Home Ekonomi September 2019, Penduduk Miskin Sulteng Mencapai 13,18%

September 2019, Penduduk Miskin Sulteng Mencapai 13,18%

131
Kepala BPS Sulawesi Tengah, Dumangar Hutauruk (kedua dari kiri) saat menggelar konferensi pers, Rabu (15/1/2020) di kantornya. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)

Palu, Metrosulawesi.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah mencatat, pada bulan September 2019, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Sulawesi Tengah mencapai 404,03 ribu orang (13,18 persen), berkurang sebesar 6,3 ribu orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2019 yang sebesar 410,36 ribu orang (13,48 persen).

“Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2019 sebesar 9,32 persen turun menjadi 8,90 persen pada September 2019. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2019 sebesar 15,26 persen turun menjadi 15,01 persen pada September 2019,” kata Kepala BPS Sulawesi Tengah, Dumangar Hutauruk pada wartawan, Rabu (15/1/2020).

Menurut Dumangar, selama periode Maret 2019-September 2019, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 3,3 ribu orang (dari 84,74 ribu orang pada Maret 2019 menjadi 81,46 ribu orang pada September 2019), sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 3,1 ribu orang (dari 325,62 ribu orang pada Maret 2019 menjadi 322,57 ribu orang pada September 2019).

“Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan),” katanya.

Sementara untuk sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan, kata Dumangar, pada September 2019 tercatat sebesar 76,65 persen. Kondisi meningkat dibanding Maret 2019 yaitu sebesar 76,35 persen.

“Jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan, adalah beras, rokok kretek filter, tongkol/tuna/cakalang, kue basah, gula pasir, telur ayam ras, cabe rawit, mie instan, dan bawang merah,” bebernya.

Sedangkan, untuk komoditi bukan makanan yang besar pengaruhnya adalah biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

Reporter: Pataruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here