Home Ekonomi

Indeks Pariwisata Sulteng Perlu Diperjelas

248
Kadis Pariwisata Sulteng I Nyoman Sriadijaya, saat membuka Diseminasi Hasil Penelitian Indeks Daya Saing Pariwisata Provinsi Sulteng, di salah satu hotel di Palu, Rabu (22/1/2020). (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)

Palu, Metrosulawesi.id – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah, menggelar Diseminasi Hasil Penelitian Indeks Daya Saing Pariwisata Provinsi Sulteng, di salah satu Hotel di Palu, Rabu, 22 Januari 2020.

Mewakili Kepala Perwakilan BI Sulteng, Kepala Fungsi Data Statistik Ekonomi dan Keuangan, Rivo Mandey, mengungkapkan, kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama antara BI Sulteng dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Sulteng.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah, untuk mengukur sejauh mana angka indeks pariwisata Sulteng, sehingga jika kita ingin membandingkan atau melihat perkembangan pariwisata di Sulteng bisa jelas,” kata Rivo.

Menurut Rivo, jika sudah diketahui indeks pariwisata misalnya masuk di angka 70, BI Sulteng bisa membuat rencana apa yang perlu dilakukan, dalam memperbaiki indeks pariwisata. Dan juga secara angka dan kuantitatif bisa diukur bagaimana perkembangan pariwisata sebenarnya di Sulteng.

“Kami dari BI berinisiatif beberapa waktu lalu melakukan kerjasama dengan ISEI Sulteng, untuk membuat semacam penelitian terkait pariwisata, sebab kami merasa butuh ada sebuah angka (indeks) yang akan menunjukan bahwa perkembangan Pariwisata Sulteng seperti apa,” ungkapnya.

“Jadi kita tidak perlu lagi berbicara mempunyai misalnya wisata Togean dan lainya, tetapi kita bisa mengukur indeks pariwisata,” katanya.

Rivo berharap, penelitian yang dilakukan bekerjasama dengan ISEI ini, dapat memberikan hasil yang sehingga pertumbuhan ekonomi Sulteng, khususunya dari sisi Pariwisata lebih baik lagi, dan dapat terdampak secara makro terhadap penduduk di Sulteng.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulteng, I Nyoman Sriadijaya, mengungkapkan, pariwisata sebagai industri gaya baru, yang diharapkan mampu menyediakan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam hal kesempatan kerja, pendapatan, taraf hidup, dan dalam mengaktifkan sektor produksi lain di dalam negeri.

“Peran pariwisata akan terwujud, jika pariwisata memiliki daya saing yang merupakan salah satu kriteria penentu keberhasilan pariwisata. Daya itu dapat mendorong produktivitas dan meningkatkan kemampuan mandiri, dapat meningkatkan kapasitas ekonomi, dan dapat menciptakan efisiensi,” jelasnya.

I Nyoman mengatakan, hanya bisa memperkirakan bahwa daya saing pariwisata masih terbilang rendah.

“Hal ini dikarenakan, masih banyak daya tarik obyek wisata kita belum memiliki tiga kriteria, yaitu something to see, something to do dan something to buy. Dan masih memiliki banyak kekurangan terkait elemen, yaitu aksesibilitas, atraksi, dan amenitas (3A), kriteria dan elemen tersebut belum dikelola dengan semestinya,” katanya.

Kata dia, dengan kondisi sekarang ini, tingkat kunjungan wisatawan di Sulteng masih sangat jauh dari provinsi Sulawesi Selatan maupun dengan provinsi Sulawesi Utara dan sebagainya.

“Oleh karena itu hasil kajian yang dilakukan oleh Bank Indonesia yang akan kita dengarkan bersama, dapat memperjelas dan memberikan petunjuk hal-hal yang perlu dibenahi dalam dunia pariwisata kita,” ujarnya.

I Nyoman berharap, hasil kajian diseminasi ini dapat merekomendasikan hal-hal yang perlu menjadi perhatian oleh pimpinan, baik oleh Gubernur Sulawesi Tengah maupun Bupati dan Wali Kota se-Sulteng, sehingga dapat mengintervensi dari sisi pembiayaan dan percepatan pembangunan kepariwisataan di Sulteng.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas