Home Ekonomi Pembiayaan Kredit Plus Terjun Bebas

Pembiayaan Kredit Plus Terjun Bebas

222
Hendra. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)

Palu, Metrosulawesi.id – Pascabencana alam gempa bumi, tsunami dan likuefaksi 28 September 2018 silam. Penyaluran pembiayaan dari PT Finansia Multi Finance atau Kredit Plus Cabang Palu mengalami penurunan yang cukup besar atau dalam istilah dikenal dengan terjun bebas.

Hal ini diungkapkan langsung Pimpinan Kredit Plus Cabang Palu, Hendra kepada Metrosulawesi, Sabtu (8/2/2020). Pihaknya banyak mengalami kerugian khususnya masalah pembayaran kurang lebih Rp9 miliar.

“Kami melakukan operasional pascabencana pada bulan Desember 2018, itupun belum ada aktifitas penagihan masih sebatas pendataan nasabah,” ungkapnya.

Selanjutnya, kata Hendra, pada periode 2019 jika dihitung jumlah keuangan turun sampai Rp2 miliar lebih dalam sebulan. Ia mengungkapkan konsumen yang bermohon untuk pembiayaan kredit baru itu cukup banyak. Namun, kebanyakan dari mereka terkendala dengan nama yang masuk dalam daftar hitam (black list).

“Turun sekali penjualan kita di tahun kemarin. Sudah banyak konsumen yang ingin mengambil kredit baru, tapi masalahnya lebih banyak lagi konsumen belum membayar. Makanya, kami masih tahan karena itu diakibatkan mereka sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, para konsumen saat dilakukan penagihan banyak yang beralasan. Sementara dari pihak Kredit Plus Cabang Palu telah menghimbau ke nomor telepon nasabah melalui pesan singkat bahwa ada keringanan pembayaran untuk hutang pokok diberikan diskon 50%. Sedangkan, bunga dan denda semua dihapuskan 100%.

“Ada yang bilang unit rusak dan ada juga unit hilang. Jadi kami serba salah otomatis nama mereka sudah tidak bisa diberikan pinjaman kredit. Kita sudah kasih keringanan cukup besar, tapi nasabah sendiri yang tidak mau membayar kurang lebih sekitar 8 ribu nasabah,” ujarnya menambahkan.

Bahkan, Hendra mengungkap sebelum adanya pemberitahuan tersebut, pihaknya juga memberikan rescheduling kepada nasabah selama 14 bulan atau 1 tahun 2 bulan yang terhitung dari pascabencana.

“Begitu habis rescheduling, dilanjutkan dengan program keringanan 50% dan hapus denda. Tapi, tidak ada berdampak baik untuk kita dan tetap saja sama. Untuk kendaraan kami belum melakukan penjualan, hanya khusus barang elektronik dan furniture,” jelasnya.

Selain itu, omset pendapatan yang diraup 2018 hanya mencapai Rp700 juta. Sedangkan, ia menyebutkan pada 2019 jika dihitung dari Januari – Desember kurang lebih hanya sekitar Rp1,7 miliar.

“Tahun lalu kita belum ada penentuan target karena kondisi ekonomi pascabencana tidak stabil. Tapi, kalau sebelum gempa target sampai Rp5 miliar,” katanya.

Di tahun 2020, untuk menggenjot pembiayaan Kredit Plus Cabang Palu menawarkan program cukup bayar Downpayment (DP) Rp200 ribu nasabah bisa bawa pulang handphone.

“Itu tanpa survei nasabah hanya membayar Rp200 ribu saja. Omset bulan lalu cukup lumayan Rp2,3 miliar khusus untuk elektronik. Kami berharap tahun ini omset penjualan bisa mencapai seperti tahun sebelum bencana,” tuturnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here