Home Sulteng

143 Desa di Sulteng Sangat Tertinggal

81
Hasanuddin Atjo. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulteng, Dr Hasanuddin Atjo, mengungkapkan berdasarkan data dari Indeks Desa Membangun 2019, Sulawesi Tengah terdiri atas 167 kecamatan dan 1.892 desa.  Dari  1.892 desa itu, yang berstatus sangat tertinggal sebesar 7,60 persen atau sekitar 143 desa, tersebar disejumlah kabupaten se-Sulteng.

“Dari  1.892 desa, yang berstatus sangat tertinggal sebesar 7,60 persen, tertinggal sebesar 51, 68 persen, berkembang 37,79 persen, maju 2,88 persen, dan desa mandiri baru sebesar 0,05 persen,” ungkap Hasanuddin, Selasa, 12 Mei 2020.

Olehnya, dalam lima tahun pembangunan ke depan, presentase desa sangat tertinggal dan tertinggal akan ditekan semaksimal mungkin dengan meningkatkan prosentase desa berkembang, maju dan mandiri.

Hal itu dapat diwujudkan dengan memaksimalkan empat keunggulan lokal yang dimiliki Sulawesi Tengah tersebar  di 13 kabupaten/kota. Keunggulan lokal yang dimaksud yaitu sektor pangan, pariwisata, sektor jasa, dan terakhir sektor tambang. Menurutnya, apabila empat keunggulan itu maksimal dimanfaatkan bisa mewujudkan Provinsi Sulawesi Tengah yang hebat dan incorporated

“Untuk kabupaten yang memiliki potensi spesifik lokal pada bidang pangan, maka core bisnis dari daerah kabupaten itu adalah mengembangkan sektor pangan yang dirancang berorientasi industrialisasi, hulu-hilir. Demikian pula halnya dengan potensi lainnya. Satu kabupaten bisa saja lebih dari satu core bisnis,” ujarnya.

Hasanuddin mengatakan pendekatan kewilayahan menjadi bagian penting dalam membangun usaha yang berskala ekonomi, efisien, dan berdaya saing.  Daerah ini berdasarkan pendekatan ekosistem laut  bisa  dibagi menjadi tiga  kawasan yaitu Selat Makasar-Laut Sulawesi  terdiri dari Buol, Tolitoli, Donggala, Palu dan Sigi.

Teluk Tomini terdiri dari Parigi Moutong, Poso, Tojo  Una-Una, serta sebagian Banggai.  Teluk Tolo terdiri dari sebagian Banggai, Banggai Laut, Banggai Kepulauan, Morowali dan Morowali Utara.

Hasanuddin mengungkapkan saat ini pembangunan berkelanjutan sudah menjadi target masyarakat dunia yang telah dipandu oleh konsep dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dinamakan SDG,s, Sustainable Development  Goals.

Berkaitan dengan tujuan itu, maka basis pembangunan di era industri 4.0 yang tepat adalah transformasi digital dan pendekatan tata ruang, baik tata ruang darat (RTRW)  maupun  tata ruang laut (RZWP3K). 

“Provinsi Sulawesi Tengah telah memiliki Peraturan Daerah kedua tataruang itu, yaitu Perda nomor 7 tahun 2013 untuk darat  dan Perda Nomor 10 tahun 2017 untuk laut,” tandas Hasanuddin.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas