Home Artikel / Opini

Cermin Senja

109
Nur Sangadji. (Foto: Ist)

Oleh: Muh. Nur Sangadji

CUKUP lama saya mencari judul yang tepat untuk kolom ini. Lama, karena bingung. Bingung, lantaran sudah banyak nama kolom menarik, telah diambil orang. Kita sangat kenal catatan pinggir Gunawan Muhammad di Tempo. Waktu SMP, saya penggemar kolomnya MAW Brower di Kompas. Ada juga kolom Resonansi di Republika, Refleksi, Catatan kritis, Catatan pagi, Catatan Sore, Goresan Pagi dan lain-lain.

Akhirnya, saya temui dua kata ini “Cermin Senja”. Ditemukan ketika diundang pada acara refleksi tiga tahunan kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Sigi, Sulawesi Tengah. Mereka adalah Irwan Lapata dan Paulina. Keduanya memimpin Kabupaten ini dalam masa tiga tahun hingga datang bencana dahsyat liquifaksi 28 September 2018. Sesudahnya, keduanya bangkit, mengajak publik untuk refleksi.

Hemat ku, refleksi itu adalah evaluasi. Melihat apa yg telah kita lakukan sebelumnya. Mengambil hikmah. Mencari pemicu kemajuan. Menemukan penyebab kegagalan. Lalu, menjadi pijakan untuk melangkah berikutnya. Pendeknya, menatap yang sudah dan merencanakan yang depan.

Untuk ini, cermin senja adalah alat ilustrasi yang cocok. Penting, sebab jarang orang menggunakan cermin saat senja. Kita selalu bercermin pagi untuk melihat kesempurnaan sebelum beranjak. Senja hari adalah saat penat, lelah dan cape. Relatif, tidak banyak atau tidak ada orang bercermin saat itu.

Padahal, itulah momen untuk menatap, seperti apa wajah kita sehabis kerja. Menghitung banyak langkah yang sudah kita ayunkan. Menyusuri tapak dari derap yang telah kita arahkan. Cepat atau tertatihkah kita?

Derap langkah yang mengayun, Itulah tanda untuk mengukur hasil dari usaha seharian. Evaluasi atas korbanan waktu dan tenaga yang dicurah sepanjang pagi dan siang. Tenaga yang diyakini cukup saat kita bercermin pagi. Wujud imbalan baliknya dilihat di cermin petang.

Cermin petang akan bilang kepada kita tentang hasil yang digapai hari itu. Hasil yang diukur dengan membanding usaha yang telah diberi. Efisien atau boroskah kita seharian? Selebihnya, bermanfaatkah setiap diri pada hari itu? Atau, bergunakah hidup kita, dari pagi hingga senja?

Dan, masih banyak pertanyaan sejenis yang bisa kita produksi. Tapi, sebanyak apapun pertanyaannya, semua bisa dijawab saat kita masih punya nyali. Yaitu, nyali untuk melihat wajah kita sendiri kala senja tiba. Menatapnya di saat matahari akan terbenam. Pada cermin yang kita beri nama Cermin Senja. Wallahu A’lam bishawab. (*)

Ayo tulis komentar cerdas