Home Ekonomi BI Sulteng Sudah Terbitkan 1.500 QRIS dari 7.000 Pemohon

BI Sulteng Sudah Terbitkan 1.500 QRIS dari 7.000 Pemohon

115
M Abd Majid Ikram. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)

Palu, Metrosulawesi.id – Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah menyebutkan saat ini ada tujuh ribu pemohon Quick Response Code Indonesian Standar (QRIS) dan sudah menerbitkan 1.500 QRIS.

Kepala Perwakilan BI Sulteng M Abd Majid Ikram mengatakan terus mengkampanyekan penggunaan QRIS di bank-bank maupun lembaga penyedia jasa.

“Bank-bank sudah banyak menggunakan QR Code dan diharapkan bisa segera bersinergi dengan QRIS Bank Indonesia,” kata Majid Ikram.

Bank Indonesia (BI) mewajibkan seluruh penyedia layanan pembayaran nontunai menggunakan sistem QRIS (Quick Response [QR] Code Indonesian Standard) pada 1 Januari 2020 mendatang.

Sebagaimana dikutip dari laman resmi Bank Indonesia di bi.go.id, disebutkan bahwa QRIS merupakan standar QR Code untuk pembayaran melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, atau mobile banking.

Setiap penyedia Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) berbasis QR (termasuk PJSP asing) wajib menggunakan QRIS. Ini diatur dalam ketentuan BI dalam PADG No.21/18/2019 tentang Implementasi Standar Internasional QRIS untuk Pembayaran.

Adanya QRIS juga diklaim sebagai salah satu pelaksanaan Visi Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) 2025.

Apa itu QRIS?

Harapannya dengan adanya QRIS, transaksi pembayaran bisa lebih efisien atau murah, inklusi keuangan di Indonesia lebih cepat, UMKM bisa lebih maju, dan pada akhirnya bisa dorong pertumbuhan ekonomi.

Kata BI, makna QRIS itu adalah:

UNiversal, yakni QRIS bersifat inklusif, digunakan untuk seluruh lapisan masyarakat dan bisa digunakan buat transaksi pembayaran di domestik dan luar negeri.

Gampang, yakni masyarakat bisa bertransaksi dengan mudah dan aman dalam satu genggaman ponsel.

Untung, yakni transaksi dengan QRIS menguntungkan pembeli dan penjual karena transaksi berlangsung efisien melalui satu kode QR yang bisa digunakan untuk semua aplikasi pembayaran pada ponsel.

Langsung, yakni transaksi dengan QRIS langsung terjadi, karena prosesnya cepat dan seketika sehingga mendukung kelancaran sistem pembayaran.

QRIS disusun oleh BI dan ASPI (Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia), yang menggunakan standar internasional EMV Co., yakni lembaga yang menyusun standar internasional QR Code untuk sistem pembayaran.

Jadi, tujuan adanya QRIS ini tak lain agar pembayaran digital jadi lebih mudah bagi masyarakat dan dapat diawasi oleh regulator dari satu pintu.

Bisa Bayar Pakai Aplikasi Apa Saja, ‘Scannya’ di QRIS

QRIS digadang sebagai ‘satu sistem untuk semua model pembayaran’. Maka, QRIS bisa digunakan di semua merchant yang kerjasama dengan PJSP seperti Link Aja, Gopay, OVO, DANA, Bukalapak, dan lainnya.

Karena sistem QR Code ini menggunakan Merchant Presented Mode (MPM), pengguna tinggal scan QR Code di QRIS yang ada di berbagai merchant yang menyediakan transaksi nontunai.

Dari penelusuran Cermati.com yang diunduh dari penjelasan BI, metode QRIS ini terdiri dari 2 media tampilan (display) yang ada di merchant yang menampilkan kode QR yang kemudian di-scan menggunakan ponsel konsumen, yakni:

  1. Statis: QR Code ditampilkan melalui stiker atau hasil cetak lain QR Code yang sama digunakan untuk setiap transaksi pembayaran QR Code belum mengandung nominal pembayaran yang harus dibayar, sehingga memerlukan input jumlah nominal.
  2. Dinamis: QR Code ditampilkan melalui struk yang dicetak mesin EDC/ditampilkan pada monitor QR Code yang berbeda dicetak untuk setiap transaksi pembayaran QR Code telah mengandung nominal pembayaran yang akan dibayar.

Salah satu gambarannya, sistem QRIS ini sama seperti ATM Bersama, semua kartu ATM dari berbagai bank penerbit kartu bisa digunakan di ATM Bersama ini. Itulah gambaran dari cara kerja QRIS.

Jadi, dengan sistem QRIS ini, bayar nontunai pakai aplikasi apa saja bisa cukup scan di satu QR Code, yakni QRIS.
Sebagai ilustrasi, begini cara kerja QRIS itu:

Katakanlah si A punya alat pembayaran GoPay, lalu si B punya OVO, si C punya DANA, dan si D punya LinkAja, serta lainnya. Mereka semua bisa transaksi pembayaran cukup scan pada QRIS di setiap merchant yang melayani pembayaran nontunai.

Artinya, jika si A hanya punya GoPay atau si B punya OVO, tak harus scan kode QR khusus GoPay atau harus scan kode QR OVO bagi pemilik aplikasi ini. Sesuai dengan slogannya ‘satu untuk semua’, apapun aplikasinya, scannya cukup di satu tempat, yakni QRIS.

Transaksi QRIS Dibatasi Maksimal Rp2 Juta

Dalam aturan pelaksanaan QRIS, batas nominal transaksi QRIS maksimal Rp2 juta per transaksi. Akan tetapi, penerbit (PJSP) bisa menetapkan batas nominal kumulatif harian dan/atau bulanan atas Transaksi QRIS yang dilakukan oleh masing-masing pengguna QRIS.

Penetapan batas nominal kumulatif itu dengan syarat penerbit punya pertimbangan manajemen risiko yang baik.

Namun, hingga artikel ini ditulis, belum ada aturan yang pasti berapa biaya administrasi dari transaksi nontunai menggunakan QRIS yang dibebankan pada merchant atau bisa disebut MDR (Merchant Discount Rate).

Tapi bank sentral Indonesia dalam aturan QRIS yang diterbitkan itu menyebutkan bahwa dalam penetapan skema dan biaya pemrosesan transaksi QRIS, BI dapat mempertimbangkan rekomendasi dari lembaga standar. BI telah membatasi MDR sebesar 0,7% dari transaksi.

Reporter: Pataruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here