Home Artikel / Opini

Bisnis di Era Covid-19, Tunggu Apa Lagi?

47
Nur Sangadji. (Foto: Ist)

Oleh: Muhd Nur Sangadji*

SAYA mendapat pesan di sebuah grup WA. Isinya berikut ini. “Presiden Trump mengajak semua negara untuk memboikot China. Rakyat China memandang ini sebagai peluang bisnis. Mereka ramai-ramai membuat “T-Shirt bertuliskan Boycott China Make America Great Again”. Ternyata, terdapat keuntungan dari setiap kejadian”.

Saya langsung teringat kepada seorang sahabat, Ikenaba. Beliau orang Jepang. Pemegang sejumlah proyek JICA jepang di Indonesia timur. Dia bertanya kepada saya satu ketika. Apa yang bisa dimanfaatkan Indonesia pada saat terjadi ketegangan antara Jepang dan Korea selatan ? Saya benar-benar tidak mengerti maksud pertanyaan tersebut.

Ikenaba lalu menjelaskan. Begini. Bila dua negara ini tegang. Baik, secara diplomatik bahkan perang. Maka, putuslah hubungan dagangnya. Barang publik yang dibutuhkan dari masing-masing kedua negara tersebut akan terhenti. Nah, apa yang bisa diperankan Indonesia untuk mensubtitusi atau menyambungkan rantai pasok yang terputus tersebut. Saya terkesima. Betapa peluang bisnis itu begitu tersedia. Bahkan, pada saat orang lain sedang bersengketa.


Siang kemarin, kawan di RRI menelepon saya. Mereka minta komentar terkait peluang usaha di era pandemi Covid-19. Apa yang bisa diperankan mahasiswa dan atau alumni perguruan tinggi pada situasi seperti ini? Situasi, di mana banyak karyawan dirumahkan. Banyak pegawai “stay at home”. Hotel, restoran dan dunia usaha lainnya lesu. Apa yang diberikan oleh dunia pendidikan?

Saya bilang. Di saat inilah dunia pendidikan harus mengukur esensi dan substabsi yang paling hakiki. Apakah yang mereka didikan dan ajarkan selama ini tepat sasaran? Kesempatan untuk mengevaluasi (self evaluation).

Pendidikan itu, menyiapkan generasi untuk hadapi kehidupan. Untuk itu, para pendidik mesti bekali manusia terdidik dengan pengetahuan. Dan, dengan kemanpuan berbuat sesuatu. Serta, dengan kesungguhannya untuk menjadi sesuatu. Akhirnya, dengan kemauan untuk bisa hidup bersama. Orang Jepang menyebutnya kerja sama. Sementara, institusi kita melabelkan keseluruhan tujuan pendidikan ini dengan terciptanya “manusia Indonesia seutuhnya”.


Dengan begitu, maka anak didik kita sudah disiapkan untuk tengahi keadaan serumit apa pun. Kini, kerumitan itu bernama Covid-19. Lantas, apa yang bisa mereka bikin dalam situasi ini? Saya mencoba memonitor dengan cara beri tugas. Saya minta mereka mengirimkan foto diri dan atau video tentang kegiatan pertanian yang mereka lakukan selama masa pandemi covid-19.

Saya dapat banyak cerita menarik. Ada mahasiswa yang menanam pada saat pulang libur karena pandemi. Ada yang telah terbiasa sejak SLTA. Tapi, ada juga yang baru menanam ketika diberi tugas. Ini gambaran tentang perilaku manusia dalam menghadapi situasi. Terbiasa, terpaksa atau dipaksa. Saya berpandangan, kepekaan manusia itu bisa dibentuk. Di mana? Di institusi pendidikan.

Emil Salim, pakar Lingkungan Indonesia mengkonkritkannya. Beliau bercerita tentang anak SD di Taiwan yang saban waktu dibawa di areal yang banyak batunya. Berlimpah sebagai potensi. Selalu begitu sampai satu waktu, orang mengenal Taiwan sebagai pengeskpor batu asah nomor satu di dunia.


Masih Di Taiwan. Orang mengembangkan peternakan kepiting berdarah biru. Beternak kepiting untuk disedot darah birunya secara periodik. Kemudian dilepas kembali. Darah kepiting ini adalah bahan pembuatan cairan kalibrasi pengganti alkohol untuk pesawat ulang alik ruang angkasa.
Emil juga menginformasikan tentang pengembangan peternakan kecoa. Ini sebagai bahan baku obat jantung koroner. Intinya, dengan sumberdaya alam yang amat terbatas, mereka berkreasi demikian hebatnya. Bagaimana dengan kita? Salah satu bangsa yang dijuluki mega biodiversitas dunia. Tentu, peluang itu lebih terbuka.

Sekarang tinggal generasi milinial sebagai taruhan. Apakah sanggup memanfaatkan peluang ini. Atau terpuruk akibat rendahnya “mind set” dan inovasi. Sementara teknologi produksi dan informasi tersedia. Bahan baku di alam pun berlimpah. “Stay at home”, tidak masalah. Karena, meskipun hanya di rumah, semua bisa terhubung. Maka, tidak ada lagi alasan untuk diam statis. Peluang begitu terbuka. Tunggu apa lagi?
(*Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah)

1 COMMENT

Ayo tulis komentar cerdas