Home Senggang

Dokumen Bersampul Merah

36

MITA, malam itu, tak bisa tidur. Berjam-jam dia memejamkan matanya di kasur empuk, namun belum juga hilang kesadarannya. Kegelisahan terus menderanya. Sekali-sekali dia bangun, selain untuk buang air kecil di toilet, dia juga—dengan sangat pelan—membuka tirai gorden untuk mengintip keluar. Setelah itu masuk lagi ke kamar. Hingga menjelang subuh perempuan setengah baya dan berkarier sebagai pejabat penting di sebuah kementerian ini belum juga menikmati indahnya tidur.

Usai azan subuh di masjid perumahan tempat tinggalnya yang mewah itu, Mita kaget. Jantungnya berdebar-debar. Seakan mau copot. Dia terus merapatkan kedua tangannya di bagian dada. Dibukanya pintu kamarnya lalu menuju ke ruang tamu. Dia mengintip ke luar siapa gerangan yang mengetuk pintu di waktu subuh ini. “Ah… Aku bersyukur. Ternyata yang datang adalah suamiku.” Mita lalu membuka pintu. Suaminya yang menjinjing koper kulit warna coklat itu terus memandangi wajah istrinya dengan mimik penuh tanya.

“Kenapa Mama pucat? Ada apa?” Sang suami tak tahan lagi untuk mengungkapkan keheranannya.

“Bagaimana tidak pucat, Pa. Hingga subuh menjelang pagi ini aku belum pernah tidur, sedikit pun,” Mita memelas.

“Apa yang dipikir?”

“Aku gelisah. Aku takut.”

“Soal apa?”

“Soal apa lagi kalau bukan kabar yang disampaikan Ibu Sisi, sahabatku yang banyak kenalannya di lembaga penegak hukum itu. Ibu Sisi menasihati kita berdua agar selalu waspada. Katanya, siasat kita sudah tercium oleh penegak hukum. Pa, jangan pandang enteng Ibu Sisi, bukankah dia yang dulu menyampaikan kepada kita bahwa ada lagi seorang kepala daerah, maksudku bupati dan sejumlah anggota DPR, yang akan ditangkap minggu ini oleh penegak hukum. Informasi rahasia itu terbukti kan, Pa?”

“Iya, Ma. Aku tidak pandang enteng siapa pun yang memberi informasi kepada kita, termasuk dari Ibu Sisi. Tapi boleh kan kali ini aku tidak percaya tentang apa yang disampaikan Ibu Sisi itu. Aku ini pulang subuh. Artinya, semua sudah aku amankan. Tak ada lagi berkas-berkas yang tersisa yang dapat menjadi saksi nyata kalau aku dan Mama telah bekerjasama dalam proyek milyaran itu. Bukan hanya menghilangkan barang bukti itu, Ma. Orang-orang dekat yang mengaku bisa membungkam nyali para penegak hukum itu, juga sudah aku serahkan hak-hak pengamanannya. Jadi apa lagi yang membuat Mama gelisah dan takut. Lebih baik Mama buatkan aku kopi susu. Papa kurang tidur. Orang-orang yang aku temui itu selalu berpindah-pindah tempat. Ya, dari hotel ke hotel. Siapa sih Ma di negeri ini yang tidak tergiur dengan uang milyaran rupiah, meski prosesnya tidak wajar alias haram?” Sang suami tiba-tiba memeluk istrinya. Usai pelukan itu, istrinya pun ke dapur membuatkan kopi susu buat sang suami.

“Mantap benar kopi susunya. Duduklah di sampingku. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan. Ma, siapa sebenarnya Ibu Sisi itu. Kelihatannya Mama sangat akrab dengannya.”

“Papa curiga ya sama Ibu Sisi? Pa, dia itu sahabatku yang bisa dipercaya. Sudah seperti saudara sendiri.”

“Jadi Mama menceritakan semua? Termasuk tentang dokumen bersampul merah yang kita robek-robek lalu meremukkannya ke dalam kloset?” Sang suami menatap istrinya dengan mata tak berkedip.

Istrinya tidak menjawab. Dia balik menatap mata suaminya yang juga tak berkedip. Dia hanya mengangguk pelan. Lalu tunduk. Diam.


SUAMI ISTRI ini sudah satu bulan mendekam di rumah tahanan. Semua tuduhan penyidik tentang penyalahgunaan anggaran milyaran rupiah terbantahkan dengan kelihaiannya membumihanguskan barang bukti. Namun ketika penyidik memperlihatkan sebuah dokumen bersampul merah yang sudah berserakan, Mita dan suaminya tiba-tiba membisu. Keduanya saling menatap. Tak mengeluarkan kata-kata. Hanya embusan nafas pelan. Di saat penyidik meninggalkannya sejenak, sang suami berbisik ke telinga istrinya: siapa itu Ibu Sisi, Ma?

Pertanyaan suaminya itu membuat Mita terpukul. Ada secuil dendam terpancar di wajahnya. Ingin rasanya meremuk wajah Sisi, wanita yang selama ini dianggapnya sebagai sahabat setia itu. Andaikan penyidik tidak keburu datang memeriksanya, Mita ingin menceritakan kepada suaminya siapa sesungguhnya Sisi itu. Termasuk hubungan rahasia bersamanya, khususnya ketika sang suami mengerjakan proyek di luar kota. Juga menikmati indahnya menginap di hotel berbintang, berduaan. “Ah, ingin rasanya saya membunuhnya!” Mita menarik nafas dalam.

Wajah Sisi yang putih ayu dengan hidung mancung itu seakan berputar-putar mengitari wajah Mita, seperti kupu-kupu berwarna pelangi yang sedang terbang rendah lalu hinggap di bunga melati yang tak bermadu lagi. (*ANDI WANUA TANGKE, cerpenis, tinggal di kota Makassar, Sulawesi Selatan)

Ayo tulis komentar cerdas