Home Artikel / Opini

Berdamai dengan Covid-19

69
ILUSTRASI - Covid-19. (Foto: Ist/ gatra)

Oleh: Farida Milias Tuty*

MANUSIA adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dengan segala kelebihannya namun juga dengan hazard yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Covid-19 seperti bintang baru dalam pembicaraan dunia dan menurut pengamatan penulis tidak ada bintang atau topik manapun yang selama ini mengalahkan “si Covid-19”. Segala topik dibahas antara lain: bagaimana melawan Covid-19, transaksi tunai dan non tunai di era Covid-19 atau tekanan IHSG dan ujian nasionalisme di masa pandemi Covid-19.

Bagi penulis, adalah menarik ditelisik lebih santai adalah bagaimana masyarakat kota versus masyarakat perdesaan dalam tuntutan “ Berdamai dengan Covid-19. Sejak ditetapkan sebagai masalah internasional, bahwa kita sedang berperang dengan Covid-19. Berbagai slogan yang cenderung menekan orang untuk tetap diam di rumah, menjaga jarak, memakai masker dan hingga pembatasan sosial antara manusia seakan mengubah kehidupan kita 180 derajat. Apa iya kita hanya berdiam di rumah sementara kita perlu makan dan perlu kebutuhan hidup.

Tanggal 17 Maret 2020 seakan dimulainya “genderang perang terhadap Si Covid-19”. Anak-anak sekolah mulai belajar dari rumah, semua aktifitas dilakukan dari rumah yang sudah jelas kita tidak siap menghadapi keadaan yang memaksa untuk melakukan semua aktivitas dari rumah atau di rumah saja.

Aktivitas dari rumah tidak akan terlalu bermasaalah bagi orang-orang kalangan menengah ke atas yang pada dasarnya di rumah mereka sudah tersedia jaringan internet dengan kekuatan memadai untuk melakukan interaksi. Namun bagaimana dengan segolongan orang orang dengan berbagai kendala harus urus sekolah anak-anak, urus kerjaannya sendiri via internet dengan tentunya lini masa yang tetap dan bersamaan. Suami dan istri kerja dan saat itu tidak diliburkan namun anak-anak menjalani proses belajar, ujian dari rumah, sehingga dapat dibayangkan apa yang terjadi? Hingga ada beberapa tulisan emak-emak butuh ke psikiater? Hal ini dihadapi baik emak-emak di perdesaan maupun di perkotaan yang membedakan adalah di kota, ketakutan orang untuk bersosialisasi sangat tinggi dan tidak demikian di desa.

Tidak mudah memang keadaan ini karena orang tua harus menjaga anak dengan sistem pengalihan proses belajar menjadi tanggung jawab orang tua di rumah namun dia juga harus masuk kantor. Keadaan ini dapat menjadi tidak terlalu masalah jika salah satu orang tuanya terutama ibu bukan pekerja kantoran. Namun, kita dapat menebak bagaimana peluang seorang ibu dapat melakukan hal tersebut dengan baik apalagi jika anak-anaknya yang menghadapi keadaan ini lebih dari satu. Keadaan ini yang harus disikapi oleh semua pihak dengan bijak.

Bagaimana dengan mahasiswa. Mahasiswa mempunyai masalah yang berbeda. Mereka pada umumnya ada yang berasal dari luar Kota Palu dengan akses internet loading lama alias lalot istilah mereka sehingga google classroom yang ada pada dasarnya dapat memfalitasi dosen dan mahasiswa menjadi terkendala akibat akses mahasiswa yang berada di kampung halaman membutuhkan perjuangan berpuluh kilo meter untuk dapat ikut kuliah dan tentunya relatif tidak murah bagi kantong mereka.

Segala macam yang sudah penulis ungkapkan tadi semua dapat ditunda atau dapat diurus dengan lag tertentu akan menemui penyesuaian oleh masing-masing pihak yang terlibat. Ada hal yang dalam kehidupan ini yang tidak dapat ditunda yaitu urusan perut. Urusan makan anggota keluarga tidak dapat ditunda apalagi dengan adanya anjuran di rumah, jalanan menjadi sepi, tempat usaha banyak ditutup dan yang paling sedih adalah banyaknya perusahan yang merumahkan sementara pegawainya atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pegawainya tanpa pesangon. Rumah tertutup seakan mencurgai semua orang positif dan akan menularkan Covid-19.

Semua pasti panik apalagi orang-orang kota yang bekerja dengan interaksi pastilah menjadi masalah besar bagi mereka dengan berbagai tuntutan hidup yang pada umumnya termoneterkan dari kebutuhan A sampai sampai kebutuhan Z. Ojol Sepi, Opal, warung sepi semuanya menjadi sepi yang berdampak pada dompet mereka menjadi kosong.

Ada beberapa kios kebutuhan rumah tangga di kota akan tetap didatangi oleh pelanggannya katanya dengan sistem pesanan daring. Jika pesanannya sudah siap si pemilik akan menghubungi dengan besaran bayaran akan pesanan tersebut. Namun bagaimana dengan pasar tradisional? Semuanya sepi, penjual sempat tidur walau dipanggil tidak bangun-bangun.

Hal tersebut tidak terjadi di desa. Rumah banyak yang tidak tertutup andaikan tertutup biasanya sang pemilik rumah pergi ke ladang atau sawah mereka. Anak-anak juga tidak ada benar-benar dikurung dalam rumah. Mereka masih bebas bermain di halaman seperti biasa, main kelereng atau petak umpet di siang hari atau main layangan di sawah yang belum di tanami.

Bagaimana kegiatan petani sepertinya tidak mengalami perbedaan dengan sebelum ada pandemi Covid-19. Begitu pula para pemilik hewan dengan santai mereka setiap pagi menggembala piaraannya tempat rumput di sekitar sungai kecil dan akan mereka ambil lagi sekitar pukul 17.30. Mereka tetap melakukan aktivitasya seperti sebelum adanya anjuran di rumah saja atau jaga jarak dan lain termasuk memakai masker setiap saat. Ketika berada di sekitar rumah mereka tenang saja menghirup udara segar dan mereka akan memakai masker jika pergi ke tempat ramai seperti pasar.

Masyarakat perdesaan pada umumnya tidak panik ketakutan kehabisan bahan makanan. Di sekitar mereka masih banyak persediaan makanan yang memang mereka tanam sebagai kebiasaan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan subsisten yakni berusaha memenuhi sendiri kebutuhan hidup dan menjalankan ekonomi berbagi bahan kebutuhan pokok pangan dan hortikultura dengan tetangga dan keluarga. Beberapa dari masyarakat memanen apa yang ada di sekitar mereka untuk kebutuhan rumah tangganya atau dijual di pedagang kios-kios sayur dan para penjual sayur masak. Bahkan ada beberapa ibu rumah tangga mengambil bahan sayuran di sekitar rumah atau ladangnya yang kemudian dimasak dan dititipkan ke penjual sayur masak dengan pembagian yang telah mereka sepakati.

Covid 19 mengajarkan kita pada kenyataan bahwa uang bukan segalanya. Jika kita dapat mempunyai kemandirian memenuhi kebutuhan hidup dengan tidak tergantung dengan pasar sangat perlu ditanamkan ke masyaarakat saat ini baik itu di daerah perdesaan maupun perkotaan. Kebutuhan pangan bukan hanya menjadi tanggung jawab terjadi di masa pandemi seperti sekarang ini. Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri atau berkelompok dapat membuat tekanan psikologis yang negatif akan menjadi lebih terasa nyaman dapat meminimalkan kegiatan di tempat umum seperti pasar dengan tetap mempunyai kemampuan terhadap pemenuhuhan akan sayur dan bumbu di rumah.

Penulis mempunyai mimpi bagaimana masyarakat kita seperti masyarakat di daratan Inggris Raya sana atau di Selandia Baru dengan sistem berkelompok mempunyai kebun. Setiap anggotanya saling bekerja sama untuk mengolah kebun tersebut. Ketika masa panen, anggota kelompok mempunyai hak untuk mengambil sesuai kebutuhan mereka sepekan atau per tiga hari. Bagaimana dengan kelompok lain? Mereka dapat melakukan saling barter atau bahkan saling melakukan jual beli hasilnya dapat digunakan untuk modal untuk menanam kembali.

Masyarakat kita juga terbiasa makan yang masih segar, namun kita dapat juga mengajarkan kepada masyarakat bagaimana cara mengawetkan apa yang telah dihasilkan. Tujuannya agar dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu seperti yang dilakukan masyarakat tradisional di Tiongkok, dengan menyediakan lumbung pangan di setiap rumah. Ikan, daging, telur, dan lain-lain ada yang dikonsumsi segar langsung dimasak, namun ada juga yang diawetkan dengan sistem penggaraman atau pengasapan dan fermentasi. Dengan demikin jika terjadi sesuatu yang membuat terganggunya distribusi pangan dalam jangka tertetu masih dapat diantisipasi oleh masyarakat itu sendiri.

Bagaimana dengan masyarakat perkotaan? Bagi yang kerja sebagai Pegawai Negeri Sipil tidak akan sulit karena pastilah mempunyai pendapatan yang akan masuk, walau pandemi melanda. Bagi para pekerja informal seperti gojek, warung dan sebagainya dengan pemasukan yang berkurang namun harus memenuhi kebutuhan rumah tangga yang semuanya dapat diperoleh dengan uang, tentu akan menjadi masalah sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, beberapa tahun lalu Iwan sudah mengingatkan dalam liriknya: Iwan Fals sudah pernah mengingatkan kita lewat lirik lagunya: “walau lahan di desa telah menjadi milik kota…desa adalah kekuatan ekonomi…di lumbung kita menabung…datang paceklik kita tak bingung”.

*Staf Pengajar Jurusan Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan FEB-Untad.

Ayo tulis komentar cerdas