Home Sulteng Bappeda Tetapkan Desa Cerdas Percontohan

Bappeda Tetapkan Desa Cerdas Percontohan

85
Hasanuddin Atjo. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)

Palu, Metrosulawesi.id – Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulteng menetapkan percontohan smart village atau desa cerdas. Yang dijadikan percontohan yaitu Desa Potoya di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Kepala Bappeda Provinsi Sulteng, Dr Hasanuddin Atjo, menerangkan salah satu program desa cerdas adalah smart farming atau kegiatan usaha pertanian, yaitu budidaya ikan Nila yang lebih ditekankan kepada pelibatan masyarakat, terukur, dan terkendali.

“Nantinya akan diintegrasikan dengan digitalisasi mulai di sektor hulu sampai di hilir,” terang Hasanuddin, Jumat, 28 Februari 2020.

Dia mengatakan smart village Desa Potoya dengan program smart farming telah dievaluasi oleh tim penilai independen dan penilai utama Bappenas pada Kamis 27 Februari 2020. Diketahui Potoya salah satu desa di Kecamatan Dolo, yang memiliki potensi di sektor pangan antara lain untuk produksi hortikultura, padi, palawija dan produksi ikan air tawar.

Namun, likuifaksi atau pergeseran tanah akibat gempa bumi 7,4 SR pada 28 September 2018, telah menyebabkan  muka air tanah atau water table di wilayah itu turun sampai dengan 12 meter dari sebelumnya 2 meter, diukur dari atas permukaan tanah.

“Ratusan kolam ikan  yang diperkirakan seluas 25 ha dan menghidupi lebih dari 100 kepala keluarga, baik sebagai pemilik atau penyewa kolam tidak dapat memanfaatkannya untuk wadah budidaya, karena kolam tidak mampu menahan air akibat turunnya water table.  Selain itu suplai air juga berkurang secara drastis,” ujar Hasanuddin.

Hasanuddin menuturkan sebelum bencana 28 September, setiap bulan Desa Potoya menghasilkan ikan air tawar kurang kebih  2- 3 ton untuk dipasarkan di wilayah Sigi dan Kota Palu. Akibatnya, sejumlah usaha kuliner ikan tawar di Kota Palu maupun  kabupaten Sigi kekurangan pasokan ikan, sehingga harus didatangkan dari Manado dan Gorontalo.

Dijelaskan smart farming merupakan inovasi budidaya perikanan yang menggunakan kolam beralas tarpaulin (tarpal dilengkapi anti sinar UV), menggunakan sumber air dari sumur dangkal yang ditarik menggunakan pompa air. Inovasi ini dilengkapi kincir air guna meningkatkan ketersediaan oksigen dalam kolam budidaya karena padat tebar benih  dinaikkan  untuk peningkatan produktifutas.

Project percontohan smart farming dibiayai APBD provinsi melalui Dinas Kelautan dan Perikanan tahun 2019 dan dilanjutkan tahun ini. Sementara melalui Bappeda Provinsi Sulteng telah dianggarkan aplikasi digital untuk perencanaan dan program smart village.

“Percontohan smart village dan smart farming kami harapkan menjadi role model atau lokus pembelajaran bagi desa-desa lainnya, utamanya terkait dengan pemanfaatan dana desa dan dana dari sumber lain yang telah digelontorkan untuk kemajuan desa,” pungkas Hasanuddin.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here