelola sebagai sumber masyarakatnya dalam bentuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM), sehingga visi pemerataan ekonomi dapat direalisasikan. Hanya saja, kemampuan dalam membaca peluang merupakan kendala tersendiri yang kerap dialami oleh masyarakat di desa.

Guna menyelesaikan kendala di atas, dalam setiap kesempatan interaksinya, Muhammad  J. Wartabone berkomitmen untuk menyusun pemetaan potensi ekonomi yang ada di tiap-tiap desa bersama dengan pemerintahan desa dan masyarakatnya. Potensi-potensi yang telah diidentifikasi akan dirumuskan ke dalam rencana aksi dan dijalankan secara gotong royong oleh tim desa yang telah dibentuk. Ia memahami bahwa produk desa kerap terkendala media pemasaran serta jalur distribusi. Oleh sebab itu, ia juga telah memikirkan solusi agar masyarakat desa dapat memanfaatkan beragam media pemasaran, termasuk aplikasi media daring (online) serta membuka akses distribusi yang memungkinkan produk-produk hasil desa di Pronvisi Sulawesi Tengah dapat tersalurkan dengan baik. Baginya, hanya dengan gagasan ekonomi yang terintegrasi dimulai dari bawah yang ditindaklanjuti dengan kesungguhan niat dan tindakan, maka ekonomi masyarakat kecil dan menengah di desa dapat dirasakan manfaatnya secara luas. (*)

Ayo tulis komentar cerdas