Home Ekonomi KPKPST Bantu Pasarkan Produk UMKM Penyintas

KPKPST Bantu Pasarkan Produk UMKM Penyintas

72
Produksi UMKM penyintas bencana 28 September 2018 yang dipasarkan oleh Yayasan Kelompok Pejuang Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah (KPKPST) di Jalan Jambu No 21, Kelurahan Siranindi, Kecamatan Palu Barat. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)

Palu, Metrosulawesi.id – Demi memulihkan dan meringankan beban ekonomi para korban bencana alam 28 September 2018 silam, Yayasan Kelompok Pejuang Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah (KPKPST) membantu memasarkan hasil produk UMKM milik para penyintas.

Divisi Pemberdayaan KPKPST, Irawan menjelaskan ada beberapa jenis makanan dan produk unggulan dari kelompok binaan. Diantaranya, bawang goreng, minyak kampung, kopi Lindu, beras merah organik, dan masih banyak lagi.

“Ada banyak kelompok binaan kami, karna beberapa donatur NGO yang juga ikut membantu peralatan pascabencana kemarin. Kalau untuk khusus dari Jepang ada sekitar 21 kelompok dan terdiri bermacam-macam usaha produksi,” jelasnya, Rabu (26/2/2020).

Sementara itu, ia mengungkapkan produk tersebut merupakan dari beberapa desa yang ada di Kabupaten Donggala dan Sigi. Sedangkan, lokasi pemasaran berada di Jalan Jambu No 21, Kelurahan Siranindi, Kecamatan Palu Barat.

“Sebenarnya mereka itu sebelum bencana sudah produksi. Tetapi, karena bencana banyak dari mereka yang kehilangan mata pencaharian bahkan hingga tanpa modal usaha, maka dari itu kami selaku pemerhati langsung merespon apa yang diinginkan penyintas dengan membentuk suatu kelompok,” ungkapnya.

Selanjutnya, di dalam satu kelompok tersebut ada sekitar 15 sampai 30 orang. Bahkan, kata Irawan, dalam satu desa bisa 100 orang per kelompok. Ia menyebutkan untuk bahan baku lokal yang digunakan itu tergantung dari daerah masing-masing.

“Seperti di Desa Wombo, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, warga di sana identik dengan penghasil tanaman bawang. Untuk itu, agar mereka tidak terlalu repot mendapatkan bahan baku,” terangnya.

Ia mengakui para kelompok UMKM binaan menghasilkan produk sesuai dengan permintaan pasar. Sedangkan, untuk harga bawang goreng ukuran 100 gram sekitar Rp30 ribu. Begitu pun jika pemesan meminta produksi sangat banyak bisa mencapai Rp300 ribu perkilogram.

“Tidak seperti waktu masih ada NGO, mereka biasa produksi seminggu sekali, tapi sekarang tergantung pesanan dan harga pasar. Kopi harganya Rp20 ribu, minyak goreng kampung Rp10 ribu, dan beras merah organik Rp130 ribu ukuran 5 kilogram,” katanya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here