Home Artikel / Opini

Retronomic

104
Moh. Ahlis Djirimu. (Foto: Ist)

Oleh Moh. Ahlis Djirimu*

BEBERAPA tahun lalu, Ballroom Hotel Mercure di Palu penuh sesak. Penontonnya adalah penduduk Sulteng usia 40 tahun ke atas, bahkan ada yang 70an tahun. Apa gerangan hingga mereka berkumpul menikmati alunan musik kelompok musik tempo doeloe, Koes Plus. Faktor usia membuat mereka tahu diri jauh dari kesan jingkrak, gaya penonton musik anak jaman milenial. Kesan nostalgia ke dekade 1960-an, 1970-an dan 1990-an mewarnai malam itu. Mungkin saat itu, pentas terakhir drummer Koes Plus, mendiang Murry. Musik mereka sangat digemari generasi saat itu. Walaupun menghadapi larangan rezim Orde Lama, tetapi warna musiknya tetap kental.

Pada dekade 1990an, lagu-lagu Chrisye membahana hingga akhir hayatnya. Pentas musik nostalgia ala Chrisye mendominasi tayangan satu dari beberapa stasiun televisi swasta. Generasi penghujung 1960an, 1970an, 1980an, bahkan 1990an larut dalam pentas musik beliau. Aura Chrisye begitu besar terlihat dari musisi pendukungnya sangat banyak.
Dua contoh di atas menggambarkan fenomena retronomic, atau suatu fenomena yakni para fans musik di masanya, ingin kembali bernostalgia bersama idola mereka. Mereka nyanyi bareng, larut dalam kegembiraan di masanya. Usia boleh bertambah terus seiring berjalannya waktu, tetapi kegemaran pada musik yang dipancarkan oleh idolanya nyaris tetap ada auranya.

Bila bertemu crazy fans, mulai poster, jersey, kaset, compaq-disk hingga blue-raydijamin pasti ada di rumah mereka. Generasi milenial membaca ada pasar potensial dari retronomic ini. Pasar potensial identik dengan idola direcycle kembali sehingga asesoris, kaset, CD, poster, website tersedia kembali dan laris maris di setiap pentas.

Cafe-cafe, event organizers, penyedia jasa gedung, percetakan, dapur rekaman dan hotel tidak mau ketinggalan memanfaatkan potensi pasar ini. Mereka berusaha semaksimal mungkin menyediakan jasa pentas musik retronomic. Pokoknya chance does not knock twice, kesempatan tidak datang dua kali. Kerjasama simbiosis mutualisma terjadi dan bahkan berlanjut terusberkesinambungan.

Keinginan bernostalgia bersama idola musik hampir seusia di masa lalu bertemu dengan kemampuan aksi gagasan dan kemampuan generasi milenial menjadi satu kekuatan potensial melahir industri starup didominasi generasi anak-anak kita. Pada 2020, diperkirakan star-ups lahir sebanyak 1000+10 unit termasuk technopreneurs menjadi momen terbangunnya Next Indonesia Corn (nexIcorn) yang bernilai ekonomi sekitar Rp 150 triliun seperti layaknya Shogo Shosa di Jepang dan Jaebul di Korea Selatan. Oleh karena Indonesia merupakan negara agraris, kita berharap ada star-ups telahir dari technopreurs petani dan nelayan. Kontribusi pertanian mencapai Rp 961,1 triliun atau proporsinya mencapai 10,58 persen dalam PDB menjadi indikator berkembangnya start-ups di sektor ini. Pada 2020 ini, diperkirakan, 1 juta star-ups lahir mengikuti star-ups yang sudah terlebih dahulu lahir seperti Tanihub, Limakilo, Pasar Laut, Petani.

Pada akhirnya, kita berharap, retronomic dapat melahirkan lapangan kerja baru bagi generasi milenial yang berpikir visioner bagi masa depan bangsa ini, tidak saja di kota-kota yang telah berkembang star-upsnya di Jawa dan Sumatra, tetapi di Kawasan Timur Indonesia, termasuk di Sulawesi Tengah, Inshaa Allah. (*Staf Pengajar Jurusan Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan FEB-Untad)

Ayo tulis komentar cerdas