Home Palu

Rektor Untad Dilapor ke Presiden

26157
Prof Mahfudz MP. (Foto: Ist)

Palu,  Metrosulawesi.id – Rektor Universitas Tadulako (Untad) Prof Dr Ir Mahfudz MP dilaporkan oleh sejumlah guru SMA Labschool Untad ke Presiden Joko Widodo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), dan Ombudsman Republik Indonesia atas pemecatan sepihak.

Laporan itu dilakukan karena Prof Mahfudz selaku Rektor yang menaungi SMA Labschool Untad dinilai menyalahgunakan jabatan dengan tindakan yang mengarah SARA.

James Morintoh, salah seorang guru SMA Labshool Untad yang dipecat mengungkapkan tindakan mengarah ke SARA itu dilakukan dengan memecat sejumlah guru tanpa prosedur yang jelas.

Dia menjelaskan pemecatan yang dilakukan Rektor itu dilakukan terencana atas provokasi dari anak pertama Prof Mahfudz berinisial AS. Provokasi AS yang merupakan mantan siswa SMA Labschool Untad itu dilakukan di depan siswa SMA Labschool untuk mendemo guru-guru.

“Sebagaimana dalam surat kami kepada Presiden dan Mendikbud, kami menyampaikan bahwa AS pernah melontarkan pernyataan kalau guru di SMA Labschool Untad bisa dipecat kapan saja dia mau,” ujar James, Minggu, 22 Maret 2020.

“Tidak lama setelah pernyataan AS dan provokasinya terhadap siswa, akhirnya Rektor mengeluarkan SK pemecatan bagi kami. Salah kami dimana? Apa karena beda agama sampai kami tidak bisa mengajar di sekolah milik Untad itu?,” tambahnya.

James menjelaskan, dia bersama lima rekannya yang dipecat berharap surat yang ditujukan ke Presiden, Mendikbud, dan Ombudsman itu dapat diperhatikan dan menjadi pertimbangan Mendikbud untuk mencopot Rektor Prof Mahfudz. Apalagi pemberhentian itu sarat unsur SARA karena ada empat guru yang diberhentikan dengan penilaian yang telah dikondisikan oleh Rektor Untad.

James mengatakan dikondisikan karena pemberhentian itu diatur oleh Rektor Untad bersama ketua PPU lama. Setelah muncul masalah ini ke permukaan, yang bersangkutan dipromosikan dan diberikan jabatan yang lebih tinggi yaitu Sekretaris LPPMP Untad.

“Kasihan saja saat negeri ini sementara krisis sikap toleransi, ada pemimpin universitas yang justru bersikap intoleransi dan rasis. Kekuasaan digunakan untuk menghantam kami orang kecil yang kebetulan berbeda agama. Maka semoga dengan kekuasaan yang dipunyai pak Mendikbud juga bisa mencopot Profesor Mahfudz yang telah sewenang-wenang,” ucapnya.

Guru yang dipecat oleh Prof Mahfudz itu juga menambahkan sudah wajar kalau Mendikbud memberhentikan Rektor Untad. Alasan lain yang disampaikan karena selama satu tahun lebih Rektor tidak ada prestasi apa-apa. Dia mengaku pernah berurusan ke kampus dan datang jam 8.15 pagi, tapi harus menunggu sampai jam 11 lewat baru di layani oleh Rektor.

Sementara itu Rektor Untad, Prof Mahfudz yang dikonfirmasi tidak banyak berkomentar. Dia hanya menjawab tidak apa-apa dan itu hak mereka. “Gpp itu hak mereka,” jawabnya singkat via pesan singka WA. (*)

Reporter: Michael Simanjuntak

9 COMMENTS

  1. Agar berita berimbang, seharusnya disertakan juga pendapat oleh narasumber lain, dimana disini yang bersangkutan adalah (Rektor Untad), tidak ada wawancara tapi hanya pesan singkat lewat WA seperti itu.

    Supaya pembaca bisa tau juga permasalahan ini bagaimana, ini malah media terkesan memihak.

    Dari 5 guru yg dipecat itu ada yg muslim juga. Jangan justru ikut-ikutan memprovokasi

  2. Maaf mengenai rektor yg lambat melayani, sy kira kurang tepat mau dijadikan satu masalah disini, coba pikir saja, beliau ini rektor universitas, yg jelas tentu saja banyak urusan penting lainnya yg mungkin harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum bertemu bapak yg bersangkutan:)

  3. Terkesan memprovokasi berita ini.
    Oh iya model berita nya seperti memihak.
    Jadi sarannya mungkin ada pendapat dari kedua belah pihak dalam berita.

  4. saya sepakat dengan ibu Dhea Septi Alisa. Berita ini sepihak. Tidak mendidik. provokatif.

Ayo tulis komentar cerdas