Home Artikel / Opini

Kurikulum Pendidikan Keluarga

188
Shofia Nurun Alanur S, S.Pd, M.Pd. (Foto: Ist)

Oleh : Shofia Nurun Alanur S, S.Pd.,M.Pd*

PANDEMI Covid-19 mengakibatkan pemerintah memberlakukan Social Distancing, Physical Distancing hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di daerah tertentu. Kebijakan ini berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Mulai dari berkantor, berjualan, kuliah dan sekolah diliburkan dan diganti dengan bekerja dan belajar di rumah atau Work From Home. Setiap orang diimbau untuk mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) jika harus bepergian seperti memakai masker. Selain itu, diharuskan untuk selalu menjaga kebersihan diri mulai dari cuci tangan dan mengenakan hand sanitizer.

Tidak belajar di kampus dan sekolah bukan berarti pembelajaran itu terhenti. Beruntung, kita masih cukup tanggap terhadap perkembangan teknologi, yang benar-benar bermanfaat apalagi dalam situasi terkunci seperti ini. Segala kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online melalui fasilitas media yang telah tersedia dan mudah untuk diakses. Meskipun begitu, pembelajaran online masih memiliki kendala utamanya bagi siswa dan mahasiswa yang tidak memiliki fasilitas, paling banyak terbatasi oleh jaringan internet.

Memang, semenjak adanya pandemi ini, semua orang mengalami kesulitan dan terbatasi ruang geraknya. Setiap saat harus menjaga kebersihan diri, harus pakai masker dan cuci tangan, dan tidak boleh berkumpul dengan banyak orang. Semua orang juga sudah ketakutan karena sedang melawan musuh tak terlihat. Tetapi, kita harus tetap tenang. Jangan sampai stres. Karena jika stres, kemampuan berpikir akan menurun. Seperti menurut Hastuti (2020), kemampuan berinovatif akan menurun. Sepatutnya, peristiwa ini menjadi bahan renungan untuk mengambil hikmah atas kejadian. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran Surah Al Baqarah ayat 269 yang artinya “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran”.

Keharusan untuk stay at home, khususnya bagi pelajar dan mahasiswa, tidak serta merta membuat aktivitas berhenti. Selain mengikuti pembelajaran online, para pembelajar sebaiknya memanfaatkan waktunya untuk meningkatkan keterampilan seperti bakat serta social dan spiritual intelligence. Keterampilan yang dimaksud seperti mempelajari hal-hal baru yang tidak sempat dilakukan saat waktu sibuk di sekolah atau kampus. Misalnya mulai latihan membaca buku sehari lima halaman, atau membaca Alquran sehari satu juz atau sehari lima halaman. Kemudian, para pembelajar juga berlatih untuk meningkatkan bakat-bakat yang dimilikinya. Pokoknya, memanfaatkan waktu se-produktif mungkin, dengan catatan tidak stres dalam menjalaninya. Seperti pendapat Sinugan Muchdarsyah (1995) bahwa orang yang produktif ialah orang yang memiliki sikap mental yang selalu berpandangan bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.

Pendapat lainnya, Sean Michael Morris dari School of Education and Human Development University of Colorado menyebutkan bahwa mengubah pembelajaran dari ruang kelas menjadi daring apalagi di tengah Pandemi akan menyimpan masalah. Ia menyatakan bahwa suasana saat ini adalah Panicgogy (Kamenetz, 2020). Mulai dari pemerintah, pembuat kebijakan, guru, dosen, siswa, mahasiswa dan orang tua harus beradaptasi dengan sistem belajar yang baru. Belajar di rumah akan menjadi masalah pada anak, ketika anak bertanya masalah penyelesaian tugas kepada orang tua, sedangkan hal itu berbentrokan dengan Work From Home orang tua dengan tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan. Anak-anak akan banyak bertanya cara penyelesaian tugas kepada orang tuanya, sementara orang tua terbebani pekerjaan kantor.

Namun, pada saat ini, tuntutan penyelesaian kurikulum tidak menjadi prioritas. Melainkan bagaimana tetap sehat dan bertahan hidup. Merujuk pada Surat Edaran Kemdikbud No.4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus disease (Covid-19) bahwa pertama, belajar dari rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Kedua, belajar dari rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19. Ketiga, aktivitas dan tugas pembelajaran belajar dari rumah dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/ fasilitas belajar di rumah.

Masa Pandemi ini dan pentingnya menjaga diri untuk stay safe, para pengajar boleh mengeksplorasi pembelajaran terkait berbagai isu Covid-19. Misalnya pelajaran ilmu sosial, dapat diarahkan untuk memahami situasi, apa peran mereka dan bagaimana mereka peduli terhadap situasi ini. Dalam pelajaran PPKn, misalnya materi otonomi daerah, dapat dipahamkan bagaimana peran daerah sampai ke tingkat terkecil. Selain itu juga meminta pembelajar untuk berdiskusi dengan orang tua di rumah tentang peran lingkungan sekitar melawan Covid-19.

Kala era Pandemi ini, semua elemen pendidikan harus bekerja sama, utamanya keluarga. Seperti kata Hatimah (2016), bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya pemerintah, tetapi juga sekolah (guru), dan keluarga (orang tua). Keluarga adalah lingkungan pendidikan paling mendasar bagi anak(Sudardja Adiwikarta, 1988). Sudardja juga menyatakan bahwa keluarga mempunyai potensi sebagai peletak dasar perkembangan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotorik anak melalui proses pengasuhan. Sekolah dan keluarga masuk ke dalam kelompok primer. Dalam kelompok ini terdapat interaksi sosial yang lebih intensif dan lebih erat, yaitu face-to-face group, dimana anggota-anggota dari kelompok ini sering berhadapan atau bertatap muka yang satu dengan yang lain, saling mengenal dari dekat dan memiliki hubungan yang erat (Subarto, 2020).

Learning from home, orang tua dapat memanfaatkan untuk lebih intensif memantau perkembangan afektif dan psikomotorik anak. Orang tua dapat mengarahkan anak untuk lebih memiliki nilai sosial dan spiritual yang tinggi. Seperti yang dicetuskan Bobbi De Porter dan Mike Hernacki (2007) dalam bukunya Quantum Learningya itu Apa Manfaat Bagiku (AMBAK) ? semakin relevan dan manfaat buat anak, mereka tidak akan sulit menerima tugas. Termasuk, mengajarkan peduli Covid-19 dan lebih mendekatkan diri kepada agama dan Tuhannya.

Pengalaman belajar bermakna akan memberikan kesadaran diri kepada anak. Mereka mengetahui lalu mau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa paksaan. Misalnya, anak tahu akan bahaya covid. Maka mereka akan berupaya selalu mengenakan APD agar selalu terjaga. Contoh lainnya, anak tahu hukum mendirikan salat. Maka dengan kesadaran diri, anak-anak akan selalu mendirikan salat tanpa diperintah. Seperti teori dari Vygotsky (Social and Emancipator Construcvitism) bahwa anak mengonstruksikan pengetahuan atau menciptakan makna.

Selain kurikulum dari pembelajaran sekolah atau kampus, orang tua juga bisa menerapkan kurikulum tersendiri di rumah. Agar anak produktif, orang tua menyusun kurikulum pendidikan sikap sosial, emosional dan spiritual yang tidak bisa diajarkan secara verbal melainkan secara langsung. Seperti, untuk anak perempuan, membiasakan mereka membantu ibu menyapu, membersihkan rumah, mengepel dan memasak sebagai fitrah kehidupan yang akan dijalani anak perempuan nantinya. Ditambah dengan membaca buku dan Tadarus Alquran. Sedangkan anak laki-laki, bisa diajak bertanam pohon, berlatih menjadi imam salat, mencari solusi dari masalah, dan mengamati kehidupan masyarakat sekitar. Apalagi, belajar di rumah dilaksanakan juga saat Bulan suci Ramadhan. Tentu orang tua dapat langsung mengarahkan anak bagaimana bisa konsisten ibadah Puasa, Tarawih dan amalan baik lainnya.

Pengalaman belajar kehidupan dalam keluarga akan sangat berharga bagi anak. Tidak terpaku pada seberapa besar meraih nilai tetapi meaning full learning dalam kehidupan nyata. Sebagaimana konsep merdeka belajar dari Nadiem Makarim yang terdorong karena keinginannya menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu. Merdeka Belajar juga mengkonsepkan bahwa sistem pengajaran juga akan berubah dari yang awalnya bernuansa di dalam kelas menjadi di luar kelas. Nuansa pembelajaran akan lebih nyaman, karena murid dapat berdiskusi lebih dengan guru, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan nilai karena setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya dalam bidang masing-masing. Nantinya, akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat.

Oleh karena itu, di era Covid-19 ini, peran keluarga utamanya orang tua, sangat penting dalam Lifelong Learning. Paling fundamental ialah tentang bagaimana memanfaatkan waktu dengan baik selama di rumah saja. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW, “Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang” (HR.Bukhari). (*Shofia Nurun Alanur S,- Dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FKIP Universitas Tadulako)

Ayo tulis komentar cerdas