Home Ekonomi BI: Virus Corona Dapat Menjadi Peluang Ekspor

BI: Virus Corona Dapat Menjadi Peluang Ekspor

182
Diseminasi Perkembangan Perekonomian Sulawesi Tengah dengan tema "Naheba Perekonomian Sulteng" di Hotel Santika Palu. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)

Palu, Metrosulawesi.id – Bank Indonesia perwakilan Sulawesi Tengah menilai akibat virus Corona yang terjadi di negara Tiongkok, seharusnya dapat dimanfaatkan menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor.

Hal ini disampaikan langsung Kepala BI Perwakilan Sulawesi Tengah M Abdul Majid Ikram disela-sela kegiatan Diseminasi Perkembangan Perekonomian Sulawesi Tengah dengan tema “Naheba Perekonomian Sulteng ” yang dilaksanakan di Hotel Santika Palu, Kamis (13/2/2020).

“Ini bisa jadi musibah, tapi bisa juga jadi peluang karena ekspor Tiongkok pasti melambat. Inilah yang harus perlu menjadi keuntungan bagi kita di Indonesia termasuk dari di Sulawesi Tengah untuk masuk melengkapi atau memenuhi permintaan komoditas dunia yang mungkin ditinggalkan Tiongkok,” ujarnya.

Ia mengatakan faktor harga komoditas menjadi salah satu potensi pasar ekspor internasional. Disamping itu, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tengah secara nilai angkanya sudah cukup baik.

“Jadi kita meyakini angka dari Badan Pusat Statistik. Jika dilihat memang indikator yang dimiliki oleh Bank Indonesia sebagai pembanding bahwa perekonomian nasional dan di Sulteng tidak ada masalah, kita masih bisa tumbuh 5,01%. Walaupun, beberapa sektor menghadapi tantangan,” ujarnya menambahkan.

Lebih lanjut dia menjelaskan, khusus sektor properti dan kendaraan bermotor yang sekarang ini tingkat penjualan sedikit kurang menurun. Namun, di sisi lain ekonomi di Indonesia masih kuat dan menunjukkan tren positif dalam hal perdagangan antar daerah.

“Ini yang menjadi salah satu keyakinan Bank Indonesia dalam rangka untuk mempertahankan tingkat suku bunga. Sebab, hal ini dapat mendorong pelaku usaha dan masyarakat agar terus berinvestasi,” jelasnya.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Sulteng tercatat 9,59% (yoy), lebih cepat dibandingkan triwulan sebelumnya 6,15% (yoy). Sedangkan, faktor utama pendorong pertumbuhan adalah tingginya pertumbuhan investasi khususnya di daerah Morowali.

“Penghambat utama adalah rendahnya impor dikarenakan pelaku usaha yang telah melakukan impor bahan baku dan barang modal yang cukup besar di TW III,” ucapnya

Apalagi, konsumsi pada triwulan IV 2019 secara level telah kembali pada level sebelum bencana. Pola pengeluaran masyarakat telah kembali dengan kecenderungan meningkat sesuai pola tahunan dan tingkat inflasi di angka 9,07%,”

“Pertumbuhan konsumsi pemerintah mengalami perlambatan karena hambatan realisasi akibat perencanaan yang berubah akibat bencana sehingga penyerapan hingga akhir tahun tidak maksimal atau hanya 3,39%,” pungkasnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here