Home Ekonomi Pascabencana, 25 Titik Geowisata di Teluk Palu

Pascabencana, 25 Titik Geowisata di Teluk Palu

108
I Nyoman Sriadijaya. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)
  • Kadispar: Cikal Bakal Jadi Geopark Nasional

Palu, Metrosulawesi.id – Musibah gempa, tsunami dan likuefaksi yang melanda Pasigala (Palu, Sigi dan Donggala) pada 28 September 2018 lalu melahirkan sejumlah potensi wisata geologi di sejumlah titik.

Kepala Dinas Pariwisata Sulteng, I Nyoman Sriadijaya, mengungkapkan, potensi itu diharapkan pada tahun ini dapat ditetapkan sebagai warisan geologi.

“Ada 25 titik geowisata yang akan kita bangun dan menjadi cikal bakal akan ditetapkan sebagai geopark nasional,” kata I Nyoman, di Palu, Rabu, 22 Januari 2020.

Nyoman mengatakan, di Teluk Palu setidaknya terdapat 25 titik geowisata. Yaitu mulai dari jalan Dipenogoro, Jalan Cemara, termasuk dari Tanjung Karang, pantai Talise, Mamboro, kemudian hingga di Sibedi, serta wilayah Petobo, Balaroa, Saluki, Sibalaya, dan lainya.

Ke-25 titik geowisata itu belum lama ini telah dimasukkan di Kementerian SDM untuk ditetapkan sebagai warisan geologi. Apabila sudah ditetapkan maka melalui surat edaran Gubernur Sulteng akan disampaikan kepada Bupati dan Wali Kota, yang memiliki potensi keunikan dari sisi geologi ini agar membangun kawasan itu dengan memberdayakan masyarakat setempat, melalui kampung wisata.

“Karena kelurahan di kota dan di desa mungkin menjadi desa wisata. Hal ini menjadi cikal bakal untuk mensuport prioritas pembangunan pariwisata Sulteng, sebagaimana rencana induk pembangunan pariwisata Sulteng berdasarkan Perda Nomor 5 tahun 2019. Prioritasnya adalah kawasan Lore Lindu dan kawasan Kepulauan Togean,” jelasnya.

I Nyoman mengatakan, kedua kawasan itu menjadi prioritas karena selama ini Lore Lindu saat ini menjadi incaran perguruan tinggi manca negara, selain itu melahirkan doktor atau ilmuan-ilmuan pengembangan wisata minat khusus.

“OJK juga sudah turun tangan untuk membantu ekonomi di kawasan Lore Lindu, dengan memberdayakan masyarakat untuk mengembangkan industri kreatif, dengan logo cagar biosfer. Namun dimanapun cagar biosfer seperti di luar negeri yang sempat kami kunjungi basic-nya adalah pemberdayaan masyarakat atau desa wisata yang perlu dikembangkan,” ujarnya.

Tetapi kata I Nyoman, ketika musibah orang berfikir pariwisata Sulteng sudah hancur total, padahal hanya sebagian kecil saja yakni di Padagimo.

“Kita masih punya pintu masuk kunjungan wisata dari wilayah timur yakni Luwuk, di tahun kemarin 150 ribu kunjungan wisatawan Cina yang ada di Sulawesi Utara sepertinya sudah jenuh, sehingga kemarin sudah dibangun komunikasi dengan pemerintah Kab. Luwuk, dimana wisman Cina itu juga bisa masuk ke Luwuk sebagai pintu masuknya wisatawan selain Palu, juga wilayah Timur,” katanya.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Udin Salim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here