Home Palu

Belajar dari Jepang, Bangun Ketangguhan Mental di Daerah Bencana

223
Salah satu kegiatan yang dilaksanakan Sejenakhening.com bekerja sama dengan Yayasan Caritas Germany di Kabupaten Sigi. (Foto: Dok. Sejenakhening.com)
  • Mitigasi Bencana Berbasis Psikologis (Bagian 2-Habis)

Cemas pascabencana adalah gejala normal di tengah situasi yang tidak normal. Tapi jika sampai enam bulan belum membaik, maka itulah yang disebut trauma. Perlu segera ditangani oleh ahlinya.

I Putu Ardika Yana, psikolog di Kota Palu mengatakan, sudah saatnya mitigasi bencana berbasis psikologis. Sampai saat ini, kata dia kedaruratan jiwa diabaikan ketika terjadi bencana alam. Mitigasi, masih seputar bagaimana bikin bangunan yang kuat antigempa. Masih sibuk dengan sosialisasi bagaimana menghindari tempat yang rawan.

“Jika terjadi gempa dimana jalur evakuasinya, jika bencana kita siapkan tim di rumah sakit. Lupa mitigasi kesehatan jiwa,” kata Putu Ardika ditemui di Palu, Jumat 31 Januari 2020.

Padahal, lanjutnya, “Sejak lama Kemenkes punya petunjuk berbasis psikologis kedaruratan bencana, tapi tidak sinkron dengan aturan BNPB”.

Jepang, kata dia patut dicontoh dalam menghadapi bencana alam. Negara itu telah membangun ketangguhan mental warganya. Sehingga, ketika dilanda tsunami beberapa tahun lalu, hampir tidak ditemukan kejahatan-kejahatan sosial di sana.

“Karena yang mereka bangun bukan lagi fisik resiliensinya. Mereka sudah bergerak membangun ketangguhan jiwa,” katanya.

Berbeda dengan yang terjadi di Kota Palu dan sekitarnya saat bencana 28 September 2018. Berapa hari setelah bencana sudah terjadi kecemasan yang ditandai dengan kekacauan hingga penjarahan dan diperparah dengan berbagai informasi keliru.

“Kita tidak tahu ilmu bencana, tidak ada kepastian. Cemas, termasuk yang mengungsi bagian dari kecemasan. Memang wajar cemas, tapi bisa kendalikan atau tidak?” katanya.

Bencana alam juga secara tidak langsung memberikan sumbangsih terhadap kriminalitas apalagi warga yang hidup secara komunal di pengungsian. Kejahatan seksual dan kekerasan terhadap anak misalnya, salah satu pemicunya karena masalah kesehatan jiwa.

“Mungkin tidak langsung, tapi punya sumbangsih,” ujarnya.

Sama halnya dengan pengguna narkoba yang diawali dengan masalah kejiwaan.

“Dia punya masalah dulu. Tidak ada juga orang sehat-sehat, sejahtera, punya istri, tiba-tiba cari narkoba. Memang dipakai buat senang-senang karena merasa tidak senang,”ujarnya.

Salah satu pemicu masalah kesehatan mental pascabencana adalah ekonomi.

“Setelah bencana stres dengan ekonomi. Pikir, rumah hancur. Tidak makan jadi sakit fisik, akhirnya sakit jiwa. Atau pascabencana, patah kaki, tidak bisa kerja, stres. Atau ada keluarga meninggal yang merupakan tulang punggung ekonomi. Atau ada yang terganggu jiwa duluan,” katanya.

Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya konsultasi kesehatan mental pascabencana. Masalahnya, di puskesmas di Kota Palu belum ada tenaga psikolog. Perlu, kata dia mengubah stigma masyarakat tentang orang yang konsultasi adalah orang yang sakit jiwa. Psikolog, kata dia menangani orang yang mengalami gangguan emosi, perilaku, kecemasan, depresi, hingga masalah susah tidur.

Sudah saatnya mitigasi berbasis psikologis, seperti yang dilakukan Jepang.

“Mindset si pemilik kebijakan, apakah Dinas Kesehatan merasa bahwa kesehatan jiwa bagian dari kesehatan keseluruhan atau tidak. Sepanjang masih melihat kesehatan cuma kesehatan fisik, pasti dananya untuk kesehatan jiwa kecil,” ujarnya.

Sejenakhening.com bekerja sama dengan Yayasan Caritas Germany telah memulainya dengan melakukan intervensi di sejumlah desa di Kabupaten Sigi. Novi Inriyanny, selaku Project Manager mengatakan, program ketahanan mental dipusatkan di dua puskesmas yakni Biromaru dan Dolo. Dia bersyukur karena program ini didukung oleh Pemerintah Kabupaten Sigi demi kebaikan warganya.

Putu Ardika yang founder Sejenakhening.com mengatakan, program tersebut dilaksanakan di empat desa di Kabupaten Sigi yakni Desa Sidera, Karawana, Soulove (Kecamatan Sigi Biromaru), dan Potoya (Kecamatan Dolo). Program ini berangkat dari kekhawatiran terhadap kesehatan mental pascabencana di daerah tersebut.

Buktinya, hasil survei terhadap 425 orang di empat desa intervensi tersebut ditemukan 31 orang (7 persen) mengalami gangguan kecemasan dengan kategori sangat tinggi, tinggi 37 orang (9 persen) dan 141 orang sedang (33 persen). Sedangkan yang mengalami depresi sangat tinggi ditemukan 8 orang, tinggi (41 orang), dan sedang 70 orang.

Rini Junita, salah satu tenaga psikolog yang bekerja untuk program tersebut sejak 6 Januari 2020. Alumnus Universitas Padjadjaran ini ditugaskan di Puskesmas Biromaru, Kabupaten Sigi. Belum sebulan melaksanakan program tersebut di sana, sudah ada 20 pasiennya. Memang, kata dia tidak semua yang berkonsultasi mengalami masalah kesehatan mental akibat bencana gempa bumi. Begitu pula temuan Indri Sutrisna psikolog yang ditugaskan di Puskesmas Dolo.

Kepala Dinas Kesehatan Sulteng, Reny A Lamadjido mengatakan, berbagai program telah dilaksanakan untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa di Sulawesi Tengah, termasuk para penyintas bencana alam 2018 silam. Dari sisi pelayanan kesehatan fisik, korban yang sakit atau mengalami luka-luka saat bencana sudah ditangani.

“Jelas ada, orang yang dulunya bekerja, mungkin patah tulang atau dikeluarkan dari pekerjaan, otomatis depresi,” ujarnya ditemui di kantonya, Senin 3 Februari 2020. (*)

Reporter: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas