Home Artikel / Opini

Belajar dari Pandemi Covid-19 “Peran Pemuda Milenial dalam Ketersediaan Pangan”

307
Andri Amaliel Managanta. (Foto: Ist)

OLEH: Andri Amaliel Managanta*

SEKTOR pertanian sebagai sektor pertahanan penting dalam memenangkan perang lawan Covid-19ketersediaan pangan masyarakat sebagai upaya efektif mencegah penyebarannya “tetap di rumah pangan tersedia”. Berbicara mengenai sektor pertanian kita setuju bahwa sektor pertanian merupakan bagian yang utuh tak dapat dipisahkan dengan sistem perekonomian. BPS mencatat sektor pertanian memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan dan ketahanan ekonomi Indonesia.  Sehingga kinerja sektor pertanian berpengaruh pada sistem perekonomian secara keseluruhan, sebaliknya kinerja sektor-sektor non pertanian juga berpengaruh pada sektor pertanian. Indonesia dapat menjadi rujukan bagaimana sektor pertanian diurus dengan baik dan benar dengan membangun pertanian yang semakin kuat “pertanian sebagai jati diri bangsa”.

Bagi Indonesia sendiri sektor pertanian memiliki peran strategis: Pertama, sektor pertanian berperan dalam penyediaan lapangan kerja dan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja, data World Bank 2013 menunjukkan sektor pertanian menyerap sebesar 35 persen dari total 151 juta angkatan kerja, sifatnya yang padat karya dan tingginya modal sosial petani memungkinkan banyak menyerap tenaga kerja. Pun saat krisis moneter terjadi tahun 1998, ketika sektor-sektor lainnya terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara kuat namun sektor pertanian tetap stabil menyerap tenaga kerja khususnya di pedesaan.

Kedua, peran sebagai penyokong perekonomian nasional dalam menghadapi krisis moneter, secara empiris hal ini terbukti bahwa ketika krisis moneter melanda negeri ini sekitar tahun 1998 ternyata sektor pertanian inilah yang mampu bertahan dan cepat pulih dibandingkan sektor yang lain, bahkan BPS mencatat hanya sektor pertanian satu-satunya sektor yang masih mampu bertumbuh positif 0,03 persen sementara sektor-sektor lain bertumbuh negatif 13 persen.

Ketiga, sektor pertanian memiliki kontribusi dalam membentuk Produk Domestik Broto (PDB) Nasional berdasarkan data selama 3 tahun terakhir 2017-2019 kontribusi sektor pertanian sebesar 13 persen untuk PDB Nasional dan data ini merupakan salah satu angka tertinggi selain industri dan jasa-jasa. Namun bagi masyarakat pedesaan sektor ini merupakan sektor yang sangat diandalkan pertumbuhannya dan cukup stabil di angka 3 sampai 4 persen per tahun.

Keempat,  sektor pertanian memiliki peran strategis dalam memperoleh devisa dari ekspor-ekspor hasil pertanian tentunya peningkatan devisa sebaiknya dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan petani.

Kelima, sektor pertanian berperan dalam penyedian pangan dan bahan baku industri, jika sektor pertanian ditingkatkan sektor ini mampu menghasilkan pangan yang cukup bagi ketersediaan pangan masyarakat di kondisi pandemi Covid-19 maupun di masa akan datang.

Keenam, sektor pertanian berperan dalam pengentasan kemiskinan serta pendapatan masyarakat khususnya di pedesaan bahkan World Bank menyebutkan 40 persen pekerja pertanian di daerah pedesaan mampu keluar dari jeratan kemiskinan dengan tetap bekerja di sektor pertanian pedesaan, memacu kemampuan sektor pertanian tetap mutlak dibutuhkan bagi upaya menyeluruh penanggulangan kemiskinan.

Perlu diketahui kegiatan pertanian meliputi enam subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, maupun kehutanan dan perannya sebagai pemenuhan pangan bangsa tidak dapat diabaikan. Faktanya banyak Negara mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan pada saat pandemi Covid-19. Berdasarkan Sensus Pertanian tahun 2013 menyebutkan jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak 26,13 juta rumah tangga dan angka ini menurun sebanyak 5,04 juta rumah tangga bila dibandingkan Sensus Pertanian tahun 2003.

Lenyapnya sebanyak sekitar 5 juta petani dalam 10 tahun terakhir bisa jadi merupakan bagian dari transformasi struktur ekonomi dalam majunya suatu negara di sisi lain berkurangnya pekerja sektor pertanian bisa juga merupakan suatu pertanda buruk, yakni adanya suatu kecenderungan tersisinya petani dari sektor pertanian yang biasanya menjadi sumber penting bagi kehidupan mereka sehingga kemudian mereka berbondong-bondong mulai meninggalkan pekerjaan tersebut dan bekerja di sektor informal di kota baik sebagai pedagang kaki lima, warung makan, pedagang asongan, pedagang keliling dan lain sebagainya. Penelitian Managanta 2018 menunjukkan pekerjaan lainnya dapat berupa sopir, buruh harian, ojek dan tukang bangunan.Pada situasi lain beberapa petani  menjadi tenaga kerja dengan gaji 80 ribu sampai 100 ribu per hari pada lahan yang sebelumnya menjadi miliknya karena desakan ekonomi dijual kepada pemilik modal.

Peningkatan jumlah rumah tangga petani yang meninggalkan sektor pertanian berdasarkan Sensus Pertanian 2013 dibandingkan Sensus Pertanian 2003 disebabkan: Pertama, tingginya laju urbanisasi di setiap provinsi ini juga terjadi pada rumah tangga petani Provinsi Sulawesi Tengah dari 980 ribu berkurang 9,36 persen dibandingkan tahun 2003.Kedua, rumah tangga pertanian dengan luas lahan pertanian  kurang 1 hektar mereka menurun 54 persen, tanpa adanya kenaikan pada golongan luas lahan lainnya. Mengapa pekerjaan di sektor pertanian mulai ditinggalkan petani?

Penelitian Soetarto et al 2019 menjelaskan: Pertama, pembangunan di Indonesia masih terjadi urban bias dimana pembangunan kurang berpihak pada kesejahteraan petani di pedesaan kurangnya pendekatan partisipatif dan prinsip dari petani untuk petani, adanya ketimpangan pembangunan antara desa dan kota menghasilkan ketimpangan kesejateraan dimana kesejahteran di kota lebih tinggi dibandingkan dengan di desa. Hal ini menyebabkan fenomena urbanisasi yang signifikan dari tahun ke tahun dalam makna upaya kaum miskin untuk mempertahankan hidupnya setelah tersisi dari pedesaan atau kurang mendapatkan tempat.

Kedua, sektor pertanian tidak lagi menjajikan kesejahteraan maka tak aneh jika sektor ini mulai ditinggalkan. BPS mencatat bahwa mayoritas penduduk miskin di negeri ini ada di pedesaan mudah diduga sebagian besar mereka adalah petani atau buruh tani yang sehari-hari mencari nafkah dari sektor pertanian oleh karena buramnya lahan pertanian dan keterbatasan akses informasi, jika kondisi kesejahteraan petani atau buruh tani diperbaiki maka tingkat kemiskinan secara signifikan dapat menurun.

Ketiga, lahan pertanian sebagai ciri fisik dari desa semakin berkurang ketika 100 ribu Ha/tahun lahan terkonversi menjadi sektor lain dengan demikian statistik menunjukkan penurunan jumlah pekerja di sektor pertanian selama ini dibarengi derasnya laju konversi dari lahan pertanian ke non pertanian.

Keempat, ketiadaan insentif yang dapat merawat petani terhadap profesinya akibatnya banyak petani seringkali tergiur untuk mudah melepaskan tanahnya kepada pemilik modal sehingga proses ini ikut menyumbang gejala rekonsentrasi penguasaan tanah kepada segelintir orang. Penelitian Managanta 2018 dan Wahyuni 2019 juga menjelaskan faktor rumah tangga petani beralih ke sektor non pertanian disebabkan pengaruh lingkungan sosial dan pendapatan usaha tani yang rendah artinya peningkatan penduduk di pedesaan ke kota “teman petani” dan peningkatan jumlah informasi yang diterima berpengaruh kepada rumah tangga petani dan kecenderungan untuk beralih profesi.

Potret petani di Indonesia berdasarkan Survei Pertanian Antar Sensus 2018 menyebutkan:Pertama, sebanyak 76 persen atau mayoritas petani berjenis kelamin laki-laki.Kedua, sebanyak 50,4 persen diantaranyaberusia 45 sampai 64 tahun dan rata-rata berusia 50 tahun atau mayoritas petani berusia senja atau lanjut.Ketiga, 87 persen tidak menggunakan internet hal ini wajar karena mayoritas petani berusia senja.Keempat sebanyak 84,3 persen hanya menamatkan pendidikan dasar atau lulusan SD (BPS 2019 dan Managanta 2018).Kelima, mayoritas petani mengeluti subsektor tanaman pangan (padi dan palawija) dimana subsektor ini digeluti petani tua sedangkan muda banyak pada subsektor hortikultura.Keenam, sebanyak 59 persen diantaranya rumah tangga petani yang penguasahaan lahan dibawah 0,5 hektar, dan Ketuju, penguasaan lahan pertanian cenderung timpang dengan indeks gini 0,64 (Sensus Pertanian 2013).

Berdasarkan definisi UNESCO pemuda ada pada 15-24 tahun, sedangkan UU Nomor 40 Tahun 2009 pasal 1 ayat (1) tentang Kepemudaan menyatakan pemuda adalah yang memasuki periode penting pertumbuhan perkembangan berusia 16 sampai 30 tahun. Bagaimana dengan petani muda, di beberapa negara misalnya Australia menggunakan batasan umur 40 tahun diduga karena turunya jumlah petani berusia di bawah 35 tahun sebagai pemuda tani berhak memperoleh skim finansial (financial scheme), batasan umur menjadi penting dihubungkan dengan keterlibatan petani muda bekerja atau mengembangkan bisnis di sektor pertanian  dan pemberian insentif yang berhak diterima namun sayangnya di Indonesia batasan umur tenaga kerja yang bekerja sebagai petani tidak secara ketat diatur karena juga tidak ada implikasinya bagi fasilitas atau insentif dari pemerintah bagi petani muda.

White 2011 faktor yang menyebabkan semakin rendahnya proporsi pemuda yang bekerja di sektor pertanian disebabkan Pertama, menurunnya kehidupan pertanian dan pedesaan sebab pembangunan dan kebijakan yang bias perkotaan.Kedua, terjadinya penurunan pengetahuan dan keahlian di bidang pertanian seperti yang diketahui jarang orang tua yang mengajar anaknya pengetahuan, sikap dan keahlian pada anaknya. Ketiga, keterlapasan tanah keluarga dimana orang tua banyak menjual cadangan kekayaan mereka untuk memodali anak mereka untuk menempuh pendidikan. Keempat, tidak ada akses atas tanah bagi petani. Kelima, ancaman pembangunan ekstratif dan pembangunan infrakstruktur dari skala rumahtangga menjadi korporasi.

Sektor pertanian berperan penting dalam pembangunan dan melibatkan pemuda dalam pembangunan pertanian menjadi peluang. Peluang apabila pemuda dilibatkan dalam mengembangkan sektor pertanian atau pedesaan dan menjadi ancaman apabila lapangan pekerjaan serta sumber pendapatan bagi mereka tidak tersedia. Melibatkan pemuda dalam sektor pertanian dan pedesaan sejalan dalam menata sektor pertanian karena petani muda dapat memberikan energi baru, semangat dan inovasi baru. Petani muda sangat potensial mendorong perubahan struktural dalam pengembangan pertanian.  Petani muda identik dengan inovasi dan efisiensi dan memiliki potensi untuk lebih resilien dan adaptif. Petani muda harus diberdayakan dalam pengembangan pertanian di Indonesia.

Saat ini kita sepakat salah satu aktor penting dalam pertanian yang menentukan masa depan pertanian di Indonesia adalah para petani muda, jika pertanian sudah tidak lagi menjanjikan kesejahteraan maka keengganan untuk bekerja di bidang pertanian tentu semakin lama akan semakin terasa. Akses terhadap pendidikan yang semakin mudah bahkan sampai ke tingkat pedesaan menjadikan para pemuda ini jauh lebih berpendidikan dibandingkan pemuda di masa lampau, artinya pilihan pekerjaan pun akan semakin beragam untuknya.

Krisis regenerasi menjadi salah satu bentuk kekhawatiran bagi keberlanjutan dan masa depan pertanian. Dalam beberapa tahun terakhir ini hanya sekitar 11 persen pemuda yang mau bekerja di sektor pertanian, pentingnya pemuda untuk ditarik kembali dan dipertahankan sebagai pondasi pembangunan pertanian di pedesaan, tidak hanya berhenti pada persoalan masa depan pertanian di Indonesia semata. Mengabaikan keterlibatan pemuda serupa dengan hilangnya sebuah kesempatan untuk melakukan “rebranding” sektor pertanian. Rebranding diperlukan untuk menjawab kebutuhan pertanian yang lebih modern dan kompetitif di era globalisasi sehingga generasi pemuda ke depan menjadi generasi yang piawai dalam berteknologi. Digitalisasi pertanian merupakan bentuk menarik pemuda melihat sektor pertanian sebagai peluang karir bukan lagi sebagai hal yang kurang terhormat atau kurang pantas. Tren pemuda kembali ke pertanian di Indonesia mengubah wajah pertanian menjadi sektor yang lebih bergensi saat ini dan akan datang. Sangat optimis ketika keterlibatan pemuda pada sektor pertanian ditingkatkan maka berdampak pada kesejahteraan rumah tangga petani meningkat, ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat tercukupi “tetap di rumah pangan tersedia” dan tingkat kemiskinan di pedesaan dapat dikurangi. Salam Optimisme. (*Andri Amaliel Managanta adalah Doktor Ilmu Penyuluhan Pembangunan IPB, Dosen Universitas Sintuwu Maroso, Poso)

Ayo tulis komentar cerdas