Home Artikel / Opini Ubah Bencana Jadi Berkah

Ubah Bencana Jadi Berkah

109
Hasanuddin Atjo. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)
  • Oleh: Dr Hasanuddin Atjo*

TIDAK seorang pun yang suka dengan bencana,  dan tidak seorang pun bisa menghindar bila bencana itu datang.  Karena itu semuanya harus bisa mempersiapkan diri, bisa adaptif dan bahkan bisa  “bersahabat“ dengan bencana, agar tetap menjadi bagian dari isi planet ini.

Ada tiga klasifikasi bencana berdasakan penyebabnya.  Pertama, bencana yang disebabkan oleh faktor alam, kedua bencana non alam dan ketiga bencana yang disebabkan oleh faktor sosial. 

Bencana yang  disebabkan oleh faktor alam antara lain  banjir, gempa, tsunami, liquafaksi dan lain-lain.  Sedangkan bencana  non alam  terkait dengan gagal teknologi seperti jembatan runtuh, bangunan ambruk karena tidak sesuai spek; pengaruh modernisasi yang membuat banyak pengangguran seperti tergantikannya sejumlah transaksi  manual oleh digital, wabah dan epidemi penyakit seperti Novel Coronavirus ( 2019-nCov) yang mematikan di Huan China yang lagi marak saat ini, dan membuat sejumlah  negara  menjadi waspada dan ketar-Ketir karena kemungkinan penyebarannya.

Selanjutnya bencana sosial adalah yang terkait dengan konflik sosial horisontal antar kelompok atau antarkomunitas, konflik vertikal sampai dengan kasus teror dan radikalisme.

Jepang adalah negeri yang dominan dipengaruhi oleh bencana alam,  terutama gempa bumi dan tsunami.  Akibat tekanan bencana yang begitu dahsyat membuat masyarakat Jepang termotivasi untuk mengembangkan inovasi-teknologi bagaimana bisa hidup dan maju di wilayah yang sangat berpotensi gempa dan tsunami. 

Mereka berpikir  tidak mungkin mereka harus meninggalkan wilayahnya.  Dan pilihannya bagaimana bisa bersahabat dengan bencana.

Jepang mampu mengubah bencana menjadi berkah.  Kini mereka menjadi negara dengan SDM yang tangguh, daya saing yang tinggi yang pada akhirnya menjadi negara maju  dan berpendapatan tinggi.

Kejadian gempa bumi  beramplitudo 9.0 di Maret 2011 dan pasang Tsunami  sekitar 10 m tercatat sebagai bencana alam terbesar di Jepang membuat sejumlah wilayah di bagian timur porak-poranda.

Namun dengan ketangguhan SDM , dan inovasi teknologi yang mereka miliki, mereka dapat membangun kembali dengan konsep kebih baik lagi, dengan semboyan “back built better”.  Bahkan pengalaman mereka beradaptasi dan menangani dampak bencana telah ditularkan ke sejumlah negara.

Indonesia, termasuk Sulawesi Tengah merupakan  wilayah yang memiliki tiga potensi bencana itu , baik disebabkan oleh alam, non alam  dan sosial.

Kalau mengambil contoh  dari Jepang tadi dengan satu gangguan bencana saja, mereka termotivasi luar biasa untuk mengembangkan SDM, dan mengembangkan inovasi/teknologi.  Pertanyaan kemudian bagaimana kalau mereka menghadapi tiga jenis bencana itu.  Apakah mereka akan kebih baik lagi.

Hasil diskusi dengan beberapa ekspert Jepang mengemukakan bahwa sesungguhnya manusia itu diberikan kelebihan berupa  tekad dan potensi untuk bisa eksis dalam  hidup dan mengelola wilayahnya.  Semakin besar tekanan yang diterima, maka  tekanan balik berupa motivasi dan semangat itu semakin besar lagi.  

Analog dengan analisis itu, tentunya Masyarakat Sulawesi Tengah umumnya dan khususnya  wilayah Padagimo, Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong  akan memiliki potensi motivasi yang kebih besar karena besarnya tekanan.  Apakah demikian?

Hasil diskusi dengan ekspert tersebut, kami sepakat bahwa kepemimpinan di masing-masing wilayah menjadi “key succes” atau faktor yang menentukan.  Pemimpin adalah sumber energi yang paling kuat.  Mao Che Tung, Lee Kuan You adalah dua contoh pemimpin yang berkarakter kuat untuk hal-hal  itu.  Karena itu  pemimpin yang adaptif, inovatif dan update sangat-sangat dibutuhkan.

Provinsi Sulawesi Tengah di 2020 akan melaksanakan Pilkada untuk melahirkan Gubernur dan beberapa bupati/walikota.  Diharapkan yang terpilih adalah yang mampu mengubah bencana menjadi berkah, merubah tantangan menjadi peluang yang berujung kepada kemajuan.

Apalagi ibu kota negara akan di pindahkan ke Kalimantan Timur  dan Sulawesi Tengah dapat berperan sebagai  (1) Jembatan penghubung dengan kawasan timur Indonesia melalui tol “Tambu-Kasimbar”,  (2) Sebagai penyangga pangan, tenaga kerja, baterai lithium, bahan precast/pracetak bahkan air bersih, (3) Sulawesi Tengah dapat menjadi destinasi wisata oleh warga ibu kota. Keterpilihan pemimpin yang sesuai harapan, yang  mampu mengubah bencana menjadi berkah, tantangan menjadi peluang berpulang kepada pemilik hak suara, partai pengusung dan penyelenggara Pilkada.  Diharapkan ketiganya tidak akan salah pilih.  SEMOGA. (*Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulteng)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here