Home Sulteng

Dispar Sulteng Gelar FGD Online Dampak Covid-19

101
FGD ONLINE - Kadis Pariwisata Sulteng, I Nyoman Sriadijaya saat mengikuti FGD secara daring di ruangan kerjanya, Selasa, 21 April 2020. (Foto: Istimewa)

Palu, Metrosulawesi.id – Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah menggelar Focus Group Discussion (FGD) Percepatan Pemulihan Pariwisata dengan mengusung tema “Dampak Covid-19 pada Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Sulawesi Tengah”.

FGD itu dilaksanakan secara daring (online) dengan memakai aplikasi Zoom Could Meeting, Selasa, 21 April 2020. Adapun narasumber yang dilibatkan dalam FGD itu adalah Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf RI, Dr Frans Teguh, Ketua Lembaga Penelitian Pariwisata Universitas Gajah Mada, Prof Janianton Damanik, Kepala Bappeda Provinsi Sulteng, Dr Hasanuddin Atjo, Ketua Pusat Studi Kebijakan Pembangunan dan Ekonomi Untad, Dr Suparman, dan Ketua Gabungan Industri Pariwisata (GIPI) Sulawesi Tengah, Fery Taula.  

Dalam sambutannya, Kepala Dispar Provinsi Sulteng, I Nyoman Sriadijaya, mengatakan, fenomena Covid-19 bukan hanya mempengaruhi sektor kesehatan saja, tetapi  hampir semua sektor layanan dan produksi terpengaruh, sehingga secara keseluruhan terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi, termasuk yang dihasilkan dari sektor jasa pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Menurut hemat saya, penyebab utamanya adalah terhentinya pergerakan atau kunjungan wisatawan, sehingga mengakibatkan ditutupnya destinasi utama dan desa wisata serta kecenderungan orang untuk tinggal di rumah saja,” ujarnya.

I Nyoman mengatakan, rantai suplay dan demand kepariwisataan hampir terhenti, sehingga ada ribuan usaha pariwisata dan ekonomi kreatif, serta jutaan pekerja tidak lagi menghasilkan pendapatan. Bahkan, kata dia, tidak sedikit pekerja yang di PHK, karena sangat terpuruknya usaha-usaha pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Oleh karena itu, penanggulangan bencana ini harus juga disertai dengan penyelamatan dunia kepariwisataan yang merupakan sektor andalan kita. Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang harus menjadi perhatian dan ditemukan jalan keluarnya serta rencana yang realistis dan berimbang,” katanya.

Pertama, kata I Nyoman, pelu menyelamatkan SDM pariwisata, agar tetap bertahan dan produktif, atau sekurang-kurangnya kembali produktif, setelah situasi dianggap aman. Kedua, menyelamatkan industri pariwisata agar tetap berdiri dan beroperasi sebagaimana mestinya, segera setelah rantai suplay-demand berjalan kembali.

“Ketiga, mengembalikan kepercayaan pasar atau wisatawan agar kembali melakukan rencana perjalanan dan merencanakan kunjungan wisata, termasuk dapat menemukan segmen pasar yang paling potensial,  segera setelah ancaman global berakhir,” jelasnya.

I Nyoman percaya, bahwa berbagai aspek terkait Covid-19 akan mengubah banyak hal, termasuk kecenderungan keputusan-keputusan orang dalam merencanakan dan melakukan perjalanan wisata.

“Oleh karena itu, sedapat mungkin solusi yang kita hasilkan didasarkan pada maind set yang merujuk pada situasi global setelah Covid-19 ini. Kami berharap diskusi kita hari ini dapat menghasilkan gagasan dan solusi yang dapat dijadikan dasar dalam menyusun rencana aksi pembenahan kepariwisataan dan ekonomi kreatif, khususnya di Provinsi Sulteng,” ujarnya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas