Home Artikel / Opini

Refleksi Hari Buruh

90
Moh. Ahlis Djirimu. (Foto: Ist)

Oleh: Moh. Ahlis Djirimu*

DUA pekan lalu, tepatnya 1 Mei 2020, kita setiap tahun merayakannya. Di dunia internasional, masyarakat menyebut “May Day”. Setiap tanggal tersebut, hampir semua negara meliburkannya. Libur dalam arti tidak ada satupun aktivitas melibatkan mereka baik layanan publik, maupun aktivitas produksi massal. Libur tanpa aktivitas dan atraktivitas buruh sebagai wujud penghormatan pada kaum buruh. Tahun ini, para buruh terancam derita. Seakan derita mereka belum berakhir. Krisis silih berganti, mulai krisis Amerika pada 2008, berlanjut pada krisis zona Euro pada 2010, lalu ancaman krisis kesehatan dipicu oleh pandemi Covid-19 global membuat kiprah buruh terancam.

Di Indonesia, ada sekitar 3 juta menurut data resmi mereka dirumahkan dan/atau diputus hubungan kerja (PHK). Dua istilah berbeda. Bila dirumahkan mereka kemungkinan dapat direkrut lagi sebagai pekerja alih daya (out sourcing). Sedangkan diPHK, berarti seterusnya mereka sulit bekerja lagi. Bagi Perusahaan, mereka harus dipenuhi hak-haknya sebagai buruh tetap yakni ketika diPHK mereka diberikan pesangon sebanyak tiga bulan gaji sebagai langkah awal para buruh mencari pekerjaan lain sekaligus bantalan sosial agar mereka dan keluarga tidak mati kelaparan, sesuatu yang memalukan bagi negara dan daerah. Sangat memalukan karena Pasal 34 UUD 1945 menyebutkan, bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara.

Di Sulteng, derita para buruh, tiada berakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2020) menyebutkan bahwa Angkatan Kerja mencapai 1,503 juta jiwa atau proporsinya mencapai 42,91 persen dari jumlah penduduk Sulteng. Dari jumlah tersebut, 1,45 juta jiwa bekerja atau proporsinya mencapai 96,47 persen. Mereka ini yang menderita pertama ketika terjadi gempa bumi, Stunami, Likuifaksi Di Tahun 2018. Benar adanya karena saat itu, perekonomian Sulteng 48,52 persen terdampak bencana hanya pada tiga daerah yang benar-benar terdampak yakni Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi. Belum selesai derita akibat triple bencana tadi, di Tahun 2020, mereka terdampak lagi oleh pandemi Covid-19. Angkatan Kerja di Tahun 2020 di Sulteng menurut perkiraan penulis akan mencapai 1,513 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, 1,456 bekerja atau proporsinya mencapai 96,23 persen bekerja. Hal ini berarti selama periode antara dua bencana ganda ini, angka pengangguran buruh akan meningkat dari 51.481 ribu penganggur di Tahun 2018, diperkirakan akan menjadi 56.817 jiwa. Sementara, para penganggur ini juga akan menanggung para istri, anak-anak dan orang tua lanjut usia yang jumlahnya juga akan mengalami kenaikan dari 658.898 jiwa di Tahun 2018 menjadi 724.091 jiwa di Tahun 2020. Dengan demikian, perkiraan penulis, karena mereka sebagian bahkan seluruhnya mengalami nasib sebagai penganggur, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sulteng diperkirakan akan menurun dari 69,52 persen di Tahun 2018, menjadi 67,51 persen di Tahun 2020.

Sembilan lapangan kerja menjadi lahan mereka. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan merupakan lahan terbesar mereka. Jumlah mereka akan menurun dari 639 ribu jiwa di Tahun 2018 menjadi 554 ribu jiwa. Proporsinya akan turun dari 44 persen di Tahun 2018 menjadi tinggal 38,09 persen. Lahan tempat mereka bekerja kedua terbesar pada sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor. Jumlah mereka diperkirakan akan menurun dari 195 ribu jiwa di Tahun 2018 menjadi 194 ribu jiwa di Tahun 2020. Sektor industri pengolahan, merupakan penampung ketiga terbesar para buruh ini di Sulteng yang jumlahnya akan menurun dari 109 ribu jiwa di Tahun 2018 menjadi 102 ribu jiwa. Sektor yang paling jelas terlihat di depan mata kita adalah penyediaan akomodasi, makan, dan minum yang jumlahnya akan menurun dari 50.245 jiwa di Tahun 2018 menjadi 49.166 jiwa di Tahun 2020. Penulis menyatakan jelas terlihat karena saat ini hotel belum beraktivitas, sedangkan rumah makan, restoran masih jarang buka, itupun mereka telah merumahkan sebagian dan seluruhnya para karyawannya.

Buruh menurut status pekerjaan, didominasi oleh status buruh/karyawan/pegawai yang jumlah akan mengalami penurunan di Sulteng dari 429.520 jiwa di Tahun 2018 menjadi tinggal 380.146 jiwa. Mereka ini merupakan porsi terbesar penopang aktivitas ekonomi di daerah. Beruntung masih ada buruh yang berusaha sendiri mencapai 283.691 jiwa di Tahun 2018, pasti juga akan menurun menjadi 328.531 jiwa di Tahun 2020. Demikian pula pekerja keluarga yang tidak dibayar pasti akan meningkat jumlahnya dari 249 ribu di Tahun 2018 menjadi 183 ribu jiwa.Mereka inilah menjadi tulang punggung keluarga. Program Kartu Pra Pekerja menjadi penolong sementara mereka. Dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, sebaiknya masing-masing daerah, bahu-membahu bersama Pemerintah Pusat meluncurkan pula program padat karya seperti yang pernah dilakukan di Kota Palu. Hal ini bertujuan multi guna yakni menjaga daya beli buruh, memberikan kepastian lapangan pekerjaan sementara, dan mencegah rumah tangga mereka dari kemiskinan yang pada akhirnya dapat menimbulkan stres, ancaman krisis pangan maupun krisis sosial. Inilah kesalehan sosial di masa Ramadhan yang dapat dijalankan oleh Pemerintah Daerah. Semoga badai ini cepat berlalu dari para buruh dapat mendapatkan pekerjaan yang layak kembali. (*Staf Pengajar Fakultas Ekonomi & Bisnis Untad)

Ayo tulis komentar cerdas