Home Artikel / Opini

Panic Buying

266
Moh. Ahlis Djirimu. (Foto: Ist)

Oleh: Moh. Ahlis Djirimu*

PADA Tahun 2009, seorang pejabat Universitas Tadulako, datang bersama adiknya ke kota tempat saya kuliah di Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Hukum, Ilmu Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen Universitas Nice Sophia Antipolis. Beliau ke Nice setelah mengikuti kunjungan ke UNESCO yang memang bermarkas di Paris. Saya mengajak beliau bersama adiknya berkeliling kampus nan asri dengan latar belakang gugusan pegunungan Alpen dan latar depan lautan Mediterania. Ketika waktu makan siang tiba, penulis mengajak makan siang berharga 12 euro membayar 3 euro karena pendidikan disubsidi oleh pemerintah.Kami makan di restoran universitas dalam istilah singkat di Prancis, Resto-U. Ketika mengambil sendiri makanan bersama bakinya.Pejabat sekaligus pengajar Untad tersebut kagetnya bukan main karena ada empat piring sedang di atas baki terdiri dari makanan pembuka, makanan utama, buah-buahan dan pencuci mulut. Di sela-sela makan siang, sambil mengobrol beliau menyatakan akan mencoba menghabiskannya. Mungkin karena shok saking banyaknya, empat piring sedang.

Saat itu saya bercerita bahwa Presiden Prancis saat itu berasal dari Partai Konservatif RPR menerapkan aturan menghukumpenduduk yang mubazir dengan denda sebesar 52 euro setara Rp 728 ribu atau 25 persen dari harga makanan. Hal ini dilakukan karena saat itu, setiap hari ada 25 persen makanan yang terbuang percuma. Fenomena ini membuat geram Pemerintah Prancis sehingga menerapkan aturan denda (l’emend). Aturan ini tidak saja berlaku di Prancis tetapi di negara-negara Eropa berbasis pada Sosial Demokrat seperti Jerman, Benelux, Skandinavia. Saat itu,ada juga penduduk yang keberatan, karena makanan yang sudah mereka beli, lalu dikonsumsi tidak habis dikenai denda. Bila kita beralasan kita sudah beli, petugas atau penjaga restoran hanya berkata, oui Monsieur, c’est vous qui payez, dejeuner suffisant en, revanche, tous les fruits, les repas appartiennent a la societe. Il y a droit des autres, c’est dommage vous jetez les dans la poubelle : anda benar pak, anda telah bayar, makananlah secukupnya, sebaliknya, semua makanan ini dimiliki oleh rakyat secara umum, ada hak orang lain yang anda buang ke tempat sampah. Saat itu, penulis sambil berucap, negara ini telah menerapkan nilai-nilai Islami, walaupun penduduk beragama Islam merupakan minoritas setelah Katholik dan Protestan, serta atheis.

Ini pelajaran berharga bagi kita agar jangan mubazir dan janganlah serakah (greed). Dunia ini pernah krisis akibat sikap “greedy” atau serakah. Krisis Amerika yang terjai pada 2008 terjadi karena Fund Manager korporasi ingin mendapatkan bonus dari pemegang saham, lalu pemegang saham ingin memperoleh dividen banyak dari operasi korporasi. Bila hal ini terjadi berbarengan, maka ramai-ramai satu kota niaga di Amerika terkena dampaknya. Jatuhnya saham Lehman Brothers, Freddy Mae, merupakan dampak keserakahan hipotek.

Belajar dari dua pengalaman berbeda di Uni Eropa dan Amerika, sudah semestinya kita tidak melakukan belanja irasional (panic buying) sebagai dampak dari Covid-19 karena akan membusuk di lemari es kita di rumah bila memborong sembilan kebutuhan pokok (sembako) maupun non makanan, atau seperti fenomena panic buying masker sekitar tiga minggu lalu telah membuat rentan para tenaga kesehatan di Rumah Sakit karena mereka kehabisan masker standar dalam menangani pasien yang sakit.

Covid-19 di Sulteng berdampak ekonomi pada 1.112.129 jiwa di Sulteng atau hampir 40 persen penduduk Sulteng terdampak. Penting bagi kita juga mengutamakan kesehatan lebih dulu ketimbang ekonomi dengan segala konsekuensi logisnya dalam masa Pandemi Covid-19. Empati dan gotong royong sebagai ciri khas bangsa Indonesia menjadi wadah penting sebagai wahana membangunan kohesi sosial. (*Staf Pengajar FEB-Untad dan Anggota Forum Ekonom Kemenkeu)

Ayo tulis komentar cerdas