Home Ekonomi

Mengais Rupiah, Walau Hanya Sebagai Penjahit Sepatu

135
Sabri, penjahit sepatu yang sehari-hari mengais pundi-pundi rupiah dekat SPBU di Jalan Towua Kota Palu. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)

Laporan: Fikri Alihana

DALAM mengais pundi-pundi rupiah banyak cara yang dilakukan seseorang untuk dapat bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satunya profesi sebagai penjahit sepatu

Sabri, warga yang tinggal Jalan Darussalam, Kelurahan Tatura Utara ini sehari-hari berpofesi sebagai penjahit sepatu di Jalan Towua. Walaupun begitu ia tetap bersyukur dengan apa yang dijalaninya saat ini.

Profesi yang dijalankan kurang lebih hampir 4 tahun tersebut sangat begitu digelutinya. Sebelum memulai usaha itu, dirinya mengungkapkan pernah bekerja sebagai buruh di salah satu pabrik penggilingan kelapa di Kota Palu.

Namun sejak memiliki istri dan anak, Sabri berhenti melakukan pekerjaan tersebut dan lebih fokus memilih untuk beralih menjadi penjahit sepatu.

“Awalnya saya bekerja dengan gaji bulanan. Tapi karna sudah ada berkeluarga dan gaji tidak mencukupi, akhirnya saya memutuskan berhenti dan kerja seperti ini, kebetulan ada pengalaman juga menjahit sepatu,” ungkapnya.

Menurutnya, sebelum adanya pandemi virus Corona yang melanda Indonesia khususnya di Kota Palu. Pendapatan yang diperolehnya dari menjahit sepatu kurang lebih sekitar Rp50 hingga Rp100 ribu per hari. Tetapi, karena wabah Covid 19 semakin merebak omset pendapatan mulai menurun.

“Hitungan boleh untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, itu dulu. Tapi sudah dua bulan terakhir pendapatan semakin hari menurun, kadang tidak dapat sama sekali dalam sehari, sudah susah sekarang,” tuturnya.

Sementara untuk satu pasang sepatu yang dijahitnya dihargai Rp20 ribu. Sedangkan, sendal orang hanya membayar jasanya sekitar Rp15 ribu/pasang. Walau ditengah ancaman pandemi virus Corona, dirinya tetap semangat dan bersyukur dengan rezeki yang didapatkannya hari ini.

“Ya, kalau ada modal saya ingin membangun usaha baru. Tapi, saya bingung memulai dari mana. Apalagi, modal tidak punya, terpaksa mau diapa sedangkan ini saja masih susah,” ucapnya.

Pria asal Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan ini sudah cukup lama berada di tanah Kaili mengais rezeki. Ia mengungkapkan kurang lebih sekitar puluhan tahun menginjakan kaki ke tanah rantau. Dan begitu terasa banyak pengalaman yang ia dapatkan selama ini. (**)

Ayo tulis komentar cerdas