Home Palu Konsultasi Sebelum Trauma Semakin Parah

Konsultasi Sebelum Trauma Semakin Parah

115
  • Penting Mitigasi Bencana Berbasis Psikologis (Bagian I)

Pascabencana, banyak orang tidak menyadari dirinya sedang mengalami gangguan mental emosional. Psikolog menyarankan segera konsultasi sebelum berkembang menjadi lebih parah.

TINA berusaha sekuat tenaga, menyelamatkan dua anaknya ketika gempa dahsyat itu terjadi. Suaminya tak ada di rumah. Kali ini, bukan gempa biasa. Kuatnya guncangan sanggup membuat lantai yang dipijaknya terangkat hingga menyentuh atap. Jalan yang semula rata, berubah menjadi bukit setinggi lima meter.

“Saya gendong bayi saya, berusaha keluar dari rumah. Anak pertama dan ibu saya juga berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri. Ada yang berteriak ‘tsunami tsunami tsunami’. Saya terus berlari sampai ke dataran tinggi,” cerita Tina.

Tina adalah warga Jalan Kelor Lorong 3, Kecamatan Palu Barat. Lebih dari satu tahun pascabencana, dia dan dua anaknya masih tinggal di tenda pengungsian di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat. Dia mengaku belum sanggup melupakan peristiwa mengerikan yang terjadi petang itu. Baginya, gempa bumi bermagnitudo 7,4 yang mengguncang Kota Palu dan sekitarnya adalah peristiwa paling mengerikan sepanjang hidupnya.

“Apalagi saat kejadian itu, suami saya sedang di tempat usaha fotokopi,” ujar ditemui di tenda pengungsian di Kelurahan Balaroa, Palu Barat, Selasa 28 Januari 2020.

Musibah yang terjadi pada Jumat, 28 September 2018 memang dahsyat. Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Sulawesi Tengah mencatat, gempa yang berlangsung kurang dari satu menit itu, mengakibatkan 4.845 orang hilang dan meninggal dunia. Sebanyak 1.016 orang dikubur massal. Gempa yang disusul tsunami dan likuefaksi merusak sedikitnya 103.710 rumah dan 6.504 hilang. Ratusan ribu orang mengungsi. Kementerian Kesehatan juga punya catatan. Lebih dari 4 ribu orang luka berat (rawat inap) dan 83 ribu orang mengalami luka ringan (rawat jalan).

Tina bersyukur semua anggota keluarganya selamat, meskipun sekarang terpaksa tingal di tenda karena rumahnya rubuh. Usaha fotokopi juga terhenti.

“Untunglah sekarang suami saya sudah bekerja di perusahaan. Tapi, saya masih trauma kalau mengingat kejadian itu. Apalagi kalau terjadi lagi gempa, walaupun gempa kecil,” kata Tina.

I Putu Ardika Yana, seorang psikolog di Kota Palu mengatakan, bencana alam bisa memicu ganggunan mental emosional seperti cemas dan ketakutan. Berdasarkan riset Badan Kesehatan Dunia (WHO), ada 4 persen yang mengalami gangguan jiwa akibat bencana. Ada yang segera sembuh, tapi ada pula yang berkelanjutan.

“Kalau sampai enam bulan masih tetap merasa cemas, takut, tertekan, maka itulah yang disebut trauma. Kondisi itu perlu penanganan,” kata Putu Ardika ditemui di Palu, Jumat 31 Januari 2020.

Seperti kasus yang ditemukan oleh Rini Junita di Desa Sidera Kabupaten Sigi, baru-baru ini. Rini Junita, juga psikolog di Kota Palu bertemu dengan seorang perempuan dengan kondisi memprihatinkan.

“Kasusnya di Sidera. Ibu itu masih merasakan ketakutan, takut pada gelap atau suara guntur. Itu terasosiasi dengan gempa, langit seolah-olah mau runtuh. Bunyi ‘tek’ juga, terasa seperti goncangan gempa. Dampaknya tidak bisa tidur, tidak nyaman, sering tiba-tiba marah pada suaminya,” ungkap Rini Junita.

Rini Junita yang disapa Juju mengatakan, gangguan jiwa memang bertingkat.

“Dari mental emosional dulu, kemudian gangguan perilaku, kemudian tidak bisa kontak secara sosial, kemudian tidak sadar secara realitas. Nah, itu yang paling parah kalau sudah tidak bisa kontak sama realitas, banyak di jalan-jalan, harus ditangani dokter, bukan lagi psikolog. Harus dirawat di rumah sakit jiwa,” katanya.

Menurut Putu Ardika, patut diwaspadai adalah depresi sangat tinggi karena bisa menjadikan tidak produktif walaupun diberikan lifelihood (mata pencaharian) atau disentuh dengan program peningkatan ekonomi lainnya. Karena itu, harus segera ditangani oleh psikolog.

“Depresi tinggi atau mayor, dekat sekali dengan bunuh diri,” katanya.

Seperti yang terjadi di salah satu hunian sementara (huntara) di Kota Palu. Seorang penghuninya ditemukan meninggal dunia dengan posisi tergantung pada Selasa (26/3/2019) atau enam bulan pascabencana. Orang tua korban kepada wartawan mengatakan, anaknya memendam kesedihan mendalam akibat neneknya meninggal pada kejadian likuefaksi.

Sebuah artikel yang dipublikasikan Kementerian Kesehatan melalui laman resminya pada 7 Oktober 2019, Sekretaris PP Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dr. Agung Frijanto mengatakan konsekuensi seseorang apabila depresi tak tertangani maka akan meningkatkan risiko bunuh diri.

Gejala depresi dapat dilihat dari 3 aspek, antara lain afek, kognitif, dan fisik. Gejala depresi pada Afek dapat ditandai dengan sedih, hilangnya minat, iritabilitas, apatis, anhedonia, tak bertenaga, tak bersemangat, isolasi social, dan aniestas. Secara kognitif dapat dicirikan dengan rendah diri, konsentrasi menurun, daya ingat menurun, ragu-ragu, rasa bersalah, ide bunuh diri. Selain itu, secara fisik dapat dilihat dari psikomotor menurun, fatigue, gangguan tidur, gangguan nafsu makan, dan hasrat seksual menurun.

Oleh karena itu, ketika merasa memiliki gangguan kesehatan mental disarankan segera berkonsultasi ke psikolog. Saat ini, sebuah lembaga yakni sejenakhening.com bekerja sama dengan Yayasan Caritas Germany memberikan pelayanan konsultasi psikolog di dua puskesmas di Sigi yakni Puskesmas Biromaru dan Puskesmas Dolo.

Skizofrenia Meningkat

Sepanjang tahun 2019 kasus Skizofrenia di Padagimo meningkat tajam menjadi 2.503 orang. Apakah kondisi itu terkait dengan bencana alam yang terjadi pada 20 September 2018? Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Palu, Lutfiah mengatakan, sampai saat ini belum ada hasil riset mengenai dampak bencana di Kota Palu terhadap kesehatan mental, termasuk kasus Skizofrenia. Ada yang melakukan riset, kata dia tapi pihaknya belum mengetahui hasilnya.

Jika mengacu pada data Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah, kasus Skizofrenia sepanjang tahun 2019 di Padagimo mengalami peningkatan signifikan dibandingkan 2018 atau sebelum bencana. Data Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah, kasus Skizofrenia di Padagimo Pada 2018 masih 954 jiwa, namun sepanjang 2019 meningkat tajam menjadi 2.503 orang.

Uraiannya di Kabupaten Sigi terdapat 1.056 orang mengalami Skizofrenia, Donggala (554 orang), Parigi Moutong (810 orang), dan Kota Palu (83 orang). Kecuali Palu, tiga kabupaten mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2018, terutama di Kabupaten Sigi.

Hanya saja, data tersebut bukan untuk menunjukkan hubungan antara bencana alam dengan munculnya kasus Skizofrenia, meskipun jumlah tersebut merupakan data 2019 atau pascabencana. Sebab itu tadi, belum ada hasil riset mengenai hubungan dua variabel tersebut. Lagipula, sebelum gempa, tsunami dan likuefaksi terjadi, prevalensi Skizofrenia di Sulawesi Tengah sudah cukup tinggi.

Laporan Riskesdas Kemenkes tahun 2018, di Sulawesi Tengah prevalensi rumah tangga yang mempunyai anggota rumah tangga (ART) yang mengalami gangguan jiwa skizofrenia atau psikosis 8,2 permill. Artinya, terdapat sembilan rumah tangga setiap 1.000, memiliki anggota keluarga mengalami gangguan jiwa Skizofrenia/Psikosis.

Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular, Kesehatan Jiwa/ Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif, Dinas Kesehatan Sulteng Fransesca Rasubala mengatakan, beberapa program telah dilaksananakan sepanjang 2019 kaitannya dengan kesehatan jiwa. Di antaranya, kata dia pelatihan deteksi dini dan penatalaksanaan gangguan jiwa bagi dokter dan perawat di Puskesmas. Selain itu, juga dilakukan home visit pada ODGJ dengan pendekatannya ke keluarga pasien.

“Diharapkan, keluarga pasien yang melanjutkan kontrol kesehatan terhadap ODGJ pasca rujuk rumah sakit jiwa,” ujar Pengelola Program Kesehatan Jiwa dan Napza Dinas Kesehatan Sulteng, Karlina Rasyid. (bersambung/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here