Home Artikel / Opini

Gelitik Kata “Mudik” dan “Pulang Kampung”

598
Taqyuddin Bakri. (Foto: Ist)

Oleh: Taqyuddin Bakri*

“MUDIK” dan “pulang kampung”. Dua frasa ini berpadanan, minimal beririsan dalam pemaknaan. Dua frasa itu bukan frasa luar biasa. Namun, menjadi ramai karena disampaikan oleh nakhoda bangsa ini, Presiden Joko Widodo, dalam wawancara eksklusifnya dengan Najwa Shihab.

Sontak, bak oase di tengah gurun, dua frasa itu ramai diperbincangkan. Jagad media sosial menjadi ramai. Ada yang memperbincangkan dengan objektif, ada pula yang dengan tendensi. Tidak apalah, itu adalah hak setiap orang. Toh, ini ada masa kebebasan berekspresi. Siapa pun, bebas mengomentari apa pun, dan dalam hal apa pun itu.

Padanan “mudik” dan “pulang kampung” dapat terlihat sangat dekat jika ditilik dari aspek struktural dan/atau dimaknai secara leksikal. Secara harfiah, kedua frasa itu menyisyaratkan mengenai arus pergerakan orang dari tempat lain ke tempat asalnya atau ke kampung halamannya. Entah itu menggunakan transportasi pribadi, maupun transportasi umum. Entah itu dilakukan oleh orang “berpunya” maupun oleh golongan lainnya. Pokoknya maknanya: balik ke kampung halaman.

Namun, memaknai bahasa tidak hanya cukup memaknai dari aspek struktural. Bahasa terlalu “riskan” jika dimaknai secara leksikal. Bahasa itu adalah proses komunikasi. Artinya, minimal ada dua orang yang terlibat: penutur dan mitra tutur. Bahasa juga melibatkan maksud dari orang yang terlibat dalam proses komunikasi itu. Bahasa juga terkait dengan konteks. Jangan lupa pula, bahasa hadir karena akulturasi budaya atau ada makna kultural yang menyertai bahasa itu.

Sekait dengan itu, Presiden Joko Widodo dalam penuturannya tentang frasa “mudik” dan “pulang kampung” memilah dua frasa itu dengan makna yang berbeda. Dalam kajian sosiopragmatik, inilah yang disebut dengan jenis tuturan ilokusi atau tuturan yang maknanya sesuai maksud penutur. Tuturan jenis ini tidak dapat dibedah dan dimaknai secara struktural. Namun, harus dibedah minimal dengan menggunakan makna kontekstual, bahkan struktural.

Pembedahan itu dilakukan agar makna antara “mudik” dengan “pulang kampung” dapat dibedakan. Merujuk pada aspek kontekstual, Presiden Joko Widodo mengeluarkan penyataan itu karena kondisi dilematis dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang semakin meluas. Bahkan, Presiden Joko Widodo telah menjelaskan langsung maksud frasa “pulang kampung” yaitu kembalinya masyarakat ke kampung halaman karena belum atau tidak adanya pekerjaan di Jakarta, dan ada keluarga inti di kampung halaman. Sederhananya, masyarakat pulang kampung karena faktor ekonomi dan kondisi kesendirian di perantauan.

“Mudik”, selain yang telah dijelaskan oleh Presiden Joko Widodo dalam wawancara eksklusifnya, juga dapat ditinjau dari aspek kontekstual-kultural. Masyarakat Indonesia, setiap tahun melaksanakan ritual “mudik” itu. “Mudik”, jika ditanyakan sepintas kepada orang lain, akan terdengar jawaban tentang aktivitas rutin yang dilakukan setiap tahun saat hari raya/lebaran Idul Fitri (umumnya) dengan mengunjungi keluarga di kampung halaman. Letak perbedaannya terletak pada aspek sosiokultural, yaitu rutinitas masyarakat dan waktu untuk mudik tersebut. Ritual “mudik” inilah yang dilarang dilaksanakan karena dikhawatirkan akan ada arus pergerakan orang dalam jumlah besar dan dalam satu waktu yang bersamaan. Imbasnya, daerah tujuan kesulitan mendata. Imbas lainnya, tentu terkait dengan aspek kesehatan. Apalagi pandemi Covid-19 ini lagi nakal-nakalnya.

Tentu saja, tulisan ini hanya sebuah guratan sederhana. Sangat sederhana dibandingkan dengan kompleksitas yang dihadapi oleh seorang Kepala Negara. Kita semua yang “tergelitik  berkomentar tentu saja memiliki tujuan yang sama: pandemi Covid-19 ini segera berlalu. Tujuan kita sama, cara kitalah yang berbeda. Sekali lagi, setiap insan bebas mengomentari apa pun, dan dalam hal apa pun itu. Namun, patut diingat, kita jangan mencampuradukkan berbagai hal dalam komentar-komentar jenius kita. Kita cukup banyak tahu melalui banyak membaca. Namun, lebih elok kita tidak menjadi ahli dalam segala bidang atau istilahnya ahlinya ahli.

Dalam situasi saat ini, saatnya kita memberikan kepercayaan kepada pemerintah: pusat dan daerah. Bersama kita yakin, pandemi ini akan pergi dengan kepatuhan kita semua. Jika ada yang mesti “digelitik”, “gelitiklah” dengan santun dan sesuai bidang kita. Berikan kritik disertai solusi. Jangan kita terbuai dengan hal remeh-temeh. Tujuan dan semangat kita sama dan lebih besar: kembali melihat senyum kawan tanpa tertutup masker, merasakan hangatnya jabatan tangan tanpa ketakutan, dan bebas ke mana pun tanpa takut basah dengan cairan disinfektan. Selamat menyambut Ramadhan!

*Penulis adalah Dosen FKIP Universitas Tadulako, dan Pemerhati Pendidikan.

Ayo tulis komentar cerdas