Home Artikel / Opini

QRIS dalam Era Tatanan Kehidupan Baru

75
Moh. Ahlis Djirimu. (Foto: Ist)

Oleh: Moh. Ahlis Djirimu

PRESIDEN Jokowi pada 15 Mei 2020 menyatakan “Kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru”. Empat bulan terakhir perubahan hidup ini begitu terasa. Kontak fisik sebagai ajang silatuhrahim di kantor, lapangan olah raga, cafe, kampus, perpustakaan, hotel, rumah orang tua semakin minim. Mungkin saja ini bukan akhir segalanya, tetapi intensitasnya pasti semakin menurun. Silatuhrahim bertransformasi dari kontak fisik menjadi kontak daring. Tadinya, penulis berpikir booming tayangan COVID-19 hanya merupakan permainan media massa mainstream dunia bersaing membuat laku kegiatan bisnisnya seperti terjadi sebelumnya pada tayangan SARS, MERS, Flu Burung. Lalu, empat bulan kemudian, ajang ini berganti silaturahim virtual, webinar, halal bihalal online sekadar menunjukkan wajah dan berbicara masing-masing mengobati kerinduan bertemu bersapa, bertukar cerita.

Kenormalan Baru merupakan satu dari empat tahap dalam masa pandemi. Empat tahap tersebut adalah Death Zone, New Normal, Donkeyman, Long Life Hope. Death Zoneatau zona kematian, atau zona merah adalah masa yang ditandai oleh merebaknya wabah (tha’un) yang dapat menimbulkan kematian. Fenomena ini mengingatkan kita pada sejarah masa lalu saat pandemi “Maut Hitam” atau black death melanda Eropa dimulai dari Oktober 1347 setelah 12 kapal dagang Genoa berlabuh di Pelabuhan Messina, Kepulauan Sisilia, di pesisir barat laut Mediterania. Kapal tersebut menjadi perantara menyebarkan penyakit pes yang berakibatnya hilangnya nyawa sepertiga penduduk Sisilia, kepulauan yang terkenal dengan Cosanostra atau mafia Sisilia, dalam film The God Father, The Last Don. Death Zone merupakan masa yang tidak boleh diabaikan ataupun dipandang enteng. Kejadian membludaknya jenazah, utamanya penduduk lanjut usia di Itali dua bulan lalu muncul akibat sikap pandang enteng atas penyebaran pamdemi ini. Karakteristik Death Zone ditandai oleh belum adanya penemuan obat maupun vaksin dan PERILAKU masyarakat mengacuhkan wabah.

Kenormalan Baru atau Tatanan Kehidupan Baru merupakan tahap kedua dari lockdown yang dilonggarkan. Tujuannya untuk membantu pemerintah dalam mengambil kebijakan terukur mengenai level pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tersebut sehingga kebijakan yang dapat diambil dapat dipertanggungjawabkan. Persiapan menuju Tatanan Kehidupan Baru akan dilakukan pada 4 empat provinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Gorontalo melibatkan 340 ribu TNI/Polri. Kondisi Tatanan Kehidupan Baru ditandai oleh belum adanya penemuan dan/atau vaksin, intervensi pemerintah telah sudah dilakukan intervensi serta sebagian anggota masyarakatsudah peduli dan berusaha mengikuti aturan pemerintah. Pada tahap ini seharusnya membutuhkan persiapan matang. Transformasi perilaku dari pola pikir lama ke pola pikir baru menjadi tantangan berat. Sebagai contohnya, bila kita bepergian keluar rumah, maka terasa kurang lengkap apabila tidak membawa telpon seluler. Apabila telpon seluluer kita ketinggalan di rumah, maka pasti kita akan kembali mengambilnya. Pada masa Tatanan Kehidupan Baru, selain HP, ketersediaan masker, handsanitizer, tissue basah, tissue kering harus ada dalam tas kita. Bagi perempuan, mungkin hal ini sudah menjadi kebiasaan walaupun masker belum tentu ada dalam tas. Tetapi, bagi kaum lelaki, terasa berat karena menambah beban tas. Mulai masa sekarang, hal ini tidak dapat dihindari lagi, masker, handsanitizer beserta kelengkapan lainnya harus ada menyertai kita. Sayang, Penerapan Jarak Sosial minimal 1,8 meter belum dipatuhi. Hal ini diperparah lagi oleh perilaku masyarakat lebih memilih menerapkan “Zakat Mall” ketimbang “Zakat Mal”.

Donkeyman merupakan tahap ketiga. Tahap ini ditandai oleh adanya fenomena yakni obat dan/atau vaksin telah ditemukan, pemerintah aktif melakukan intervensi, tetapi perilaku masyarakat kembali lengah terhadap pandemi. Pengalaman Kota Wuhan di Tiongkok yang melonggarkan lockdown dan Korea Selatan yang justru menimbulkan gelombang baru kenaikan COVID-19pada anak usia sekolah patut menjadi pelajaran bagi kita.

Tahap keempat adalah Long Life Hope. Tahap ini ditandai oleh karakteristik ditemukannya obat dan/atau vaksin anti pandemi Covid-19 dan perilaku masyarakat sangat sadar dan taat dengan protokol kesehatan yang diberlakukan pemerintah. Pada tahap ini, pembiasaan diri masyarakat dan pola pikir masyarakat berubah dan menjadi lebih peduli pada Perilaku Bersih Hidup Sehat (PHBS) menjadi modal utama bagi Tatanan Kehidupan berikut.

Pada Kondisi Kenormalan Baru atau Tatanan Kehidupan Baru, merupakan masa sangat penting dan menentukan. Penting karena pemerintah telah meluncurkan berbagai macam stimulus anti pandemi baik fiskal maupun moneter, termasuk bantalan sosial untuk menyelamatkan penduduk dari ancaman kelaparan, kematian maupun kehilangan lapangan kerja, yang berimbas pada peningkatan kemiskinan dan ketimpangan yang menurunnya daya beli masyarakat yang dapat berujung pada ancaman gejolak sosial. Stimulus fiskal dan moneter ini berfungsi ganda yakni mengatasi gejolak penawaran (supply shock) dan gejolak permintaan (demand shock) yang dapat menimbulkan stagflasi. Kondisi saat ini merupakan ujian ketegasan aturan pemerintah apakah masyarakat benar-benar patuh saat terjadi pelonggaran lockdown pada tahap kedua ini. Sosialisasi tiada henti, advokasi berkelanjutan merupakan bentuk mentradisikan kebijakan. Adanya KMK Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri Dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha Pada Situasi Pandemi, merupakan kebijakan tegas yang patut diimplementasikan dan diawasi serta dievaluasi pelaksanaannya.

Satu dari beberapa perubahan sebagai persiapan memasuki Tatanan Kehidupan Baru adalah penggunaan uang digital sebagai pendamping uang klasik berfungsi alat tukar-menukar dan transaksi non tunai masyarakat yang tidak berbunga. Satu dari berbagai wujud komitmen BI tersebut adalah membumikan pembayaran non tunai untuk menghindari masyarakat dari gangguan keamanan, inefisiensi, risiko gangguan kesehatan. Wujud transaksi non tunai itu adalah QRIS, singkatan dari QR Code Indonesia Standard). QR adalah serangkaian kode yang memuat data/informasi seperti identitas pedagang/pengguna, nominal pembayaran, dan/atau mata uang yang dapat dibaca dengan alat tertentu dalam rangka transaksi pembayaran. QRIS adalah standar QR Code pembayaran untuk sistem pembayaran Indonesia yang dikembangkan oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Selama ini, terjadi fragmentasi sistem pembayaran yang bermakna bahwa konsumen sebagai user hanya dapat melakukan QR pada 1 Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP). Akibatnya, merchant harus memiliki banyak QR yang berkonsekuensi pula harus memiliki banyak rekening pada berbagai PJSP.

Fenomena ini dirasakan kurang efisien karena harus memajang berbagai QR sehingga memenuhi ruang meja kasir. Setelah QRIS diberlakukan oleh BI, pengguna dapat melakukan scan QR dari semua PJSP. Demikian pula merchant, cukup memiliki 1 rekening pada 1 PJSP. QRIS menerapkan prinsip UNGGUL yang bermakna Universal yakni inklusi bagi seluruh lapisan masyarakat dan dapat digunakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri sehingga tidak perlu membawa uang tunai atau melakukan konversi kurs di money changer yang menyita waktu dan tenaga saat antri, penggunan kertas, serta jauh dari ancaman transmisi kuman karena perpindahan tangan. GAMPANG bermakna transaksi dengan mudah dilakukan dan aman. Pengguna cukup membuka aplikasi pembayaran dari HP, lalu scan QRIS dan periksana kebenaran nama merchant, lalu isi nominal pembayaran sambil memperlihatkan kebenaran nominalnya pada merchant, selanjutnya eksekusi. UNTUNG, bermakna satu untung bagi konsumen karena hanya 1 QR code bagi semua aplikasi, konsumen tinggal memperhatikan kecukupan cadangan depositnya dalam rekening saat ini maksmimum Rp 10 juta. LANGSUNG, bermakna transaksi berlangsung cepat dan seketika mendukung kelancaran sistem pembayaran, tanpa para merchant harus memeriksa lagi keabsahan uang tunai, tanpa uang kembali baik kertas maupun logam yang menimbulkan penularan virus COVID-19.
Dalam praktiknya, QRIS terbagi sesuai cara membuatnya yakni QRIS Statis dan QRIS Dinamis. QRIS Statis maksudnya merchantnya yang statis menunggu, yakni QR Code berisi identitas Merchant dan bersifat tetap, ditampilkan dalam sticker/print-out (QR di-generated satu kali). Nominal transaksi diinput oleh pelanggan pada mobile device customer (HP). Jadi yang aktif adalah pelanggan dalam pembayaran. Sedangkan pada QRIS dinamis, besaran nominal transaksinya diinput oleh merchant.QR Code dinamis dibuat secara real time pada saat transaksi sehingga QR Code berbeda untuk setiap transaksi. Pada kategori ini, merchant yang aktif menfasilitasi pembayaran konsumen berdasarkan bukti saling percaya. QRIS juga membuat nyaman pengguna ATM tanpa takut tertular droplet COVID-19 yang melekat pada gagang pintu ATM, tombol mesin ATM, tanpa takut kehilangan uang akibat kerusakan ATM dan/atau perilaku orang tak bertanggung jawab via ATM.

Selain itu, dalam hubungan spiritualitas dengan Sang Maha Pencipta, apa yang dilakukan tangan kanan, tidak perlu diketahui tangan kiri. Wujudnya, Zakat Mal, Infaq, Sadakah, sumbangan bagi rumah ibadah, sumbangan pribadi bagi panti asuhan tanpa dilakukan secara fisik. Celengan masjid cukup ditempelkan QR Scan sehingga jamaah cukup mengeluarkan HP saja melakukan scan QR. Inisiasi kerja sama antara Lembaga BAZIS, Pengurus Lembaga Keagamaan, Pengurus Panti Asuhan, BI, ASPI patut dilakukan pasca lebaran ini.

Tantangan di masa datang terletak pada pola mentradisikan mekanisme pembayaran digital non tunai ini di masyarakat hingga ke pelosok perdesaan lebih spesifik pada Usaha Kecil yakni usaha yang beromzet Rp 300 juta sampai dengan Rp 2,5 miliar per tahun dan memiliki aset Rp 50 sampai dengan Rp 500 juta. Demikian pula implementasi pada Usaha Mikro yakni usaha yang beromzet sampai dengan Rp 300 juta per tahun serta memiliki aset Rp 50 juta. Pada dua kelompok inilah tantangan pemasyarakatan QRIS dapat memiliki kesulitan karena kita ingin melakukan transformasi pola pikir mereka dari sistem tunai berbasis kalkulator yang telah mendarah daging dalam peri kehidupan sehari-hari mereka dengan sistem digital non tunai yang membuat para pelaku usaha dan konsumenmasih gagap teknologi. Strategi pelembagaan QRIS melalui anak-anak mereka generasi milenial dapat saja mempermudah pemasyarakatan QRIS melalui kerja sama pembinaan antara BI dan Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulteng dan Dinas Koperasi dan UMKM 13 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
(*Lektor Kepala Bidang Ekonomi International FEB-Universitas Tadulako)

Ayo tulis komentar cerdas