Home Artikel / Opini

Pendikan di Era Covid-19

32
Nur Sangadji. (Foto: Ist)

Oleh: Dr. Ir. Muhd Nur Sangadji, DEA*

COVID-19 telah mengubah banyak tatanan di berbagai sektor kehidupan. Sektor kesehatan yang paling utama. Kemudian, sektor ekonomi. Dan, berikutnya sektor pendidikan. Di semua sektor ini, butuh perilaku baru untuk mengadaptasi perubahan. Berlangsung sangat cepat, hingga sampai ke tahapan “new normal” saat ini.

Dalam filosofi pendidikan, ada ungkapan bahwa semua orang adalah guru dan semua tempat adalah kelas (Everybody is lecture and every place is class). Saya sebagai guru di perguruan tinggi sangat sependapat dan mempraktekannya sejak lama. Tiba-tiba hadir pemikikan tentang merdeka belajar. Saya pikir relevan sekali. Datang lagi musibah Covid 19, kian meyakinkan saya tentang kebenaran prinsip tersebut.

Betapa tidak, sekolah dan kampus ditutup. Berarti kita bukan cuma boleh tapi harus belajar di mana saja (every place is class). Dalam praktiknya kita lebih banyak belajar di rumah (learning at home). Wajib, karena penerapan “social distance” untuk melawan wabah.

Karena di luar sekolah dan kampus, otomatis mereka tidak bisa bertemu guru atau dosen secara langsung. Meskipun teknologi komunikasi bisa menjadi solusi. Namun, kontak fisik sebagai metoda belajar tidak bisa tergantikan secara hakiki. Sebab secara substansial, guru bukan cuma memberi ilmu, tapi juga memberikan dirinya sebagai teladan.

Akan tetapi, karena kondisi memaksa, maka ada dua jalan yang dapat ditempuh. Pertama, siapa saja yang ada di sampingnya bisa menjadi mitra belajar atau guru (Everybody is teacher). Ini sekaligus menghargai bahwa semua orang ditakdirkan punya ilmu tertentu. Dengan kata lain, mereka pasti tahu sesuatu. Dan, tidak semua orang tahu semua hal.

Orang tua menjadi guru formal secara mendadak. Selama ini mereka hanyalah guru informal. Masyarakat juga tampil sebagai guru non formal di pihak lain. Baru sekarang, ketiga bentuk pendikan ini (formal, informal dan non formal) dipaksa menyatu oleh covid 19. Tidak mengapa, karena ini adalah bagian dari hikmah (Lesson learn) atas sebuah kejadian di alam semesta ini.

Kedua, belajar jarak jauh. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi memungkinkan atau lebih tepat, memudahkan untuk dilakukan. Fasilitas program yang tersedia memadai, mulai dari gratis hingga berbayar. Google meet dan Zoom, adalah contohnya. Sesuatu yg sangat mewah, rumit dan mahal di era 1980 an. Kala itu, ada Sisdiksat (sistem pendidikan satelit). Itu, pun terkesan tidak sempurna penyelenggaraannya karena sering gangguan jaringan. Orang di kumpulkan di ruangan khusus kuliah kolektif jarak jauh. Kini, semunya bisa dilakukan dari ruang private setiap individu.

Belajar, manjadi sangat fleksibel dan murah. Bahkan untuk kalangan ilmuan, kesempatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan intra dan multidisiplin sangat terbuka melalai Webiner maupun komunikasi “on line” lainnya. Sesuatu yang sangat mahal pada masa lalu. Sekarang, kendala waktu, jarak dan finansial dapat teratasi. Meskipun masalah jaringan internet dan pembiayaan pulsa masih sedikit mengganggu, terutama bagi mahasiswa di pelosok.

Karena itu, adanya dorongan dari kementerian pendidikan untuk menulis pengalaman setiap dosen, merupakan ide yang sangat baik dan menantang. Penting, karena pengalaman setiap dosen akan sangat mengayakan metode mengajar dalam satu sistem “knowledge management”.

Apriori, pasti ada ide dan praktek cerdas emperik (best practice) yang sangat menarik. Dengan demikian, bisa diduplikasi oleh sesama kolega sejawat di tempat yang lain. Sayang kalau tidak tersebar.

Untuk itu, tulisan ini akan menguraikan sejumlah praktik mendidik dan mengajar yang kami lakukan, baik pada masa sebelum covid, maupun pada saat covid serta pembanding untuk masa yang akan datang. Mudah mudahan memberikan hikmah (lesson learn) bagi kemajuan pendidikan. Minimal memperkaya metode bagi sesama dosen dan guru. Sekarang atau nanti. BERSAMBUNG…
(*Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah)

Ayo tulis komentar cerdas