Home Artikel / Opini Pasang Surut Perang Dagang AS-Tiongkok

Pasang Surut Perang Dagang AS-Tiongkok

89
Moh. Ahlis Djirimu. (Foto: Ist)
  • Oleh: Moh. Ahlis Djirimu*

PERANG dagang merupakan dinamika dua kutub yakni kutub integrasi ekonomi melalui semangat perdagangan bebas dan kutub proteksionisme berbasis pada semangat kedaulatan ekonomi nasional. Perang dagang berada pada kutub proteksionisme.

Perang dagang merupakan fenomena sering terjadi dalam perekonomian global walaupun ada organisasi perdagangan dunia (WTO) yang bertindak mengawasi proses menuju berdagangan bebas. Pengalaman perang dagang Amerika-Jepang pada era Presiden Ronald Reagen pada tengah dekade 1980an, kedua negara sama-sama buntung.

Trumponomic atau ide kebijakan ekonomi Presiden Trump telah mengindikasikan akan mengarahkan perekonomian Amerika Serikat (AS) pada kutub proteksionisme. Indikasinya adalah memburuknya hubungan dagang AS-Tiongkok mengarah pada perang dagang. Pemerintahan AS mengenakan tarif impor sebesar US$ 50-US$ 60 milyar atas sejumlah produk Tiongkok yang hendak masuk ke wilayah kepabeanan AS.

Selanjutnya, bea masuk dikenakan pula sebesar 15 persen pada baja dan 10 persen pada aluminium. AS juga membatasi investasi dan mengadukan Tiongkok pada WTO karena melakukan unfair trade dalam perdagangan bilateral. Tiongkok melakukan balasan atas kebijakan AS tersebut dengan menaikkan tarif impor hingga 25 persen pada produk impor AS sekaligus mengadukan AS pada WTO.

Praktek dagang Tiongkok memang berpotensi tidak adil (unfair) karena Tiongkok menjadi tertuduh mencuri Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) meretas jaringan komputer yang merugikan AS ratusan milyar $. Perusahaan multinasional yang hendak beroperasi di Tiongkok harus bermitra dengan perusahaan lokal Tiongkok yang mewajibkan transfer teknologi agar dapat ditiru oleh mitra lokalnya lalu memutuskan secara sepihak kemitraan tersebut bila perusahaan lokal Tiongkok telah mendapatkan teknologinya. Selain itu, investasi Tiongkok di AS diarahkan pada sektor industri strategis. Trumponomic memberlakukan kebijakan klasik infant industry argumentatau alasan industri yang masih rapuh untuk melindung dunia industri manufaktur AS melalui pengenaan tarif baja dan aluminium untuk menurunkan defisit neraca dagangnya hingga US$ 100 milyar.

Kebijakan Trump ini sebenarnya, memercik air di dulang terkena wajah sendiri karena produk-produk pertanian AS banyak bergantung pada pasar Tiongkok lalu tindakan balasan dari Tiongkok adalah pemboikotan produk-produk AS. Tanda-tanda menuju ke arah ini telah terlihat. Pasar bereaksi negatif terhadap Trumponomicmenyebabkan bursa saham AS mengalami kontraksi. Bagi Tiongkok, kebijakan Trumponomic ini mendorong kelesuan ekonomi karena ekspor Tiongkok menjadi lebih rendah sehingga menekan pertumbuhan PDB Tiongkok terkontraksi. Para produsen elektronik, pakaian dan produk RT pada umumnya akan terganggu. Trumponomic ini menghambat kebijakan Tiongkok “Made in China 2025” yakni kebijakan yang mengarahkan roadmap industri pengolahan Tiongkok menuju industri inovatif berbasis sains dan teknologi. Ada tujuh industri yang terdampak yakni teknologi informasi, robotika, pesawat terbang, industri galangan kapal dan kelautan, perkeretaapian, bahan bakar terbarukan serta obat-obatan.

Bagi perekonomian global, trade war ini akan menimbulkan perlambatan perekonomian dunia. Selain menerapkan kebijakan pengenaan tarif impor pada Tiongkok, AS mengenakan tarif impor juga pada negara-negara mitra dagangnya seperti Uni Eropa, Argentina, Australia, Brazil, Kanada, Meksiko dan Korea Selatan. Kebijakan AS ini tentukan akan mendapat balasan dari negara mitra dagangnya. Perang dagang yang dipicu oleh AS ini dapat dibagi atas empat tahap.

Pertama, AS memberlakukan tarif impor baru cukup tinggi pada produk-produk impor asal negara-negara mitra dagangnya.

Kedua, negara-negara mitra dagang akan bereaksi melakukan tindakan yang sama pada produk-produk AS ke negara mitra dagang AS.

Ketiga, perekonomian global akan menuju pada era perang dagang.

Keempat, terjadi perang dagang yang sesungguhnya melibatkan banyak negara dan mempengaruhi perekonomian global. Volume perdagangan dunia akan melambat dan hal ini sesuatu yang tidak diharapkan akan terjadi karena akan mempengaruhi semua negara tidak terkecuali AS. Mata rantai pasokan global (global supply chain) terganggu sehingga perusahaan multinasional harus menghitung lagi jalur produksi, jalur distribusi dan biayanya. Dalam kondisi demikian, setiap negara, produsen, konsumen harus siap berada pada titik keseimbangan baru yakni kelesuan ekonomi.

Usaha untuk meredakan ketegangan dalam perang dagang bukannya tidak dilakukan. Negosiasi kompromi terus dilakukan karena menyadari dampak merugikan tidak saja bagi AS dan Tiongkok, tetapi bagi semua negara. Kebijakan penurunan tarif impor mobil dan melindungi kekayaan intelektual orang asing di Tiongkok ditempuh Pemerintah Tiongkok. Tiongkok memilih mengendurkan perang dagang agar ekskalasinya cooldown.

Dalam konteks perdagangan Indonesia, ancaman proteksionisme Trumponomic bila minyak sawit terkena tarif di pasaran AS. Sebaliknya, Indonesia dapat mengurangi impor kedelai, jagung dan gandum dari AS selain mengurangi pembelian pesawat buatan AS. Sedangkan terhadap Tiongkok, neraca dagang Indonesia selama ini selalu mengalami defisit. Indonesia menjadi satu-satunya dengan anggota ASEAN yang neraca dagangnya defisit dengan Tingkok mencapai US$13,39 milyar sepanjang Tahun 2017. Ekspor Indonesia ke Tiongkok hanya mencapai US$ 21,32 milyar. Sebaliknya, hal yang patut dikhawatirkan adalah Indonesia kebanjiran produk-produk Tiongkok yang dapat menimbulkan de-industrialisasi di Indonesia sehingga dapat menghancurkan UMKM Indonesia.

Perang dagang dapat menguntungkan bagi Indonesia bila dapat menfaatkan peluang yang tersedia. Penetrasi pasar bagi produk-produk Indonesia menggantikan produk-produk asal AS yang terkena bea masuk. Sayangnya, Vietnam, Thailand dan Kamboja memanfaatkan peluang ini. Alternatif pasar baru dan diplomasi dagang dapat dilakukan menggantikan pasar tradisonal yang selama ini menjadi tujuan ekspor kita seperti Asia Selatan, Eropa Timur, Afrika Timur, Timur Tengah dan Amerika Selatan dapat menjadi tujuan pasar potensial Indonesia. Kerjasama Ekonomi regional antar blok perdagangan seperti dengan South Asian Regional Economic Cooperation (SAARC), Mercado Commun del Sur (America Latin), Gulf Cooperation Council (6 negara kawasan teluk Arab), East African Common Market. (*Pengajar Fakultas Ekonomi & Bisnis Untad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here